RADARTUBAN - Selain menjalankan fungsi jurnalistik: memproduksi dan menyajikan sebuah berita, media massa juga memiliki tanggung jawab edukasi kepada masyarakat. Peran itulah yang konsisten dijalankan Jawa Pos Radar Tuban.
Media arus utama di Kabupaten Tuban ini memberikan ruang dan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siapa saja yang ingin belajar tentang jurnalistik. Khususnya para pelajar.
Baca Juga: MAN 2 Lamongan Belajar Jurnalistik dari Ruang Redaksi Jawa Pos Radar Tuban
Kemarin (13/2), Jawa Pos Radar Tuban menerima kunjungan dari MA Assalam Bangilan.
Sebanyak 31 siswi yang tergabung dalam ekstrakurikuler Literasi and Journalism of Assalam (LJA) dan dua guru pendamping berkesempatan secara langsung untuk mengetahui proses pembuatan berita koran Jawa Pos Radar Tuban hingga pra cetak.
Dipandu oleh Redaktur Pelaksana Jawa Pos Radar Tuban Ahmad Atho’illah, para siswa mengaku terkesan melihat proses produksi berita media cetak yang begitu ketat. Jauh dari bayangan Gen Z—yang terbiasa melihat konten media sosial.
Dalam kesempatan tersebut, para siswa juga mendapat pemahaman secara detail tentang perbedaan media massa dan media sosial, yang selama ini jarang dipahami. Juga tentang literasi media dan literasi digital.
‘’Sekarang kami jadi paham, ternyata tugas seorang jurnalis itu tidak mudah. Dan berkat kunjungan redaksi ini, akhirnya kami bisa memahami perbedaan antara media massa dan media sosial, yang selama ini kami anggap sama,’’ tutur Anisa Faradina, salah siswi.
Joyo Juwoto, salah satu guru pendamping menyampaikan, kunjungan redaksi ke Jawa Pos Radar Tuban merupakan kesempatan yang sangat berharga. Begitu banyak pengalaman baru yang didapat anak didiknya—yang selama ini jarang diketahui dari bangku sekolah.
‘’Semoga kunjungan redaksi ini bisa memberikan imbas positif untuk anak-anak. Khususnya pemahaman terkait literasi media, yang ternyata sangat amat penting di tengah distorsi media sosial yang semakin tidak terkendali ini,’’ tuturnya.
Dalam paparannya, Redaktur Pelaksana Jawa Pos Radar Tuban Ahmad Atho’illah menyampaikan, di era sekarang ini, setiap orang, khususnya generasi muda harus memiliki pemahaman tentang literasi digital dan literasi media.
Sebab, di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, banyak orang yang terjebak dalam distorsi media sosial. Itu pula yang mengakibatkan banyak pengguna media sosial termakan hoaks, dan bahkan terjerat Undang-Undang UU ITE. ‘’Semua itu bermula dari lemahnya literasi digital dan lemahnya pengetahuan terkait media massa,’’ tegasnya.
Lebih lanjut, Atok—sapaan akrabnya—mengatakan, sebagai tanggung jawab sosial kepada masyarakat, Jawa Pos Radar Tuban memberikan kesempatan kepada siapa saja yang ingin belajar tentang jurnalistik. Khususnya para pelajar.
‘’Media juga memiliki tanggung jawab memberikan edukasi kepada masyarakat. Karena itu, redaksi Jawa Pos Radar Tuban terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar jurnalistik. Dan kami akan sangat senang jika bisa menjadi bagian dari upaya mencerdaskan masyarakat,’’ tandasnya. (tok)
Editor : Yudha Satria Aditama