Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Lebih Dekat dengan Anak-Anak Papua yang Menempuh Pendidikan di SMAN 1 Tuban: Terkesan dengan Orang Jawa yang Halus

Annisa Dwi Kusuma Hany • Rabu, 24 Juli 2024 | 00:00 WIB

Empat siswa Papua menempuh pendidikan afirmasi pendidikan menengah atau ADEM di SMAN 1 Tuban.
Empat siswa Papua menempuh pendidikan afirmasi pendidikan menengah atau ADEM di SMAN 1 Tuban.

RADARTUBAN - Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem) kembali memberikan kesempatan kepada anak-anak Papua untuk melanjutkan pendidikan jenjang SMA unggulan di seluruh Indonesia.

Salah satunya, SMAN 1 Tuban. Tahun ini ada empat anak yang mendapat kesempatan emas tersebut.

Ditemui di SMAN 1 Tuban usai mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), empat siswa asal Papua itu mengenalkan diri satu per satu.

Diawali dari Yefrida Kogoya dan Elin Yoman, keduanya siswi dari Papua Tengah. Kemudian, Dieva Delizea H Sagrim, siswa dari Papua Barat Daya, dan terakhir Ivano Osfred Mob Kanimu Kahol, siswa dari Papua Selatan.

Keempat anak dari ujung timur Indonesia itu mengaku sangat bahagia bisa melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Tuban—menyusul kakak-kakak seniornya, yang kini duduk di bangku kelas sebelas dan dua belas.

Dengan wajah khas orang timur: berkulit eksotis dan rambut keriting, mereka selalu tersenyum ketika diwawancarai wartawan koran ini.

Salah satu dari mereka, anak laki-laki yang oleh temannya disapa Ayub (Dieva Delizea H Sagrim) itu mengatakan, untuk mendapat beasiswa Adem harus mengikuti beberapa tahap seleksi. Dan tidak semua anak berhasil mendapatkan kesempatan emas ini.

’’Kalau dari Merauke, hanya 11 orang,’’ katanya.

Ini merupakan momen pertama kali mereka jauh dari keluarga. Saking jauhnya jarak antara Tuban dengan Papua, kesempatan untuk pulang pun seperti bakal langka.

Setahun sekali, mungkin. Karena itu, hal pertama yang membekap perasaan mereka adalah rindu dengan keluarga. ’’Ya, awal-awal ini pasti kangen banget dengan keluarga. Tapi orang tua terus menyemangati, sehingga harus kerasan,’’ ujar Ayub diamini tiga temannya.

Disinggung kesan pertama tinggal di Tuban, mereka kompak menjawab bahwa gaya bahasa orang Tuban sangat halus. Dan itulah yang membuatnya mulai nyaman di Tuban.

’’Rasanya nyaman sekali kalau tinggal sama yang lain. Teman-teman bicaranya masih baik, sopan. Kalau di Papua bicaranya ketus-ketus (kasar-kasar),’’ jelas Ayub.

Setelah tinggal beberapa hari di Bumi Ronggolawe, kini mereka mulai bisa menyesuaikan budaya di Tuban.

’’Saya berangkat dari tanggal 5 Juli, karena harus naik turun gunung dulu. Baru sampai disini Sabtu (13/7) kemarin, diantar oleh pendamping dari ADEM,’’ tutur Frida—sapaan akrab Yefrida Kogoya yang kini mulai nyaman dan kerasan. Sementara yang lain telah lebih dulu tiba di Tuban.

Irma Diskonita, Tata Usaha SMAN i 1 Tuban menuturkan, hampir setiap tahun SMAN 1 Tuban menerima siswa program Adem dari Papua. Mereka adalah anak-anak terpilih yang mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di luar Papua.

Diharapkan, ketika lulus dari SMAN 1 Tuban, mereka kembali melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan nantinya menjadi kebanggaan masyarakat Papua.

’’Semangat belajarnya di sini, belajar yang rajin,’’ pesan Irma kepada anak-anak Papua yang didampinginya. (han/tok)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#papua #SMAN 1 Tuban #adem