Di tengah usia senjanya, Mbah Somi tetap mendedikasikan hidupnya menekuni seni tembikar tradisional. Hal yang paling dicemaskan dari zaman yang terus berkembang adalah minimnya regenerasi pengrajin gendok. Dia khawatir usahanya hilang ditelan zaman.
DI BAWAH langit berawan dengan cuaca terik siang itu, seorang wanita lansia terlihat begitu telaten membolak-balik tanah liat di hadapannya.
Dialah Mbah Somi, pengrajin gerabah gendok selama tiga generasi di Desa Karang, Kecamatan Semanding.
Tangan keriputnya terlihat tak kenal lelah memutar roda gerabah—menciptakan gendok dan kuali. Namun, suasana siang itu tampak sepi. Hanya Mbah Somi bersama satu wanita seusianya yang turut membantu.
Sementara tidak tampak satu pun keterwakilan generasi muda. Hal ini menggambarkan bahwa pengrajin gendok di Tuban mulai minim generasi.
Kerajinan yang sudah eksis sejak Mbah Somi masih kanak-kanak, itu kini terancam punah lantaran tidak ada generasi muda yang berkenan meneruskannya.
‘’Sudah tidak ada lagi yang mau kerja kotor-kotoran seperti ini. Anak muda saat ini lebih milih kerja kantoran,’’ ujarnya dengan bahasa Jawa Krama sembari tetap memutar roda gerabahnya.
Hanya dibantu dengan sang anak dan salah seorang kerabatnya, Mbah Somi yang kini berusia 70 tahun itu tetap berharap usaha gendoknya tidak hilang ditelan zaman.
Karena itu, saban ada pihak sekolah yang ingin siswa-siswinya belajar membikin gendok, dirinya selalu mengiyakan.
‘’Banyak yang datang untuk belajar membuat gendok dari tanah liat,’’ tuturnya.
Baginya, permintaan pihak sekolah ini bagaikan angin segar untuk usahanya, sekaligus menjadi dorongan agar dirinya dan sang anak tak menyerah begitu saja atas keberlangsungan usaha kerajinan tradisional yang sudah diwariskan turun temurun itu.
‘’Saya khawatir bisnis kerajinan ini tutup jika nantinya saya sudah tidak bisa melanjutkan. Meski ada anak saya, tapi cucu saya tak bersedia,’’ terangnya.
Lebih lanjut, nenek empat cucu itu menyampaikan, kerajinan tradisional karyanya itu hanya dihargai Rp 1.200 untuk kuali kecil dan Rp 10.000 untuk gendok besar. Harga ini kesannya tampak tak sebanding dengan lelahnya tubuh rentanya melakukan berbagai proses panjang pembuatan gerabah.
Puluhan tahun berkecimpung dalam kerajinan ini, Mbah Somi seyogianya berharap jika ada keturunannya yang tetap menjaga agar usahanya membikin gerabah ini tetap eksis. Namun apa daya, kegiatan ini tampaknya sudah tidak lagi menarik di mata anak-anak muda.
Warti, anak Mbah Somi menambahkan, selama menekuni kerajinan tembikar tradisional tersebut, dirinya dan sang ibu juga kerap kali menerima permintaan gerabah untuk dikirim ke luar Tuban, seperti Cepu dan Bawean yang menjadi langganan.
‘’Wadah kuali dan gendok ini dikirim ke luar kota, biasanya untuk digunakan sebagai wadah ikan pindang, bahan dapur, dan air,’’ ungkap wanita berusia 43 tahun itu. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama