Lantaran tinggi badan yang tidak memenuhi standar untuk menjadi pembawa berita, Arum Puspitasari, banting setir menjadi seorang pendongeng. Di latar belakangi dengan kemampuan berbahasa, public speaking, serta mengarang cerita yang baik. Dia telah sering mengikuti berbagai lomba storytelling. Kini, namanya dikenal hingga ke nasional.
HARDIYATI BUDI ANGGRAENI, Tuban.
BERADA di ruangan dengan dinding berwarna kuning, duduklah seorang wanita dengan jaket putih serta aksen bunga berwarna merah muda.
Tak lupa topi berwarna abu-abu yang menjadi ciri khas pakaiannya saat itu. Kak Rumi—sapaan akrabnya—terlihat modis untuk wanita seusianya.
Diiringi suara pembawa berita pada televisi, dia menceritakan menjadi seorang pendongeng tak pernah terpikirkan olehnya.
Bahkan, dia tak pernah mengetahui bahwa pendongeng adalah sebuah pekerjaan. Hingga akhirnya, dia mengikuti lomba mendongeng yang diadakan oleh Perpustakaan Daerah Tuban pada 2018.
Berbekalkan ilmu dari kegiatan semasa sekolah yang dia ikuti, seperti berpuisi, ikut teater, dan juga sering menjadi MC, menjadikan Rumi tak kesusahan untuk mencoba menjadi pendongeng.
Ditambah semasa kecil, ibunya kerap kali mendongeng sebelum dia tidur. ‘’Kalau tanya dari siapa belajar, saya belajar dari ibu. Ditambah kemampuan bahasa, public speaking, dan mengarang yang saya miliki,” ujarnya.
Ketika dinyatakan menang seleksi pendongeng tingkat kabupaten tersebut, wanita 36 tahun ini itu akhirnya memberanikan diri ikut seleksi pendongeng tingkat nasional.
Dan tanpa disangka, dia meraih juara 1 pendongeng tingkat nasional tahun 2019. Pada momen itulah, pandangannya terkait dongeng terbuka lebar.
‘’Setelah bertemu dengan teman-teman pendongeng lainnya, saya baru tahu pendongeng bisa jadi profesi,” terangnya dengan suara ceria khas Rumi.
Masih dengan mata yang berbinar, dia mengatakan bahwa mendongeng adalah hal yang dia sukai. Sehingga, wanita kelahiran 1988 itu tidak pernah merasakan kesulitan saat proses mendongeng.
Mendongeng membuatnya bisa meralisasikan cita-citanya menjadi seorang pembawa berita, namun dengan konteks yang berbeda.
‘’Dengan mendongeng, saya masih bisa tampil namun dengan karya yang berbeda, meski memang bukan jadi pembawa berita,” katanya disertai tawa.
Kendati tidak mengalami kesulitan saat proses mendongeng. Namun, diakui lulusan Universitas Negeri Surabaya itu, bahwa personal branding menjadi tantangannya masa kini. Lantaran, setiap pendongeng pasti memiliki ciri khas masing-masing.
Personal branding dirasa penting untuk menjadi pengingat tersendiri pada si pendongeng.
Disampaikan dia, sebagai guru yang bekecimpung di dunia anak-anak. Rumi memutuskan untuk menambahkan aspek-aspek pengembangan diri anak. Selain itu, dikarenakan lahir di Tuban dia sering membuat cerita dengan kearifan lokal.
‘’Ceritanya saya buat sendiri, jadi bukan yang dari cerita yang sudah ada. Seperti halnya, saya penah buat cerita tentang kepi si penyelamat lautan yang terinspirasi dari tempat kita,” jelasnya.
Salah satu pendiri Komunitas Pelopor Dongeng Anak Tuban (Kompor Donat) itu mengungkapkan, mendongeng adalah sarana memberikan nasihat tanpa harus menggurui. Sehingga, pesan yang diberikan akan lebih mudah dipahami oleh pendengarnya.
‘’Dongeng adalah syarat di mana kita ingin memberi nasihat tanpa harus menggurui, ada pesan yang tertuang di dalam naskah. Jadi, orangnya sendiri yang akan menilai maknanya apa di dongeng tersebut,” tandasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama