Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Profil Prof. Dra. Supiana Dian Nurtjahyani, M. Kes, Kartini Modern dari Unirow Tuban: Menjaga Keseimbangan Ilmu dan Keluarga

Shafa Dina Hayuning Mentari • Selasa, 21 April 2026 | 15:06 WIB
Sebagai pendidik pertama bagi anak, pendidikan tinggi bagi wanita sangatlah krusial. Simak perjalanan Prof. Dian dalam mengabdi di dunia pendidikan selama tiga dekade.
Sebagai pendidik pertama bagi anak, pendidikan tinggi bagi wanita sangatlah krusial. Simak perjalanan Prof. Dian dalam mengabdi di dunia pendidikan selama tiga dekade.

RADARTUBAN - Momentum Hari Kartini kerap menjadi ruang refleksi bagi pe­rempuan Indonesia untuk me­ne­gas­kan peran dan eksistensinya.

Di lingkungan Universitas PGRI Rong­golawe (Unirow) Tuban, sosok Prof. Dr. Dra. Supiana Dian Nurtjah­yani, M. Kes. menjadi potret Kartini masa kini yang mengukir capaian akademik tinggi tanpa meninggalkan peran utama dalam keluarga.

Perempuan asal Kelurahan Sen­dangharjo, Kecamatan Tuban itu lahir dari keluarga yang lekat dengan dunia pendidikan dan ke­giatan sosial.

Dari lingkungan tersebut, dia tumbuh menjadi satu-satunya anggota keluarga yang meraih gelar guru besar, capaian tertinggi dalam karier akademik.

Perjalanan panjangnya dimulai sejak 1992, ketika dia menapaki profesi sebagai dosen. Lebih dari tiga dekade berkecimpung di dunia pendidikan, berbagai di­namika telah dia lalui.

Baca Juga: Ratusan Anak TK Soko dan Montong Unjuk Kreativitas di Festival Coding Kartini

Namun, baginya, setiap tantangan bukan­lah penghalang, melainkan do­rongan untuk terus berkembang.

Di balik capaian akademiknya, guru besar Unirow yang berdomisili di Ke­lurahan Ba­turetno, Kecamatan Tuban ini memandang pendidikan bagi perempuan memiliki makna yang lebih luas.

Dia menegaskan, pendidikan bukan semata untuk me­nge­jar jabatan, tetapi menjadi bekal utama dalam menjalankan peran sebagai pendidik pertama di keluarga.

“Wanita menempuh pendidikan itu sebenarnya untuk tugas fung­sinya sebagai sekolah pertama anak. Karena mau tidak mau, anak itu mengaca pada ibunya,” tutur akade­misi kelahiran 21 Mei 1968 itu.

RADAR TUBAN
RADAR TUBAN

Meski menyandang gelar aka­demik tertinggi, guru besar bidang Ilmu Biologi Unirow ini tetap me­nempatkan keluarga sebagai prio­ritas.

Sebagai istri dan ibu dari empat anak, dia berupaya menja­ga ke­se­imbangan antara peran do­mestik dan pro­fe­sional. 

Prin­sip pen­didi­kan Ki Hadjar De­wantara: Ing Ngarsa Sung Tu­la­dha, Ing Madya Ma­ngun Kar­sa, Tut Wuri Handa­yani, dia te­rapkan, tidak hanya di kampus, te­tapi juga di rumah.

“Harus bisa dipisahkan peran sebagai istri, ibu, dan juga pendidik di lingkungan kampus. Urusan rumah tidak dibawa ke pekerjaan, begitu pula sebaliknya. Kita harus bisa menjadi tempat pulang yang nyaman bagi anak-anak dan keluarga,” ujar perempuan yang menyelesaikan studi S-3 di Unair Surabaya itu.

Dalam keseharian, dia tetap menjalankan peran domestik, mulai dari menyiapkan kebutuhan keluarga hingga menjalani aktivitas sebagai guru besar dengan ber­bagai agenda akademik.

Di ruang kelas, Prof. Dian dikenal sebagai dosen yang menge­de­pankan pendekatan humanis. Dia membangun suasana belajar yang nyaman, tanpa menge­sampingkan ketegasan dalam aturan.

Baca Juga: Gebyar Hari Kartini dan Prestasi SMAN Grabagan, Bertumbuh Bersama Mewujudkan Generasi Unggul Masa Depan

“Dalam kontrak kuliah saya sam­paikan dari hati ke hati dan adil, tidak ada perbedaan aturan antara maha­siswa dengan dosennya. Tujuannya untuk membuat mereka nyaman. Jadi tetap fleksibel tapi tetap tegas,” kata pendidik yang lima tahun terakhir telah me­lakukan 26 penelitian itu.

Prof. Dian juga aktif melibatkan mahasiswa Unirow dalam pene­litian, se­bagai upaya menumbuhkan ke­mampuan berpikir kritis, menulis, dan berinovasi. Baginya, proses pembelajaran harus mem­beri bekal nyata bagi mahasiswa agar siap menghadapi dunia setelah lulus.

Rekam jejak akademiknya me­nunjukkan konsistensi tersebut. Sejumlah penelitian di bidang biologi dan kesehatan telah di­hasilkannya, di antaranya kajian resistensi bakteri hingga deteksi virus pada pendonor darah.

Dia juga terlibat dalam berbagai ke­giatan pengabdian masyarakat, mulai dari pelatihan hingga kon­servasi lingkungan serta 45 artikel publish di jurnal nasional ter­akreditasi Kemendiksaintek dan jurnal internasional bereputasi.

Sebagai akademisi berkompeten dari Unirow Tuban, Prof. Dian me­nekankan pentingnya pengem­bangan diri yang berkelanjutan. Menurutnya, dosen harus terus belajar agar mampu memberikan pembe­lajaran yang relevan dan berkualitas.

“Tugas wanita itu banyak dan harus multitalent. Apa yang bisa dikerjakan, kerjakan dengan penuh tanggung jawab. Mengalir saja secara alamiah, tidak usah me­ngeluh atau ngresulo, dan jangan hanya mengharapkan imbalan. Kita harus kuat menata diri, di mana pun peran kita berada,” tu­turnya. (saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #Unirow #hari kartini #Refleksi