RADARTUBAN – Keberadaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di Unit Layanan Pengadaan Perusahaan Listrik Negara (ULP PLN) Tuban, Jalan AKBP Suroko belum sepenuhnya dimanfaatkan masyarakat yang memiliki kendaraan listrik.
Per minggu, rata-rata hanya melayani tujuh mobil. Padahal, jumlah mobil listrik di Tuban sudah cukup banyak.
Manager ULP PLN Tuban Agus Riyadi mengatakan, mayoritas pengguna mobil listrik telah dilengkapi dengan charger. Sehingga lebih banyak mengisi baterai di rumah masing-masing.
Bedanya, SPKLU yang disediakan ULP PLN lebih cepat dibanding charger bawaan mobil.
‘’SPKLU kami menggunakan fast charging, jadi pengisiannya lebih cepat,’’ terang Agus-sapaan akrabnya.
Disampaikan dia, perbedaan kecepatan pengisian daya di SPKLU dengan charging baterai mobil di rumah cukup signifikan.
Mobil merek Wuling Air EV, misalnya. Saat nge-cas sendiri di rumah, minimal membutuhkan waktu sekitar delapan jam. Sedangkan di SPKLU hanya membutuhkan
waktu tiga jam saja.
‘’Kalau ingin cepat, biasanya ke sini (SPKLU, Red),’’ ujarnya.
Mantan Manajer PLN ULP Wonosari dan Panarukan itu mengatakan, selain perbedaan waktu, tidak ada yang membedakan pengisian daya mobil listrik di SPKLU maupun di rumah atau home charging.
Dirinya memaparkan, biaya yang dibutuhkan untuk mengisi daya pun tak berbeda dengan di rumah.
‘’Untuk mengisi daya hingga penuh, satu mobil biasanya membutuhkan biaya sekitar Rp 100 ribu untuk penggunaan 200 km,’’ jelasnya.
Meski masih minim pelanggan, ULP PLN Tuban berencana membuka dua SPKLU baru di Tuban. Lokasinya, di Rest Area dan pabrik Semen Gresik Tuban.
‘’Saat ini masih dalam proses,’’ tandasnya. (sel/tok)
Editor : Amin Fauzie