RADARTUBAN - Aprilla Puspa Anisa atau yang akrab disapa Sasa, membuktikan bahwa kreativitas anak muda Bumi Wali tak bisa dipandang sebelah mata.
Di usianya yang masih hijau, dia telah berani menancapkan taringnya di industri kreatif melalui visi mode yang berkarakter.
Ketertarikan Sasa pada dunia rancang busana bermula dari kegemarannya menggambar dan kecintaan pada hal-hal berbau seni. Berlanjut hingga dirinya bertekad menciptakan busana yang fleksibel untuk berbagai ukuran tubuh.
‘’Sering kali desain yang bagus hanya tersedia ukuran kecil atau all size, padahal keinginan untuk memakai baju dengan model lucu itu datang dari berbagai kalangan dan bentuk tubuh,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Baca Juga: Claude Design Meluncur, Permudah Pengguna Non-Desainer Ciptakan Karya Visual
Berangkat dari hal itu, dia bertekad untuk menciptakan karya dan desainnya sendiri agar lebih fleksibel untuk dirinya maupun semua orang. Baginya, busana adalah kebutuhan yang tak pernah mati dan akan selalu berputar mengikuti zaman.
Dalam mencari ide, Sasa memiliki referensi yang cukup spesifik. Dia kerap memantau gaya busana para idol K-Pop saat tampil di atas panggung.
Menurutnya, kostum panggung para idol memiliki sisi keunikan dan detail yang jauh berbeda dari pakaian harian, sehingga memicu imajinasinya untuk diaplikasikan ke dalam rancangan busananya.
Meski terinspirasi dari tren global, dara cantik asal Kecamatan Tuban ini sangat menjaga otentisitas karyanya. Dia biasanya hanya mengambil dua atau tiga elemen tren untuk dipadukan dengan ciri khasnya sendiri agar tidak sekadar mengekor pasar.
‘’Setiap desainer harus punya karakter yang menonjol agar memiliki branding kuat dan tidak mudah ditiru oleh orang lain,” tegasnya.
Perjalanan karir lulusan Desain Mode Universitas Negeri Malang (UM) ini dihiasi dengan berbagai koleksi yang memukau.
Debutnya dimulai pada 2022 lewat koleksi Ataraxia di Grandshow Tata Busana UM.
Setahun kemudian, dia tampil di Malang Fashion Week 2023 dengan koleksi Catcha yang mengusung misi keberlanjutan melalui konsep upcycle jeans.
Tak berhenti di situ, perempuan 24 tahun ini juga membawa identitas lokal Tuban ke level yang lebih tinggi. Dalam ajang Batik Tuban Fashion Street and Carnival, dia meluncurkan gaun Gratia Kala Wastra.
Karya ini menjadi bukti cintanya pada tanah kelahiran dengan mengeksplorasi Batik Gedog Tuban menjadi busana couture yang mewah.
Tentu, perjalanan ini tak selalu mulus. Gadis Aries ini tak jarang menghadapi tantangan berupa burnout, kejaran deadline, hingga manajemen waktu saat pesanan klien menumpuk mendadak.
Baca Juga: Desainer Muda Thalita Ciptakan Gaun Sagari, Harumkan Nama Tuban di Festival Batik
Namun, baginya kualitas hasil jadi dan kerapian adalah hal yang tidak bisa ditawar.
‘’Kreativitas dan teknik jahit adalah pondasi. Namun, detail serta komunikasi yang baik dengan customer juga menjadi kunci menjaga kepercayaan," tambah Sasa.
Cita-citanya begitu besar, yakni membawa hasil karya tangan miliknya dikenal luas, memiliki gerai di berbagai tempat, hingga akhirnya mampu menembus pasar internasional.
‘’Membangun brand dan memiliki store di mana-mana bukan sekadar soal bisnis bagiku, tapi tentang bagaimana visi fashion dan desainku ini bisa menjangkau lebih banyak orang,” pungkasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama