Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Rati Handani Dyah Ayu Kusumaningtyas, Ndhuk Berbakat Tuban 2024 yang Bangga dengan Seni Tradisional

Hardiyati Budi Anggraeni • Senin, 19 Agustus 2024 | 02:42 WIB
Photo
Photo

 

RADARTUBAN - Lahir di tengah keluarga seniman menjadikan Rati Handani Dyah Ayu Kusumaningtyas lekat dengan kesenian Jawa.

Sejak kecil, dara yang karib Rati ini sudah dikenalkan orang tuanya dengan kesenian. Diajari mendalang, bermain gamelan, hingga nembang macapat.

Ketika beranjak remaja—di saat teman sebayanya prefer terhadap hal-hal yang berbau modern, Rati tetap konsisten dengan kesenian tradisional. Dan semua itu bukan karena paksaan orang tua.

Melainkan berangkat dari kesadarannya sendiri.

Dan salah satu yang ditekuni adalah tembang macapat.

‘’Awalnya memang sempat tidak percaya diri. Tapi sekarang sudah biasa,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Ketika mendaftar diri mengikuti kompetisi Duta Wisata Cung Ndhuk 2024, Ratih memilih untuk menunjukkan kemampuannya nembang macapat dan juga mendalang.

Dan itulah yang kemudian mengantarkannya terpilih menjadi Ndhuk Berbakat Tuban 2024.

‘’Tentu saja tidak menyangka, karena aku hanya berpikir kayaknya nggak ada yang sama seperti aku. Jadi aku memberanikan diri untuk nembang waktu Cung Ndhuk kemarin,” ungkapnya.

Kendati agak sulit untuk menguasai tembang macapat, lantaran harus memahami tinggi rendahnya nada.

Namun, terang Ratih, ketika seseorang memiliki semangat untuk belajar semua akan terlewatkan.

‘’Karena kalau nembang itu kan memang harus bisa menguasai tinggi rendahnya nada dan cengkok juga. Tapi kalau memang benar-benar mau belajar, gak ada yang susah,” katanya.

Walaupun tengah menempuh pendidikan dengan jurusan yang bukan kesenian. Tetapi, dia masih ingin terus mengasah bakat yang sudah dimiliki.

Selain untuk meng-upgrade diri, dia berkeinginan agar kesenian tersebut tidak tergerus oleh zaman. Apalagi, banyak di antara anak muda sebayanya yang kurang tertarik dengan kesenian ini.

‘’Nanti kalau tidak ada yang melestarikan, takut hilang. Sekarang belum hilang saja sudah ada yang diakui sama negara lain,” pungkas dara kelahiran 2004 itu. (gi/tok)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#kesenian jawa #ndhuk tuban #tradisional #duta wisata