RADARTUBAN - Seperti tak mau kalah dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah, Omah Baca Santri di Kecamatan Senori punya MBG versi sendiri. Bukan untuk mengisi perut, melainkan mengisi kepala.
Membaca Buku Gratis (MBG). Tulisan itu terpampang besar di trotoar depan lembaga pendidikan Yayasan Islamiyah, tepat di samping perempatan lampu lalu lintas Desa Jatisari, Kecamatan Senori. Di belakangnya, ratusan buku tersusun rapi. Siapa pun boleh mengambil, membuka, lalu membacanya. Gratis!
Meski namanya sama, namun akronim MBG berbeda. Jika program pemerintah berupaya mengisi kebutuhan gizi tubuh, Omah Baca Santri ingin mengisi nutrisi otak melalui buku. ‘’Bagi kami membaca itu proses menanamkan kesadaran kritis,’’ kata Muhammad Ulil Arham, pendiri Omah Baca Santri.
Baca Juga: Kepala MI Ash Shomadiyah Tuban Mochammad Saifullah: Membaca adalah Titik Pangkal Pendidikan
Setiap Jumat, lapak sederhana itu berubah menjadi ruang baca terbuka. Sejak pagi hingga malam, para santri berdatangan. Mereka duduk santai. Sebagian membaca buku. Selebihnya berdiskusi. Tak ada meja dan kursi khusus. Trotoar pun cukup.
Lapak baca tersebut diinisiasi komunitas Omah Baca Santri. Tujuannya sederhana, yakni mengajak para santri di Desa Jatisari dan sekitarnya lebih dekat dengan buku dan dunia literasi.
Di tengah kerumunan pembaca, Arham, panggilan akrabnya, ikut nimbrung. Sembari menunggu aktivitas lapak baca, dia berbincang tentang salah satu judul buku bersama pengunjung. Obrolan mengalir santai ditemani kopi.
‘’Omah Baca Santri menyediakan buku untuk dibaca secara gratis, sembari diskusi buku dan dipersilakan siapa saja yang ingin menjadi narasumbernya,’’ ujar Arham kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Beberapa hari sebelum lapak dibuka, pengumuman kegiatan diskusi biasanya disebarkan melalui media sosial. Selain membaca, diskusi menjadi ruang untuk mengupas isi buku. Menurut Arham, pembahasan dalam diskusi tak jarang merembet ke persoalan sosial, politik, dan ekonomi serta kebijakan pemerintah. Salah satu yang belakangan sering muncul adalah program Makan Bergizi Gratis.
Sejak komunitas tersebut berdiri pada November 2019, Arham dan sejumlah anggotanya berupaya membumikan literasi di Senori. Sasaran utamanya para santri. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Desa Jatisari dan wilayah sekitarnya merupakan kawasan yang banyak berdiri pesantren.
Arham ingin para santri tidak hanya berkutat dengan kitab kuning. Buku-buku lain diharapkan bisa membuka jendela pengetahuan yang lebih luas. ‘’Karena saya memiliki keyakinan masyarakat yang suka membaca, maka akan sulit untuk dimanipulasi,’’ tegasnya.
Namun, jalan menuju budaya membaca itu tidak langsung ramai. Pada awal berdiri, Arham bahkan harus membawa koleksi bukunya sendiri.
Sebelum pandemi Covid-19, sekitar 100 buku koleksi pribadi yang dikumpulkannya selama menjadi mahasiswa pembimbing konseling Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dibawa ke lapak baca. Saat pertama dibuka, belum banyak orang datang.
‘’Saya dan beberapa teman saat itu hanya memiliki niat mengenalkan, agar nantinya kami bisa mengajak masuk di dunia literasi,’’ kenangnya.
Beberapa minggu berjalan, aktivitas mulai tumbuh. Arham menggandeng anak-anak IPNU-IPPNU Senori. Dari sana muncul diskusi-diskusi kecil. Buku tak lagi sekadar dibaca, tetapi menjadi bahan perbincangan.
Selama pandemi, aktivitas diskusi buku sempat terhenti. Lapak baca harus tutup. Setelah cukup lama berhenti, Omah Baca Santri kembali aktif sejak tahun lalu.
Kini, lapak baca tidak lagi hanya mengandalkan koleksi pribadi Arham. Masyarakat mulai ikut menyumbangkan buku.
Komunitas baca lain di Tuban juga turut membantu. Koleksinya pun berkembang. Dari sekitar 100 buku ketika pertama kali dibuka, kini jumlahnya mencapai sekitar 500 judul.
Pengunjungnya pun beragam. Santri, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Ada yang sekadar membuka satu-dua buku. Ada pula yang sengaja datang untuk mengikuti diskusi.
‘’Itu buku sumbangan dari masyarakat dan juga komunitas baca lain dari Tuban yang turut mengawal kami sejak kami berdiri,’’ pungkasnya.(*/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban