RADARTUBAN - Momentum Hari Kartini kerap menjadi ruang refleksi bagi perempuan Indonesia untuk menegaskan peran dan eksistensinya.
Di lingkungan Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban, sosok Prof. Dr. Dra. Supiana Dian Nurtjahyani, M. Kes. menjadi potret Kartini masa kini yang mengukir capaian akademik tinggi tanpa meninggalkan peran utama dalam keluarga.
Perempuan asal Kelurahan Sendangharjo, Kecamatan Tuban itu lahir dari keluarga yang lekat dengan dunia pendidikan dan kegiatan sosial.
Dari lingkungan tersebut, dia tumbuh menjadi satu-satunya anggota keluarga yang meraih gelar guru besar, capaian tertinggi dalam karier akademik.
Perjalanan panjangnya dimulai sejak 1992, ketika dia menapaki profesi sebagai dosen. Lebih dari tiga dekade berkecimpung di dunia pendidikan, berbagai dinamika telah dia lalui.
Baca Juga: Ratusan Anak TK Soko dan Montong Unjuk Kreativitas di Festival Coding Kartini
Namun, baginya, setiap tantangan bukanlah penghalang, melainkan dorongan untuk terus berkembang.
Di balik capaian akademiknya, guru besar Unirow yang berdomisili di Kelurahan Baturetno, Kecamatan Tuban ini memandang pendidikan bagi perempuan memiliki makna yang lebih luas.
Dia menegaskan, pendidikan bukan semata untuk mengejar jabatan, tetapi menjadi bekal utama dalam menjalankan peran sebagai pendidik pertama di keluarga.
“Wanita menempuh pendidikan itu sebenarnya untuk tugas fungsinya sebagai sekolah pertama anak. Karena mau tidak mau, anak itu mengaca pada ibunya,” tutur akademisi kelahiran 21 Mei 1968 itu.
Meski menyandang gelar akademik tertinggi, guru besar bidang Ilmu Biologi Unirow ini tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas.
Sebagai istri dan ibu dari empat anak, dia berupaya menjaga keseimbangan antara peran domestik dan profesional.
Prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, dia terapkan, tidak hanya di kampus, tetapi juga di rumah.
“Harus bisa dipisahkan peran sebagai istri, ibu, dan juga pendidik di lingkungan kampus. Urusan rumah tidak dibawa ke pekerjaan, begitu pula sebaliknya. Kita harus bisa menjadi tempat pulang yang nyaman bagi anak-anak dan keluarga,” ujar perempuan yang menyelesaikan studi S-3 di Unair Surabaya itu.
Dalam keseharian, dia tetap menjalankan peran domestik, mulai dari menyiapkan kebutuhan keluarga hingga menjalani aktivitas sebagai guru besar dengan berbagai agenda akademik.
Di ruang kelas, Prof. Dian dikenal sebagai dosen yang mengedepankan pendekatan humanis. Dia membangun suasana belajar yang nyaman, tanpa mengesampingkan ketegasan dalam aturan.
“Dalam kontrak kuliah saya sampaikan dari hati ke hati dan adil, tidak ada perbedaan aturan antara mahasiswa dengan dosennya. Tujuannya untuk membuat mereka nyaman. Jadi tetap fleksibel tapi tetap tegas,” kata pendidik yang lima tahun terakhir telah melakukan 26 penelitian itu.
Prof. Dian juga aktif melibatkan mahasiswa Unirow dalam penelitian, sebagai upaya menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, menulis, dan berinovasi. Baginya, proses pembelajaran harus memberi bekal nyata bagi mahasiswa agar siap menghadapi dunia setelah lulus.
Rekam jejak akademiknya menunjukkan konsistensi tersebut. Sejumlah penelitian di bidang biologi dan kesehatan telah dihasilkannya, di antaranya kajian resistensi bakteri hingga deteksi virus pada pendonor darah.
Dia juga terlibat dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat, mulai dari pelatihan hingga konservasi lingkungan serta 45 artikel publish di jurnal nasional terakreditasi Kemendiksaintek dan jurnal internasional bereputasi.
Sebagai akademisi berkompeten dari Unirow Tuban, Prof. Dian menekankan pentingnya pengembangan diri yang berkelanjutan. Menurutnya, dosen harus terus belajar agar mampu memberikan pembelajaran yang relevan dan berkualitas.
“Tugas wanita itu banyak dan harus multitalent. Apa yang bisa dikerjakan, kerjakan dengan penuh tanggung jawab. Mengalir saja secara alamiah, tidak usah mengeluh atau ngresulo, dan jangan hanya mengharapkan imbalan. Kita harus kuat menata diri, di mana pun peran kita berada,” tuturnya. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama