RADARTUBAN - Sejak resmi diberlakukan mulai Kamis (2/1) lalu, rekayasa lalu lintas (lalin) yang turut mengubah rute becak wisata religi Sunan Bonang masih menjadi perbincangan hangat di masyarakat, sekaligus menuai beragam pro-kontra di kalangan pengguna jalan.
Jalur becak wisata berubah dari rute awal: Parkiran Kebonsari-Jalan AKBP Suroko-Jalan KH Mustain-Makam Sunan Bonang, kini rute tersebut berubah dari Parkiran Kebonsari-Jalan AKBP Suroko, lalu belok kiri ke Jalan Basuki Rahmat, kemudian melewati Jalan Pemuda-masuk Makam Sunan melalui pintu barat.
Rute balik becak pun berbeda dari saat berangkat. Ketika balik, dari Jalan Pemuda, lalu lurus menuju Jalan Lukman Hakim, sesampainya di Jalan Gajah Mada belok kiri kembali ke Parkiran Kebonsari.
Dampak paling signifikan dari perubahan rute tersebut dirasakan langsung oleh tukang becak wisata religi yang mengeluhkan jauhnya rute untuk mengantar peziarah.
Sukardi, tukang becak wisata saat ditemui wartawan koran ini, Jumat (3/1) mengungkapkan, jauhnya rute membuat sebagian peziarah enggan naik jasa becak miliknya.
‘’Biasanya dapat 15-20 pelanggan setiap hari, sejak rute berubah hanya dapat 10-15 pelanggan,’’ tuturnya.
Jauhnya rute yang dialihkan menurutnya tidak sebanding dengan ongkos antar yang dipatoknya yakni kisaran Rp 15 ribu sekali berangkat.
‘’Biasanya Rp 15 ribu rute lurus saja, sekarang rutenya berbelok-belok,’’ ujar dia.
Senada yang diungkapkan oleh Wartono, dirinya menyebut saat rute diubah melewati Jalan Basuki Rahmat membuatnya cukup cemas lantaran jalur tersebut satu arah yang dilewati pengendara roda dua dan empat berkecepatan di atas rata-rata.
‘’Cukup cemas harus berbagi jalur dengan pengendara berkecepatan tinggi, apalagi harus membawa penumpang,’’ ungkap dia.
Sementara itu, Khusaeri salah satu pengguna Jalan di Basuki Rahmat saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Tuban turut mengeluhkan banyaknya becak yang memadati Jalan Basuki Rahmat.
‘’Saya awalnya juga kaget tiba-tiba tidak ada pemberitahuan becak melewati rute sini (Jalan Basuki Rahmat, Red),’’ katanya.
Terpisah, Kabid Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Tuban Imam Isdarmawan menyampaikan, pro-kontra pasti selalu ada, apalagi terkait penerapan kebijakan baru.
Lanjut Imam, pengendara juga harus mulai membiasakan dengan rekayasa lalu lintas terbaru.
‘’Kami juga akan terus melakukan evaluasi terkait rekayasa lalu lintas baru, apakah ada yang perlu diubah atau memang dirasa sudah cukup aman diterapkan,’’ tandasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama