Di zaman kiwari ini, tidak banyak generasi muda yang cinta dan peduli terhadap budaya bangsa ini. Sasinta Dewi Saraya adalah satu di antara Gen Z yang masih peduli terhadap budayanya sendiri. Di tempat tinggalnya, Desa Sawahan, Kecamatan Rengel, dia mendirikan sanggar tari tradisional.
JIWA seni sudah melekat dalam diri Sasinta sejak masih anak-anak. Khususnya seni tari. Sejak kecil hingga sekarang, kecintaannya terhadap tari tradisional tidak pernah luntur. Sebaliknya, semakin dewasa semakin menjiwai dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur tersebut.
Aktualisasi kecintaannya itu diwujudkan dengan mendirikan sanggar tari di desanya. Dan semua itu bermula dari keprihatinannya terhadap generasi muda yang semakin terinfiltrasi budaya modern.
Kisah itu berawal pasca menempuh pendidikan S1. Usai kuliah, perempuan kelahiran tahun 2000 itu menjadi guru ekstrakurikuler.
Dari pengalamannya mengajar tersebut, alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu akhirnya menginisiasi untuk mendirikan sanggar tari di tempat tinggalnya. Tujuannya, mengajak dan menampung anak-anak untuk belajar tari tradisional.
Meski harus menguras tabungan dan mengorbankan banyak waktunya, sanggar tari yang diberi nama Natya Cakrawati itu akhirnya berhasil didirikannya. ‘’Saya ingin mengajak anak-anak untuk mencintai budayanya sendiri,’’ tuturnya.
Kini, sanggar tari didirikan itu telah memiliki kurang lebih 50 peserta didik yang dibagi menjadi tiga kelas, yakni kelas A untuk usia 5-10 tahun, kelas B untuk usia 11-15 tahun, dan kelas C untuk usia di atas 16 tahun.
‘’Alhamdulillah respon masyarakat cukup positif adanya sanggar tari ini,’’ tandasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama