Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fatkhul Amin, Food Vlogger Kuliner Legendaris di Kabupaten Tuban: Menolak Endorse, Hanya Ingin Membantu Warung Kuliner Legendaris Tetap Ramai

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 26 April 2026 | 13:03 WIB
Amin saat bersama narasumber pemilik warung legendaris di Kabupaten Tuban. (RADAR TUBAN)
Amin saat bersama narasumber pemilik warung legendaris di Kabupaten Tuban. (RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Siang itu, di salah satu meja restoran di Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo, Fatkhul Amin duduk tenang sembari sesekali memerhatikan riuh pelanggan yang keluar-masuk di restoran miliknya.

Meski tidak tampak seperti seorang yang berkecimpung di media sosial. Namun di jagat maya, khususnya bagi para pecinta kuliner di Tuban, sosoknya dikenal sebagai pembawa napas baru bagi warung-warung makan legendaris yang mulai tergerus zaman. 

Berbekal dari keseharian sederhananya, Fatkhul Amin memulai kegiatan kemanusian yang dikemas dengan cara modern.

Mengawali langkahnya sebagai food vlogger, dia bertekad menjadi napas segar bagi pelaku bisnis kuliner legendaris untuk terus bertahan di tengah masakan modern yang kian variatif. 

Baca Juga: Food Vlogger Farida Nurhan Alami Kejang Disertai Deman Tinggi 41 Derajat Celcius

Di sisi lain, pria asal Bojonegoro itu juga merupakan pebisnis kuliner yang sudah mapan. Meski demikian, dia tidak pernah merasa berbangga hati dan berpuas diri. Pada September 2025 lalu, dia menjelma menjadi seorang food vlogger.

Tapi bukan seperti food vlogger pada umumnya—yang mengejar endorse dan angka kunjungan komersial dalam kanalnya. Amin—sapaan karibnya, justru memilih tak mengejar uang sepeser pun sebagai vlogger. 

Kehidupan Amin sebenarnya sudah cukup mapan. Sebagai seorang pebisnis, dia telah berhasil membangun sistem kerja yang mandiri. Urusan eksekusi harian bisnisnya sudah ditangani oleh wakil dan karyawannya.

Alih-alih menggunakan waktu luangnya untuk sekadar ongkang-ongkang kaki, dia justru merasa ada sesuatu yang kosong dalam dirinya. 

‘’Kebanyakan waktu saya kosong. Saya berpikir, apa ya yang bermanfaat? Sudah diisi olahraga dan kegiatan positif lainnya, tapi kok masih merasa ada yang kurang," kenangnya saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Tuban beberapa waktu lalu. 

Titik balik itu muncul dari rutinitas hariannya, yang bahkan oleh orang lain pun tak terpikirkan.

Yakni, makan. Tak jarang, lulusan Teknik Sipil Universitas Gresik ini makan di berbagai warung. Sebagai seseorang yang peka terhadap strategi bisnis, dia merasa eman jika perjalanan kulinernya hanya berhenti di urusan perut. 

Dari situlah misi kemanusiaannya untuk membantu sesama dimulai. Dia mengajak adik dari relasinya yang saat itu baru lulus SMA untuk menjadi seorang kameramen, memberinya kesibukan produktif daripada sekedar menganggur, serta memberdayakan adminnya untuk proses editing. 

Targetnya pun bukan kafe dan restoran kekinian dengan spot-spot yang instagramable. Dia justru blusukan mencari warung-warung legendaris yang sudah berdiri minimal 10 tahun, bahkan ada yang mencapai seperempat abad.

Baginya, UMKM legendaris adalah permata yang mulai pudar sinarnya karena kalah tenaga dalam pemasaran digital. 

Baca Juga: Nostalgia Rasa yang Menghidupkan Wisata Kuliner Semarang, D'Kambodja Heritage by Anne Avantie yang Berkembang Bersama BRI

‘’Tujuan utamaku membantu sesama. Pelaku UMKM kuliner legendaris ini pasti dulu pernah merasakan masa kejayaan, tapi sekarang turun karena persaingan. Mereka punya rasa yang otentik, tapi tidak punya power di marketing digital," jelasnya. 

Melalui kontennya, pria yang berdomisili di Kelurahan Doromukti itu ingin menciptakan efek domino. Pertama, memberikan suntikan semangat bagi sang pemilik usaha bahwa usaha mereka masih layak. Kedua, memunculkan perasaan nostalgia bagi pelanggan lama agar kembali datang.

Dan yang ketiga, memperkenalkan cita rasa otentik kepada para generasi muda agar kuliner-kuliner khas Bumi Ronggolawe ini tak tergerus dengan rasa modern dan merk franchise global. 

Salah satu momen paling berkesan terjadi pada episode pertama kontennya. Saat itu, dia mengulas sebuah kafe tertua di Rembes, Palang, yang pemiliknya merupakan seniman pelestari musik Koes Plus. Pasca konten di-unggah, pagi-pagi sekali dirinya dihubungi sang pemilik dengan suara bergetar dan penuh haru.

Bahkan, dari vlog-nya, anak-anak band Koes Plus dari Jakarta langsung datang ke Tuban untuk berkunjung. 

‘’Itu momen yang membuat aku merasa konten ini benar-benar bermanfaat, dan aku ingin terus lanjut,” imbuhnya. 

Di dunia food vlogger, Amin dapat dibilang sebagai anomali. Dia dengan tegas menolak semua tawaran endorse. Prinsip tersebut dia pegang teguh, bahkan sampai ke hal-hal kecil.

Jika ada pemilik warung yang memaksa menggratiskan makanannya, Amin tetap menolak. Dia bersikeras membayar seperti pembeli biasa.

‘’Aku ingin gerakan ini murni membantu. Kalau ada yang kirim oleh-oleh sebagai tanda terima kasih setelah konten ramai, itu rezeki, tapi sejak awal aku tidak mau dibayar," tegas pria yang juga menekuni pencak silat itu.

Meski kontennya selalu dinantikan oleh pemirsa kanalnya, Amin tetap tak segan untuk tidak menayangkan konten yang dirasa—dari segi rasa dan tempat kurang berkualitas dan higienis, meski telah memasuki tahap editing. Sebab, dia menjaga agar niat baiknya tidak berbuah kekecewaan dan semakin meredupkan bisnis makanan milik seseorang. 

Ketika seseorang melihat akun media sosial dan kanalnya, konten Amin juga dikemas dengan cara yang berbeda. Jika kreator fokus pada visual makanan yang menggoda, dia justru memilih format berupa podcast. Ada sesi wawancara khusus dengan pemilik usaha kuliner yang diliputnya. 

Baca Juga: Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Jadi Satu-satunya dari Asia Tenggara

Dia menggali sejarah, suka duka, hingga filosofi dibalik ketangguhan pemilih bisnis tersebut sampai bertahan hingga puluhan tahun. Tanpa naskah dan tanpa arahan, percakapannya dengan narasumber mengalir apa adanya.

Terkadang, durasi mentahannya bisa mencapai dua jam. Timnya kemudian mengemasnya dengan mengedepankan poin-poin tertentu dan diberi sentuhan humor agar tetap relevan dan tidak membosankan ketika disaksikan para pengikutnya. 

‘’Dari kontenku, aku ingin orang termotivasi bahwa usaha itu tidak mudah. Harus istiqomah. Jadi tidak cuma rating makanan terus selesai. Ada pelajaran hidup yang bisa dipetik dari para sesepuh kuliner ini," urainya.

Perjalanan pria pemilik restoran ini juga tak selalu berjalan mulus sebagai seorang food vlogger. Tak jarang, dia menghadapi penolakan dari para pedagang kuliner tradisional.

Banyak dari mereka yang khawatir terkena masalah atau memiliki trauma karena konten kreator lain yang tak bertanggung jawab dan hanya meminta uang setelah mengambil video. 

‘’Kadang ingin berontak karena mereka tidak mau dikontenkan, padahal menurutku usahanya sangat baik dan aku juga berniat membantu. Tapi, aku tetap maklum dan itu juga merupakan hak mereka,” lanjutnya. 

Meski mengalami penolakan, Amin hingga saat ini tetap terus melakukan pemetaan kuliner di Kabupaten Tuban. Baginya, selama masih ada warung legendaris yang berjuang sendirian di tengah gempuran zaman, misinya belum selesai. 

‘’Harapanku, konten-kontenku ini tidak hanya bermanfaat untuk pelaku usahanya, tetapi juga masyarakat luas. Khususnya generasi muda yang saat ini suka eksplor berbagai hal, termasuk masakan,’’ tandasnya. (*/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#warung legendaris #Tuban #food vlogger