Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kisah Fattan: Dobrak Stigma 'Cowok Menari' hingga Raih Prestasi di Panggung Seni Tradisional Tuban

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 10 Mei 2026 | 16:33 WIB
Fattan dengan pakaian tari tradisionalnya saat ujuk penampilan di depan umum. (FATTAN IZAZUDA PRATAMA UNTUK RADAR TUBAN)
Fattan dengan pakaian tari tradisionalnya saat ujuk penampilan di depan umum. (FATTAN IZAZUDA PRATAMA UNTUK RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Fattan Izazuda Pratama tidak hanya berhasil mendobrak stigma terhadap penari laki-laki. Berkat ketabahan hatinya dalam menerima setiap nada miring, kini dia berhasil menjadi salah penari tradisional berprestasi sekaligus membuktikan bahwa tari tidak memandang gender.

‘’Buat apa cowok menari?” pertanyaan bernada miring itu masih terngiang di telinga Fattan Izazuda Pratama. Bukan hanya sekali, kalimat ejekan itu bahkan telah menjadi santapan sehari-harinya saat masih berseragam putih-merah, saat dia mengawali langkah pertamanya di dunia tari tradisional. 

Di balik gemulai gerak tari tradisional yang dia bawakan, ada luka masa lalu yang sempat membuatnya memilih untuk menggantung selendang dan berhenti total menunjukkan bakat indahnya dalam dunia seni tari. 

Pemuda asal Desa Bunut, Kecamatan Widang ini bukanlah sosok baru di panggung seni Kabupaten Tuban. Namun, perjalanannya menuju titik ini penuh dengan kerikil tajam.

Baca Juga: Naysilla Putri Callista, Remaja Tuban yang Pilih Jaga Tari Tradisional dari Kepunahan

Sejak awal kiprahnya, hobi menarinya sering dipandang aneh oleh lingkungan sekitar. Stigma bahwa menari hanyalah urusan perempuan membuatnya menjadi sasaran bullying. 

‘’Dulu saya berpikir, saya kan juga sama dengan teman-teman yang lain. Lalu kenapa saya harus dibedakan hanya karena saya menari?” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, Kamis (7/5), dengan helaan napas berat kala mengingat momen itu. 

Tekanan itu sempat membuat Fattan memilih berhenti menari demi menghindari omongan orang.

Baginya saat itu, menjadi “normal” seperti teman-temannya yang lain merupakan hal yang aman daripada mempertahankan dan menunjukkan passion yang dianggap menyimpang dari standar maskulinitas seorang lelaki di tengah masyarakat. 

Butuh waktu cukup lama bagi pemuda 18 tahun ini untuk menyadari bahwa bakat yang dimilikinya bukanlah sebuah aib. Perlahan, dia mulai mengubah pola pikirnya. Dia menyadari, bahwa tidak semua orang dianugerahi bakat dan keluwesan tubuh untuk membawakan tarian tradisional. 

‘’Saya menyadari bahwa hobi ini bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru, bakat ini berharga karena tidak semua orang memilikinya,” tegasnya. 

Meski kini masih ada bibir-bibir yang menggunjingnya, Fattan memilih untuk menutup telinga rapat-rapat. Baginya, selama apa yang dilakukannya masih positif dan menorehkan tinta emas, suara-suara negatif itu hanyalah angin lalu. 

Kiprahnya sejak sedekade silam ini telah membuatnya menguasai berbagai tarian. Mulai dari Tari Remo, Topeng Bapang, Gunungsari gaya Surakarta, hingga Gandrung Marsan. Bahkan, dirinya juga tak ragu untuk menguasai tarian yang biasanya dibawakan oleh perempuan seperti Tari Gambyong. 

Baginya, mengeksplorasi berbagai karakter gerak dari yang gagah hingga yang lembut adalah cara terbaik untuk melatih rasa percaya diri, bakat, hingga rasa tanggung jawabnya sebagai generasi muda yang berperan untuk melestarikan warisan budaya. 

Menurut alumni SMKN 1 Tuban ini, tari bukan sekadar mengayunkan tangan dengan gemulai, melangkahkan kaki dengan presisi sesuai irama kendang, atau hanya cocok digeluti oleh kaum hawa semata. Melainkan, sebuah budaya yang harus terus dilestarikan oleh semua orang. Tidak peduli lelaki atau perempuan. 

‘’Tari tradisional itu seni, dan seni itu tidak memandang gender. Memang masih ada stigma bahwa lelaki yang menari itu aneh, tapi bagi saya, setiap orang punya bakatnya masing-masing,” ucapnya dengan nada yakin. 

Baca Juga: Jerlyn, Siswi SMKN 1 Tuban yang Gigih Lestarikan Tari Tradisional

Puncaknya, lulusan SMPN 2 Widang ini berhasil menyabet peringkat pertama dalam ajang seleksi 2 Juara Satu, Minggu (26/4) lalu di Citimall Tuban.

Prestasi ini seakan menjadi salah satu bukti bahwa konsistensinya membuahkan hasil, sekaligus untuk membungkam mereka yang memandang remeh bakatnya dalam membawakan budaya warisan bangsa ini. 

Selain itu, Fattan juga membuktikan kepiawaiannya dalam menari di ajang Putra Putri Tari Jawa Timur 2025, meski keluar hanya sebagai finalis dan belum bisa membawa pulang piala tingkat provinsi tersebut. 

‘’Bagi saya prestasi adalah bonus dari sebuah pengabdian menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman,” imbuh pemuda kelahiran Mei itu dengan percaya diri. 

Sementara di tingkat lokal, dia telah menampilkan bakatnya di berbagai acara, seperti pentas seni lokal, festival budaya, acara pernikahan, gelaran acara sekolah, hingga acara umum lainnya dan penyambutan tamu. 

‘’Dari penampilan saya dalam lomba maupun pentas lokal, saya jadi mendapat banyak pelajaran. Mulai dari melatih rasa percaya diri, penghayatan saat menari, hingga belajar bertanggung jawab dalam setiap tampilan,” katanya. 

Bagi pemuda berzodiak Gemini itu, tari tradisional memiliki kedalaman nilai dan makna filosofis yang tidak ditemukan dalam tarian modern masa kini yang tengah digandrungi oleh Gen Z. Bahkan dia meyakini, terdapat sisi spiritual dalam budaya peninggalan leluhur tersebut. 

‘’Setiap kali saya menari, saya sering merasa bukan hanya manusia yang menjadi penonton, tetapi leluhur hingga pendahulu seni juga ikut menyaksikan. Itu yang membuat saya merasa harus tampil totalitas, penuh rasa hormat, dan penghayatan tinggi,” ungkapnya. 

Kini, di usianya yang masih begitu hijau, Fattan tetap berkomitmen untuk terus menjadi seorang pelestari seni. Dia ingin membuktikan bahwa generasi muda mampu menjaga marwah budaya daerah dengan penuh harga diri. 

‘’Saya memiliki mimpi besar untuk terus melestarikan budaya daerah agar tidak tergerus modernisasi. Selain itu, menjadi seorang penari laki-laki merupakan cara terbaik untuk mengekspresikan karakter gagah, tegas, sekaligus tetap bisa menghargai warisan nenek moyang,” pungkasnya mantap menutup pembicaraan. (*/tok)   

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #citimall #gender #tari tradisional #widang