RADARTUBAN-Cukup banyak komunitas kemanusiaan yang dibentuk oleh anak-anak muda. Namun, jarang sekali yang bertahan konsisten. Komunitas Sobat Syukur adalah satu di antara yang istikamah menjalankan aksi kemanusiaan. Komunitas ini dibentuk oleh anak-anak muda di Desa Kesamben, Kecamatan Plumpang
ADALAH Nur Qomari, 38, dan Aulina Umazah, 26, yang menginisiasi terbentuknya komunitas kemanusiaan ini. Tepatnya pada 10 Juli 2020.
Semua itu bermula dari keprihatinannya terhadap nasib para lansia dan yatim piatu di desanya.
Dengan berbekal patungan uang seadanya, mereka kemudian membelikan sembako, makanan dan obat-obatan untuk di bagikan kepada kaum papa tersebut.
Seiring berjalannya waktu, beberapa anak muda yang memiliki kepedulian sama turut bergabung. Lebih kurang tercatat 20 anggota. Namun, tidak semua bertahan aktif. Kini hanya tersisa beberapa saja.
Maklum, hal tersulit dalam hidup ini adalah merawat komitmen dan konsistensi. Meski tidak banyak anggota yang tergabung, komunitas Sobat Syukur akan tetap konsisten menjalankan aksi kemanusiaan.
‘’Semoga ke depan semakin banyak lagi yang tergerak untuk turut bergabung membantu masyarakat yang membutuhkan,’’ tutur Kak Nur—sapaan akrab Nur Qomari.
Satu di antara kegiatan yang masih konsisten dijalankan hingga saat ini adalah santunan kepada lansia dan yatim piatu saban Jumat.
‘’Ini yang patut kami syukuri, dengan segala keterbatasan anggota— dari hasil iuran seadanya, kami masih bisa rutin memberikan santunan tiap hari Jumat,’’ ujar alumni MTs Al-Hidayah Kesamben itu.
Lebih lanjut dia menyampaikan, selain membagikan makanan, juga rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, serta memberikan obat dan vitamin kepada mereka yang membutuhkan.
Bantuan obat-obatan dan vitamin ini biasanya dihimpun dari para perawat, bidan, dan tenaga medis rumah sakit yang peduli atas aksi kemanusiaan yang dijalankan.
‘’Kami sangat bersyukur, masih banyak yang peduli,’’ katanya.
Alumni MAN 2 Tuban itu meneruskan, berdasar data yang dimiliki, pada 2023 ini lebih kurang 70 lansia dan 46 anak yatim piatu yang di santuni.
‘’Data kami himpun berdasar survei dari pintu ke pintu,’’ ujar pria berkacamata itu.
Diakui Kak Nur, banyak suka duka dan kendala yang dihadapi selama menjalankan misi kemanusiaan.
Banyak respon positif, tapi juga tidak sedikit memberikan respon negatif, atau lebih tepatnya suuzon. Namun hal itu dianggap wajar.
Namun hal itu tidak pernah menyurutkan niatnya untuk terus melakukan aksi kemanusiaan. (an/tok)
Editor : Muhammad Azlan Syah