Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Melintasi Dunia Menemukan Dia

Muhammad Azlan Syah • Minggu, 5 Mei 2024 | 16:00 WIB
ilustrasi cerpen
ilustrasi cerpen

Kami adalah dua anak manusia yang berbeda kehidupan, yang dipertemukan pada padatnya perahu manusia di Guangzhou.

Jalur kami berbeda, namun kami memiliki kesamaan untuk menemukan cahaya dalam gelap, yang sekiranya memberi damai di jiwa. Menemukan kesejatian pada pencarian jati diri.


Ankle boots yang kukenakan tersapu udara dingin malam ini. Tuhanku ini pilihanku untuk menuju jalanmu, maka mudahkan aku untuk terus berada pada titik itu. Alquran kini bersamaku dan melafalkan ayat cintaku pada Allah SWT.

Photo
Photo

Ini sebuah paradigma yang tak bisa kau sentuh Yuhe. Saat azan memberiku irama kesemangatan untuk beranjak dari aktivitas malamku, sebagai seorang DJ.


Latte adalah kawan setiaku untuk terus bersama, terucap sayonara buah plum untuk sebuah jendela malam di Kota Guangzhou, aku mendekap erat tasbih biru pemberian sang petani, Ikhwan Indonesia, ia memiliki nama panggilan Mudi.


Kutinggalkan dentuman musik dan balap mobil liarku, aku terpaku menatapmu, dia menghampiriku seraya berujar;

“Aku hanya seorang petani, yang menjemur biji-biji coklat. Aku mendengarkan setiap kata yang meluncur dari bibirnya. Hal yang menarik hatiku adalah cara ia mengucap basmallah.” Dan, aku mulai mengerti cara membaca huruf pembuka, alif.


Akrab dalam kehidupan malam dan tak mengerti apa itu suatu keyakinan. Mengumpulkan rewards dari malam durjana balap liar, bermain bersama denting gelas alkohol. Aku tak merokok, Aku juga tak free seks. Entahlah untuk satu urusan ranjang itu, aku punya batasan.

Bergumul dalam lirik sperma berpenyakit yang menjijikkan menurutku.
Aku tak mengenal Tuhan. Namun kebebasan menurutku bukan berarti keperawanan pun diumbar. Titik hormatku sebagai wanita di mana, bila mahkota itu diambil? Kami menari dalam busa atribut party, travel party private dan bertemu para backpacker dari berbagai belahan bumi ini.


Vodka aku tak suka, aku lebih suka perpaduan cocktail, atau menggigit buah zaitun dengan martini di dalamnya. Aku tak tertarik pria, bukan berarti aku seorang lesbian atau tidak normal. Namun, aku skeptis ada pria yang masih menjaga keperjakaannya saat ini.


Duniaku larut bersama raungan mesin jeep, jalan malam pada pegunungan terjal. Aku pembalap wanita pada sesi mayoritas adam, apa itu bertobat aku tak tahu. Yang kutahu adalah aku tak pernah menjerumuskan orang. Kenakalanku untuk diriku saja.


Suatu hari yang penat, aku melihatnya yang duduk di seberang mejaku. Namun pakaiannya aneh yakni jubbas, dipikirnya ini masjid? Didorong rasa penasaranku, kuhampiri dirinya. Lalu menatapnya langsung dan menyodorkan tanganku.

Aku DJ di sini, Yuhe dan kau?
Aku Mudi dari Indonesia.
Kikuk dan ndeso itu hematku, tapi yang menarik untuk kutatap tajam adalah cara ia menyeduh tehnya.
Bismillah, lirihnya
Apa itu yang kau ucapkan?...
Bismillah untuk memulai suatu aktivitas. Musik berdentam kalah oleh suaranya yang menusuk relungku.


Laut adalah peranan sistem semesta untuk menautkan Yuhe pada sisi ketenangan. Yuhe tak berpikir untuk menjadi seorang wanita karier, yang ia pikirkan adalah bagaimana menggunakan hari yang panjang dengan fun, sesuka hati.


Bertelanjang kaki dan berlari di tepian pantai seraya berteriak apa yang terjadi hari ini, menjadi terapi sendiri bagi dirinya. Sesungguhnya hatinya merasakan kegersangan tanpa batas. Ke semua yang ia dapat, hanya menjadi sedimentasi yang bisu.


Artefak yang tergores adalah sanubari Yuhe, jika Yuhe tak merasakan luka, dunia malam dan balap liar tak akan menjadi kawan akrab baginya. Jam malam menjadi sahabat baginya untuk terus menjadi rutinitas utamanya, pilihan lagu yang diinginkan para penikmat duniawi, apa arti Tuhan bagimu?
Tuhan siapa dia?


Yuhe tak mengenalnya pada komponen lampion kertas dan gurat kanji. Yuhe tak tahu arti suatu keyakinan, yang ia tahu uang begitu mudah untuknya. Cahaya itu kerap muncul dalam mimpinya, gerangan pertanda apa? Lintasan perjalanan yang Yuhe sendiri tidak tahu harus mulai dari mana ia meyakini Tuhan.


Yuhe hidup pada masa borjuis, uang semudah membalikkan telapak tangan. Yuhe tak tahu arti mengenal Tuhan seutuhnya, Yuhe berkata jangankan untuk mengenal Tuhan, aku tak percaya Tuhan, Tuhan terkadang tak ada saat aku membutuhkan.


Jika aku mati, maka aku tak tahu harus pulang pada siapa? Tuhan aku tak terpikir untuk mengenalmu, tapi mengapa cahaya itu kerap muncul dalam goresan pagi, saat matahari mulai membuka matanya. Bukan aku tak mau bersyukur, namun aku bingung untuk menyebut rasa terima kasih pada siapa.


Yuhe tahu manusia tak muncul dari batu. Yuhe tahu arti suatu karya. Tapi pada siapa tangan dan kaki ini bertumpu? Dan, semua mulai menjadi pikiran Yuhe, saat pria ndeso itu muncul dengan bahasa yang menyentuh hatinya.
Basmallah apa itu? Dan ia menggoreskan huruf aneh, apa ini?
Yuhe mencoba untuk perlahan menulis ulang, apa yang ia ingat dari pria itu, sang pengembara dari tanah Indonesia.


Allah....
Dan, dedaunan terus berguguran waktu yang bicara. Pohon akasia tak berbalut sepi, yang perlu dijelaskan adalah bagaimana kau menapaki hidupmu penuh makna.


Mudi panggilanku, nama lengkapku Priaji Mudi Laksono, aku putra tunggal dari seorang pengusaha furniture Jepara. Uang adalah bukan hal yang sulit, namun semua berubah tatkala krisis moneter mengguncang Indonesia. Lakon wayangku berubah jadi pas-pasan. Mentari tahu betapa nestapanya aku saat itu. Semua tersedia dan lebih dari cukup, namun itu tak pernah aku syukuri. Hingga bapak memasukkan aku pada sekolah Islam, di situlah aku betul-betul mengenal siapa Tuhanku yang sebenarnya.


Aku tetap merasakan kurang, hampa di dalam. Dan, kuputuskan untuk menjalani hidup sebagai seorang pengembara. Nomaden, berpindah-pindah tempat, kadang di sana dan kadang di situ. Terkadang numpang istirahat di masjid atau pun surau setempat.


Bapak memberiku dukungan penuh atas langkahku, beliau tahu ada sesuatu yang ingin aku cari untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku selama ini, tentang keesaan Tuhanku. Hal yang selalu kupastikan on time, adalah waktu salat tiba. Kedisiplinan membawaku pada stabilitas hidup yang lebih baik.


Perjalanan dimulai dari Sabang hingga Merauke. Melintasi pagar kawat dunia, Negeri tirai bambu dan kupastikan untuk menapaki Seoul, Korea. Album itu terus bergerak dan tertulis pada diari hatiku. Kuasa Tuhan, semakin mengikutiku. Cahaya Ilahi berpendar dalam gamangku. Untaian sujud syukur terus ada dalam lekuk peta yang kutempuh.


Allah SWT terpahat pada sepasang langkahku. Kayu cendana pada butir tasbihku tetap harum, Bapak membekaliku dengan kalung itu. Garis mata gadis itu begitu membekas di ingatanku, gadis itu ada dalam mimpiku.


Apa yang terjadi padaku ?
Apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama?
Apa itu cinta?
Cinta hanya mengotori relung semata, di samping kecintaanku pada Tuhan. Dan aku kembali beranjak dari pembaringan hotel di Shanghai. Subuh bergema, huruf hijaiyah memanggilku untuk berkomunikasi dalam suara lantunan Al- Fatihah.


Rahmat pada pagi hari, aku sehat wal’afiat dan masih merasakan pagiku. Dan, semua mendadak tentang jam pasir yang surut waktunya. Bagaimana bila Allah SWT menjemputku pulang lebih awal. Huruf alif penanda pagi dan raungan pada kota yang nyaris mati dalam nuansa udara beku Kyoto.


Senja ini mengunjungi sepupu dan berbagi angpao bersama mereka, merayakan apa yang aku miliki. Maka secarik surat itu tak ada barang satu lembar pun, hanya sebatas gurat senyum terakhir dari jejak sang pengembara dari tanah Indonesia.


Wanita berdarah Jepang itu menguntai pagi bersama alif, membelinya di toko buku dan menempelkan poster huruf hijaiyah di dinding apartemen Yuhe. Membacanya perlahan dengan aksen Jepang Yuhe yang kental, alif.


Dream catcher, aku harap tak mimpi buruk lagi. Lantas apa yang harus kutunggu dari makna ucapan selamat tinggal dari pria misterius itu, dia bilang jika kita berjodoh tunggu aku dalam pintu Baitullah.


Apa maksudnya menghampiri Makkah?
Ini gila untuk dipikirkan, tetapi secangkir kopi ini menggantikan kehidupan malam Yuhe untuk seulas senyum dari Mudi, sang pengembara. Hentikan sejenak rutinitas, ini yang disebut suara Azan memanggil untuk berhenti dan melakukan wudu.
Aku sudah membeli seperangkat alat salat, tetapi ini tidak bisa kulakukan sendiri. Namun. harus kulakukan seperti janjiku pada Mudi dan Imam yang mengislamkan.


Alif,
Kenapa kau semakin menarik untuk terus kubaca? Biola pun tak sanggup menahan degupku untuk terus mempelajarimu. Mudi tidak kutemui lagi setelah aku menyelesaikan puasa di Ramadan pertamaku. Keduanya menyadari bahwa cahaya yang mereka berdua cari sejatinya ada pada diri mereka sendiri. Perjumpaan Yuhe dan Mudi adalah awal dari petualangan yang sesungguhnya, pengujian iman untuk bertemu keyakinan sesungguhnya. (*)


April’ 2024

 

Editor : Muhammad Azlan Syah
#allah #dunia #pria #kyoto #yuhe #Indonesia #malam #dj