RADARTUBAN - Menyanyi, sepertinya sudah menjadi hobi sebagian besar orang. Tidak terkecuali bagi Atik Abawaiki. Namun, di saat kebanyakan orang menyukai lagu-lagu pop yang populer, Atik—sapaan akrabnya—justru lebih menyukai musik-musik religi untuk dinyanyikan.
Awalnya, Atik tidak berfokus pada menyanyi, melainkan mengikuti lomba tilawah anak saat dirinya berada dibangku kelas 4 madrasah ibtidaiyah (MI).
Dari ajang tersebut, dia kemudian tertarik merambah ke dunia tarik suara dan bisa konsisten hingga 11 tahun lamanya menekuni lagu-lagu religi untuk dinyanyikan.
Bagi Atik, tidak ada alasan tersendiri memilih genre musik religi untuk ditekuni. Menurutnya, semua hal tersebut mengalir sendiri dan murni karena dia menyukai melodi lembut dan menenangkan dari musik-musik tersebut.
Baca Juga: Oknum Suporter Persela Merusak Stadion Tuban Sport Center Pasca Tertinggal Gol dari Persijap Jepara
‘’Terkadang juga menyanyikan genre lagu lain, tetapi lebih sering dan suka membawakan lagu religi,” tuturnya.
Bahkan, gadis 21 tahun itu juga beberapa kali mendapatkan undangan untuk bernyanyi di acara hajatan dan pengajian hingga luar Kota Legen. Dia juga mengaku, jika saat ini dirinya cukup aktif melakoni musik hadroh dan sering mengikuti acara maupun festival musik tersebut.
‘’Saya terinspirasi dari kakak perempuan saya. Dia yang mengenalkan saya pertama kali ke dunia tarik suara, termasuk berbagai pengalaman di bidang ini,” imbuh mahasiswi Universitas Bojonegoro itu.
Menurutnya, kakak perempuannya itu memberikan dukungan penuh dan semangat untuknya dalam menekuni bidang ini. Gadis asal Kecamatan Soko itu juga menuturkan, melalui bernyanyi dia bisa menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan melalui lagu-lagu yang dibawakannya.
Selain bernyanyi, Atik juga aktif melakukan kegiatan lain, seperti menjadi kreator henna art, melukis, hingga menjadi pecinta alam. Meski begitu, hal paling favorit untuk dilakoninya tetaplah bernyanyi.
‘’Saat ini saya hanya ingin fokus untuk lebih banyak belajar bernyanyi dengan menikmati segala proses yang ada,’’ tandasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama