RADARTUBAN – Sebelum dibuka menjadi destinasi wisata, Sendang Asmoro merupakan tempat sakral bagi sebagian besar masyarakat Desa Ngino, Kecamatan Semanding.
Beberapa kegiatan ritual adat rutin digelar di lokasi tersebut. Tiap tahun minimal tiga kali. Meliputi kirab budaya keleman, duduk sumber, dan sedekah bumi.
Diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ngino Hartomo mengungkapkan, sampai sekarang masyarakat Ngino masih memegang tegu kesakralan sendang tersebut.
‘’Walaupun sudah menjadi tempat wisata, ritual adat masih terus dijaga dan dijalankan,” tuturnya. Har, sapaan akrabnya, belum bisa memastikan sejak kapan ritual adat di Sendang Asmoro berlangsung.
Dia hanya memerkirakan sejak zaman prasejarah. Berdasarkan cerita turuntemurun
leluhurnya, kata dia, dikeramatkannya sendang tersebut bermula saat terjadinya krisis air
berkepanjangan di Desa Ngino.
Setelah itu muncul mata air dari sendang yang diberi nama Sendang Kahuripan. Air sendang itu kemudian menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat desa setempat dan sekitarnya hingga sekarang.
‘’Saat diresmikan pada 2017, namanya diubah menjadi Sendang Asmoro,’’ tutur juru kunci Sendang Asmoro itu.
Alasan itulah yang menjadikan sebagian masyarakat Desa Ngino masih mempertahankan upacara adat tahunan. Har, mengatakan, ritual adat harus tetap dipertahankan, meski lokasinya sudah menjadi tempat wisata.
Jika ritual adat berlangsung, kata dia, wisata tetap buka seperti biasa. ‘’Saat berlangsung ritual, wisata kami gratiskan, sehingga masyarakat juga bisa berwisata sambil mempelajari adat budaya di Ngino,’’ ujarnya. (sel/yud/ds)
Editor : Muhammad Azlan Syah