Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Buruh Ikat Kangkung Asal Tuban Ini Akhirnya Haji ke Tanah Suci, Kisah Suminah Bikin Haru

Dwi Setiyawan • Senin, 18 Mei 2026 | 19:37 WIB
Suminah, ditemani jemaah haji se-kloternya ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban di kamarnya, Tayeb Hotel Makkah. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)
Suminah, ditemani jemaah haji se-kloternya ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban di kamarnya, Tayeb Hotel Makkah. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Kalau Allah sudah memanggil sebagai tamu, siapa pun pasti bisa berangkat haji. Termasuk mereka yang tidak memiliki penghasilan tetap dan receh. Seperti Suminah, warga Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpang.

Di Kamar 309 Tayeb Hotel Makkah, wajah Suminah tampak berbinar saat menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Tuban, Sabtu (16/5) sore WAS. Balutan busana muslim putih dan jilbab hitam yang dikenakannya menegaskan kesederhanaan sosok yang kini tengah menunaikan rukun Islam kelima itu.

Jemaah yang tergabung dalam rombongan 8 kloter SUB 26 tersebut tercatat sebagai salah satu yang tertua. Kondisi ekonominya pun tergolong paling terbatas di antara rombongannya. Awalnya, perjalanan suci itu direncanakan bersama putra kandungnya, Saemuri, serta menantunya, Musripah.

Baca Juga: Lima CJH Kuota Tambahan Asal Tuban Siap Berangkat Haji 19 Mei Bersama Kloter 111

Namun takdir berkata lain. Saemuri meninggal dunia pada Januari lalu, hanya empat bulan sebelum keberangkatan. Kini, selama di Tanah Suci, Suminah hanya ditemani sang menantu.

Di kampung halamannya, perempuan itu bekerja sebagai buruh pengikat kangkung milik H. Ali Tamam, pedagang sayur di Pasar Baru Tuban. Setiap pagi mulai pukul 07.00, selama sekitar tiga jam, dia bergelut dengan tumpukan kangkung hasil panen dari tegalan sekitar Bengawan Solo.

Pekerjaan itu tidaklah ringan. Kangkung harus disortir, diikat per buntil dengan tali rafia, lalu disusun menjadi bongkok. Semua dilakukan dengan telaten, cepat, dan cermat agar per buntilnya tetap sama sebelum dikirim ke ke pasar.

Upahnya recehan. Suminah dibayar Rp 5 ribu per bongkok, dengan penghasilan harian berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu. Nominal itu nyaris sulit dibayangkan bisa mengantarkannya ke Baitullah.

Perempuan yang tidak pernah mengecap bangku sekolah itu sebenarnya memiliki dua petak sawah. Namun sejak sang suami, Tasiran, meninggal delapan tahun lalu, lahan tersebut tak lagi digarap.

Dari penghasilannya sebagai buruh harian, Suminah menyisihkan sebagian untuk ditabung. Tak ada angka pasti yang dia sebutkan. Hanya tekad kuat yang terus dijaga.

Kesungguhan itu kemudian mengetuk hati anak-anaknya. Sebagian membantu menambah biaya hingga akhirnya dia mendaftar haji pada 2021. Sebagai jemaah lanjut usia, dia mendapat prioritas keberangkatan tahun ini.

Kesederhanaan Suminah tetap terlihat, meski sudah berada di Tanah Suci. Uang saku Rp 6 juta yang dibawanya disimpan rapat dalam dompet kecil di saku bajunya.Hingga kini, baru sekitar Rp 300 ribu yang dia belanjakan untuk membeli 10 kopiah dan 10 tasbih. “Nanti untuk oleh-oleh cucu,” tuturnya.

Sebagian besar gigi Suminah memang telah tanggal. Tubuhnya pun tampak kurus renta. Namun, semangat ibadahnya tak surut.

Di hadapan Kakbah, Suminah tak meminta kemewahan dunia. Doanya sederhana: keselamatan dan kesehatan bagi anak-anak serta cucunya.

Baca Juga: Dua Jemaah Haji Tuban Alami Sesak di Makkah, Satu Dirujuk ke Rumah Sakit: Tim Medis Sarankan Lansia dan Risti Kurangi Aktivitas Berat

“Saya juga berdoa agar mereka dimudahkan urusan pekerjaan dan bisa berangkat haji seperti saya,” ujarnya.

Kisah Suminah menjadi pengingat bahwa jalan menuju Tanah Suci kerap dibukakan dengan cara yang tak selalu bisa dihitung logika manusia. Ada ikhtiar, ketulusan, dan kuasa Allah. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#plumpang #Tuban #Haji