Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Momen Perpindahan Rumah Dinas Bupati dari Prunggahan Menuju Pendapa: Campur Tangan Belanda untuk Lebih Dekat dengan Pusat Pemerintahan

Andreyan (An) • Kamis, 4 Juli 2024 | 14:30 WIB

Kiri, kondisi Rumah Dinas Bupati Pendapa Kridha Manunggal pada tahun 1930,  sedangkan kanan adalah kondisi saat ini pada tahun 2024.
Kiri, kondisi Rumah Dinas Bupati Pendapa Kridha Manunggal pada tahun 1930, sedangkan kanan adalah kondisi saat ini pada tahun 2024.

Awal Juli terdapat momentum bersejarah penting bagi masyarakat Tuban. Tepat pada 1 Juli 1814, rumah dinas Bupati Tuban yang sekaligus pusat pemerintahan yang sebelumnya terletak di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding dipindah ke Kompleks Pendapa Kridha Manunggal, yang berlokasi sekarang ini.

SEJARAH mencatat, pemerin­tahan Belanda yang saat itu menduduki tanah air tanpa terkecuali di Tuban menjadi oto­ritas yang menentukan sejumlah kebijakan penting.

Termasuk dalam pemindahan kantor Bupati Tuban yang di­pin­dah dari kawasan pedesaan ke lokasi yang lebih dekat de­ngan kantor Belanda saat itu.

Salah satu yang menjelaskan itu bersumber dari Serat Babad Toeban versi cetak yang diter­bitkan oleh Boekhandel Tan Khoen Swie halaman 20-21.

Dengan memakai aksara Jawa tahun 1936 tertulis bahwa pusat Kabupaten Tuban telah be­berapa kali mengalami per­pindahan.

Di buku yang diterbitkan oleh Pri­hatmoko itu dijelaskan bah­wa ada se­kitar tujuh pusat pe­merin­tahan yang ditempati oleh adipati-adipati Tuban saat itu.

Sebelum berpindah di Pen­dapa Kridha Manunggal Tuban—seperti lo­kasi saat ini ini, pusat pe­merintahan Kabu­paten Tuban ter­akhir berada di Prung­gahan Kulon (saat itu masih bernama Prunggahan), Keca­matan Semanding.

Teguh Fatchur Rozi, pemerhati se­jarah di Kabupaten Tuban menga­takan, pada saat masih di Desa Prung­­gahan, rumah dinas itu sudah pernah ditem­pati enam adipati di masa pe­merintahan yang berbeda.

‘’Kurang lebih selama 117 tahun Desa Prunggahan dijadikan pusat pe­merintahan,’’ tutur dia.

Sarjana Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) ini mengatakan, enam adipati yang menjabat di Prung­gahan yakni Pangeran Yuda­naghara, Raden Harya Surahadi­ningrat, Raden Harya Diphasana, Kyahi Tumeng­gung Cakra­nagara, Kyahi Phurwa­negara, dan diakhiri Kyahi Hadi­phati Linder Suraha­dinaghara.

Sepeninggal Kyahi Hadiphati Linder Surahadinaghara, jaba­tan adipati langsung diemban oleh anaknya yakni Raden Tu­menggung Surya Hadiwijaya.

Di bawah kepemimpinan Surya Hadi­wijaya, rumah dinas bupati diputuskan pindah.

Sejarawan asal Kecamatan Plumpang itu me­ngatakan, masih minim r­efe­rensi terkait alasan pasti per­pindahan pusat peme­rintahan saat itu.

Salah satu kemungkinan pin­dahnya pusat pemerintahan sa­at itu adanya campur tangan pemerintah Belanda. Pada masa itu, kantor pemerintahan Be­landa berlokasi di selatan Alun-alun Tuban (sekarang Mu­seum Kam­bang Putih).

‘’Di­pindahnya rumah dinas bupati kemungkinan bertujuan untuk mengintegra­sikan peme­rin­tahan Kabupaten Tuban supaya dekat dengan Belanda,’’ ujar dia.

Kemungkinan kedua, kata Teguh, alasan pemindahan pu­sat peme­rintahan karena adipati Raden Tu­menggung Sur­ya Ha­diwijaya ingin men­catatkan sejarah sendiri dengan memin­dah pusat pemerintahan.

‘’Lo­kasi pemerintahan yang baru yakni di Pendapa Kridha Ma­­nunggal dipilih lantaran strategis dekat dengan laut dan mudah terintegrasi peme­_rin­tahan ko­lonial Belanda,’’ jelas dia.

Sementara itu, di pusat pe­merintahan yang lama yakni di Prunggahan tidak dijumpai bukti situs peninggalan ba­ngunan rumah dinas bupati yang lama.

Teguh berasumsi, kemungkinan rumah dinas pada masa itu dibangun meng­gu­nakan kayu sehingga bekas ataupun sisanya tidak sapat diketahui hingga saat ini.

‘’Di Prunggahan saat ini hanya menyisakan bekas Alun-alun saja,’’ terang dia.

Dalam arsip foto, terlihat kun­jungan perdana Pakubu­wono di Pendapa Kridha Manunggal Tuban pada tahun 1930.

Foto tersebut menjadi salah satu momentum paling bersejarah karena merupakan kunjungan penting pertama kali pasca ke­pindahan di lokasi baru.

Se­dangkan foto be­rikutnya, adalah Pendapa Kridha Ma­nunggal Tuban saat ini. (an/yud)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#rumah dinas #Bupati Tuban #belanda #Pendapa Krido Manunggal #pendapa #bersejarah #Juli