RADARTUBAN- Lahir dan tumbuh di kawasan perbukitan kapur Desa Pakis, Kecamatan Grabagan, tidak membuat Najwa Ulhaq Nur Syifa merasa harus mengecilkan mimpinya.
Dari desa yang jauh dari gemerlap pusat kota itu, remaja 16 tahun ini justru melangkah ke panggung yang lebih besar. Namanya kemudian menggema di Auditorium Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya.
Najwa dinobatkan sebagai Runner-Up 1 Putra Putri Pariwisata Jawa Timur (Jatim) 2026.
Prestasi itu tidak diraih dalam satu malam. Dia sempat ragu, minder, terbentur jadwal yang padat, hingga kaki yang terkilir parah. Namun, satu demi satu rintangan dilaluinya.
Bagi Najwa, asal-usul bukan alasan untuk berhenti melangkah.
“Ketakutan dan minder itu pasti ada. Ini ajang tingkat provinsi, di mana setiap daerah mengirimkan perwakilan terbaik mereka yang jauh lebih senior dan sudah berpengalaman,” kenang Najwa saat menceritakan memori tiga bulan lalu ketika kali pertama mendaftar secara daring kepada Jawa Pos Radar Tuban, Senin (13/7) melalui sambungan telepon.
Baca Juga: Berawal dari Hafalan Al-Qur'an, Waslik Kini Siap Tampil di Forum Internasional Tiga Negara
Perasaan itu muncul ketika dia memutuskan mendaftarkan diri dalam ajang Putra Putri Pariwisata Jawa Timur 2026. Di antara puluhan peserta dari berbagai daerah, Najwa menyadari dirinya termasuk salah satu peserta termuda.
Sebagian besar kontestan merupakan mahasiswa yang telah memiliki pengalaman organisasi dan prestasi. Sementara Najwa masih duduk di bangku SMAN 1 Rengel.
Namun, pengalaman sebagai Duta Pemuda Kebudayaan Kabupaten Bojonegoro membuatnya berani mengambil kesempatan. Dia ingin menguji dirinya di panggung yang lebih tinggi.
Rasa minder itu pun perlahan diubah menjadi energi untuk membuktikan diri.
Baginya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Tidak peduli apakah seseorang berasal dari desa atau kota, lebih senior atau lebih muda, berpengalaman atau baru pertama kali mengikuti ajang prestasi.
Perjalanan itu dimulai dari seleksi berkas secara daring. Setelah lolos, Najwa harus melewati tahap semifinal dengan sejumlah penugasan.
Dia diminta membuat video profil pariwisata, mengikuti sesi pemotretan busana daerah, hingga mempelajari materi advokasi kebudayaan.
Tantangannya datang bersamaan. Tenggat waktu penugasan bertepatan dengan pekan Ujian Akhir Semester (UAS) di sekolah. Saat sebagian besar remaja seusianya mulai beristirahat setelah belajar, Najwa masih harus membagi waktu.
Siang untuk sekolah dan ujian. Malam untuk mempelajari materi. Setelah itu, dia menyusun konsep video, melakukan riset pariwisata, dan mengejar lokasi pengambilan gambar.
Tak jarang pekerjaan itu berlangsung hingga dini hari. Mobilitas tinggi demi mendapatkan latar video yang sesuai membuat tubuhnya mulai kelelahan. Dalam salah satu perjalanan, kaki Najwa sempat terkilir parah. Kakinya membengkak. Rasa nyeri datang bersamaan dengan tekanan waktu yang terus berjalan. Mentalnya pun goyah.
“Saat itu saya benar-benar lelah, takut, bingung, dan sempat ingin berhenti saja. Waktu menuju tahapan berikutnya sudah sangat mepet, sementara kondisi fisik saya justru tidak mendukung,” tutur alumni SMPN 2 Plumpang itu dengan nada suara lirih mengenang titik terendahnya.
Namun, Najwa memilih bertahan. Dia membalut kakinya dan melanjutkan proses seleksi. Baginya, berhenti saat itu berarti mengabaikan kerja keras yang telah dibangun sejak awal.
Dari puluhan peserta, seleksi semifinal kemudian menyisakan sekitar 20 hingga 30 finalis terbaik. Najwa salah satu di antaranya.
Langkah berikutnya membawa dia ke Surabaya untuk mengikuti karantina dan grand final.
Karantina menjadi tantangan baru. Bukan hanya karena harus menjalani wawancara mendalam yang menguji kemampuan berpikir dan analisis, namun juga karena jadwal kegiatan yang sangat padat.
Aktivitas dimulai sejak pukul 06.00 hingga sekitar pukul 21.00. Hampir setiap hari para finalis menjalani rangkaian kegiatan tanpa banyak waktu untuk beristirahat.
Bagi Najwa, fase itu menguras fisik sekaligus emosi. Namun, konsistensi dan ketekunannya tidak luput dari perhatian. Di tengah jadwal yang padat, dia berusaha tetap membawa energi positif dalam setiap kegiatan. Hingga malam puncak tiba.
Di Auditorium Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya, nama Najwa diumumkan sebagai Runner-Up 1 Putra Putri Pariwisata Jawa Timur 2026. Selempang itu menjadi penanda dari perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah desa di kawasan perbukitan kapur.
Kini, gelar tersebut tidak ingin dipandang Najwa sekadar sebagai prestasi atau tambahan dalam portofolio akademiknya. Dia melihatnya sebagai tanggung jawab.
Sebagai Putri Pariwisata Jawa Timur, dia ingin mendorong generasi muda agar melihat pariwisata secara lebih luas. Bukan hanya sebagai tempat untuk berfoto atau destinasi untuk dikunjungi.
“Gelar ini adalah representasi aktif. Saya ingin mengajak generasi muda untuk tidak hanya melihat pariwisata dari keindahan destinasinya saja, namun juga memahami nilai sejarah, keunikan budaya, serta bagaimana sektor ini mampu menyokong UMKM sebagai penggerak ekonomi kreatif lokal,” tegasnya penuh optimisme.
Bagi Najwa, pariwisata juga berkaitan dengan identitas, kebudayaan, dan ekonomi masyarakat.
Karena itu, pencapaian di panggung Jawa Timur tersebut ingin dia gunakan untuk membawa isu-isu pariwisata dan potensi daerah, khususnya Tuban, agar semakin dikenal.
Perjalanan dari Desa Pakis menuju panggung provinsi juga meninggalkan satu pesan penting baginya bahwa mimpi tidak selalu lahir dari tempat yang gemerlap.
“Menurut saya, prestasi tidak melulu soal angka di atas kertas raport sekolah. Tetapi bagaimana seseorang berani keluar dari zona nyaman, mengoptimalkan potensi diri, bergerak aktif dalam kegiatan positif, serta mampu menebar inspirasi bagi lingkungan sekitarnya,” pungkasnya.(*/ds)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni