Rasa suka berawal dari terbiasa. Mungkin itulah kata yang tepat menggambarkan perjalanan Solikhul Hadi menjadi musisi kendang. Berkat konsistensinya memainkan alat musik kendang, kini dia menjadi penabuh kendang yang kondang. Dia ingin mengajak anak-anak muda mencintai alat musik kendang.
DUM dum dum, tak tak tak, tuk tuk tuk, chk dum chk dum… Hentakan kendang itu terdengar rancak mengiringi alunan musik dangdut yang sedang dimainkan. Siapa pun yang mendengarnya, terlebih bagi pecinta musik dangdut, serasa ingin berjoget bersama alunan kendang yang penuh irama.
Dari channel Youtube Soraya Music tersebut, Solikhul Hadi tampak piawai memainkan kendang.
Kedua tangannya begitu lihai menabuh alat musik dari kulit tersebut. Dum tak dum dum chk… Dan lelaki jangkung penambuh kendang itu Solikhul Hadi.
Di kalangan seniman musik dan pecinta dangdut, Solikhul Hadi atau yang karib disapa dengan nama panggung Kaji Krobell itu tak asing lagi.
Dia sudah malang melintang memainkan musik kendang. Dan kini bergabung di grup musik Soraya. ‘’Bagi saya, dangdut tanpa kendang itu seperti masakan tanpa garam,’’ katanya.
Ikhul—sapaan akrabnya—menyukai musik dangdut sudah sejak kecil. Tepatnya saat duduk di kelas 5 sekolah dasar (SD).
‘’Ndak tahu kenapa, waktu itu saya suka sekali dengan musik dangdut,’’ terang pemuda kelahiran 2001 itu.
Dari musik dangdut itulah, lama-lama dia menyukai kendang. Tepatnya saat memasuki usia 12 tahun.
Dari situ, lalu mencoba memainkannya, dan kini menjadi pemain kendang profesional. Meski belum bisa dibilang sukses-sukses amat, Ikhul tetap bangga bisa membantu ekonomi keluarga dengan bermain kendang.
Di luar itu, terang Ikhul, yang membuat semangatnya bermain kendang terus menyala, adalah menjaga dan melestarikan alat musik tradisional khas Jawa Timur tersebut. Terlebih, di tengah gempuran musik modern seperti pop, rock, hingga jazz yang lebih diminati oleh anak muda sepantarannya.
‘’Kendang merupakan alat musik tradisional, makanya harus dilestarikan. Dan kalau bukan generasi muda seperti kita, lalu siapa lagi,” ujar pria yang kini berusia 23 tahun itu.
Di balik kepiawaiannya memainkan alat musik kendang, Ikhul ternyata tidak pernah mengikuti les musik kendang.
Sejak pertama kali memegang kendang hingga bisa memainkannya secara profesional, pemuda asal Desa Prambonwetan, Kecamatan Rengel itu hanya belajar secara otodidak. ‘’Saya suka dan saya belajar,’’ katanya.
Meski tak terlahir dari keluarga seniman, Ikhul meyakini bahwa hobi adalah bakat. Sebab itu, dia terus mengasah bakatnya hingga benar-benar bisa dan menjadi pemain kendang pilih tanding untuk lokal Tuban.
‘’Alhamdulillah, sudah sering tampil di banyak kabupaten/kota,’’ katanya bersyukur.
Alumni MAN 2 Tuban ini mengaku bersyukur lantaran bisa membantu ekonomi keluarga dari bermain kendang.
Sebab, dulu dia tidak pernah berpikir bisa makan dari bermain kendang. Namun, seiring berjalannya waktu, Tuhan ternyata memberikan rezeki kepada dirinya dari bermain kendang. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama