RADARTUBAN–Sejumlah petani cabai di Kecamatan Grabagan tidak bisa panen maksimal. Musim kemarau berkepan jangan memicu tanaman cabai petani di wilayah setempat mengering lebih cepat. Itulah yang menyebabkan harga cabai di pasaran merangkak mahal.
Waniti, salah satu petani asal Desa/ Kecamatan Grabagan mengatakan, jika di musim normal bisa menghasilkan panen sampai berkali-kali hingga tak berbuah lagi, kini baru beberapa kali panen sudah layu dan mengering.
‘’Rata-rata sudah tidak bisa panen. Kalaupun masih (bisa panen, Red), tidak mak simal,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban. Petani kelahiran 1975 itu menuturkan, tanaman cabai miliknya yang kini mulai mengering itu ditanam sejak Januari. Dan mulai panen ketika berumur tiga bulan.
Namun, seiring kemarau ekstrem, panen maksimal tidak lebih dari dua kali. Bahkan ada yang hanya sekali.
‘’Jangankan panen berkali-kali, tanaman cabai bisa bertahan la ma saja sulit. Banyak yang sudah mati,’’ terang dia. Seiring hasil panen yang tidak maksimal tersebut, kini harga cabai di sejumlah pasar tradisional merangkak naik menyusul stok yang kian menipis.
Pekan lalu, harga cabai rawit masih di kisaran Rp 50 ribu per kilo gram (kg), tapi pekan ini sudah naik hingga Rp 56 ribu per kg. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Tuban Endro Budi Sulistyo mem benarkan ihwal pemicu naiknya harga cabai di pasaran tersebut. Menurut nya, faktor utama adalah kemarau yang berkepan jangan. Banyak petani cabai yang tidak bisa maksimal.
‘’Akibat fenomena El Nino, kini musim kemarau semakin ekstrem. Dan itu berdampak terhadap petani cabai,’’ terang dia. Kendati demikian, Endro memastikan stok cabai di sejumlah pasar tradisional di Tuban masih aman. Sehingga mas yarakat tidak perlu resah. ‘’Terkait harga dan stok, selalu kami dipantau,’’ tandasnya. (zia/tok)
Editor : Muhammad Azlan Syah