Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gen Z Radar Tuban - Plus Minus Homeschooling Pada Anak

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 10 Maret 2025 | 14:30 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RADARTUBAN - Home­schooling merupakan salah satu pendidikan informal yang bisa diperoleh siapa saja.

Materi pelajaran dalam metode pendidikan ini umumnya dapat dipilih dan dise­suai­kan sen­diri oleh orang tua maupun anak yang memilih men­dapatkan pendidikan dengan cara di rumah saja.

Pendekatan ini semakin populer di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dipicu fleksibilitas dan penyesuaian kurikulum yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan minat anak. Meski bertajuk homeschooling, tetapi pembelajaran dalam hal ini tidak selalu dilakukan di rumah.

Melainkan dapat dilakukan di mana saja dengan mengutamakan kenya­manan individu yang berada di dalamnya dengan kondisi yang benar-benar nyaman dan menye­nangkan seperti berada di rumah.

Merujuk pada Ahmadi & Susilo (2020) dalam jurnal berjudul Homeschooling Sebagai Pendidikan Alternatif di Era Modern (Studi Kasus Makna Homeschooling Mayantara Kota Malang), pilihan homeschooling ini umumnya didasari oleh keinginan untuk menjadikan anak berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Selain itu, rasa ketidakpercayaan dengan sekolah formal karena berbagai sebab seperti lingkungan sekolah dan pergaulan yang ada.

Pada rujukan lain, Suparman (2023) dalam Jurnal berjudul Pendidikan Homeschooling Sebagai Alternatif Belajar Sesuai Kebutuhan Siswa, kurikulum dalam jenis pendidikan ini merupakan kurikulum yang dirancang secara pribadi. Meski begitu, tetap mengacu pada kurikulum nasional yang berlaku.

Homeschooling umumnya terdapat di kota-kota besar yang tidak memung­kinkan seorang anak atau individu mendapatkan pendidikan formal.

Seperti pekerjaan orang tua yang berpindah-pindah, anak yang ber­profesi sebagai artis, atlet, model, anak berkebutuhan khusus, bahkan anak dengan kepandaian diatas rata-rata.

Meski begitu, pada penelitian Aziz, dkk (2023) dalam jurnal berjudul Efek Psikologis Pembelajaran Homeschooling dalam Penerapan Teori Sosial Kognitif dan Konstruktivisme, homeschooling ini dapat mem­berikan berbagai dampak pada sisi psikologis individu yang be­rada dalam sistem pendidikan ini.

Mulai dari memiliki sikap indi­vidualis, rasa bosan dan kesepian saat belajar, anak tidak akan merasa tertekan saat ingin mengem­bang­kan kreativitasnya, dan tidak akan minder dengan cluster kelompok peserta didik yang berdasarkan Intelligence Quotient (IQ).

Sedangkan merujuk pada hasil penelitian Nusa (2020) dalam jurnal berjudul Dampak Homeschooling Terhadap Perkembangan Sosial Anak serta Peranan Konselor, individu akan kesulitan untuk mendapatkan teman baru, kesulitan bersosialisasi dengan lingkungan, membutuhkan waktu untuk merasa nyaman dan dekat dengan lingkungan sekitar. Serta kesulitan untuk menemukan hal-hal baru, hingga menyebabkan individu menjadi kurang pergaulan.

Berbagai faktor melatarbelakangi pemilihan sistem pendidikan ini untuk dijadikan pilihan. Mulai dari sulitnya mencari sekolah formal yang tepat, berbagai masalah yang terjadi diluar sekolah seperti berpindah-pindah tempat tinggal, anak tidak bisa menyesuaikan diri dengan sistem sekolah formal, hingga munculnya rasa tidak nyaman dengan kurikulum sekolah dan lingkungan yang ada.

Di Tuban, sejumlah pelajar sudah melakukan homeschooling. Meskipun belum banyak. Namun sistem sekolah nonformal ini dipilih dengan alasan tugas orang tua yang sering berpindah-pindah.

Mereka memanfaatkan homeschooling agar anak tidak kebingungan untuk selalu belajar adaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi, lingkungan dari satu pulau ke pulau yang lain sangat berbeda.

Tanpa alasan khusus tersebut, mayoritas masyarakat masih me­mercayakan sekolah formal untuk mendidik buah hati mereka. Selain memiliki standar pembe­lajaran yang jelas, sekolah formal dirasa memiliki banyak keunggulan yang tidak bisa dimiliki sekolah nonformal. (saf/yud)

 

Mengenal Homeschooling

Homeschooling adalah metode pendidikan untuk anak belajar di luar sistem sekolah formal. Biasanya di rumah, dengan bimbingan orang tua, tutor, atau lembaga homeschooling resmi.

 

Kelebihan:

  1. Fleksibilitas waktu dan tempat – Anak bisa belajar kapan saja dan di mana saja.
  2. Personalisasi pembelajaran – Kurikulum dapat disesuaikan dengan minat, bakat, dan gaya belajar anak.
  3. Lingkungan yang lebih aman dan nyaman – Anak terhindar dari bullying, tekanan sosial, atau gangguan lain yang mungkin terjadi di sekolah formal.
  4. Fokus pada karakter dan nilai – Orang tua bisa menanamkan nilai-nilai yang dianggap penting secara langsung.
  5. Pengembangan minat khusus – Anak punya lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi bidang yang disukai secara mendalam.

Kekurangan:

  1. Kurangnya interaksi sosial – Anak mungkin memiliki peluang terbatas untuk bersosialisasi dengan teman sebaya.
  2. Tuntutan waktu dan energi orang tua – Orang tua perlu aktif terlibat dalam proses belajar, yang bisa menyita waktu dan tenaga.
  3. Biaya yang bisa lebih tinggi – Terutama jika menggunakan tutor, ikut program homeschooling formal, atau menyediakan banyak sumber belajar.
  4. Kesulitan administrasi – Perlu mengikuti regulasi pemerintah terkait legalitas dan ujian kesetaraan (seperti Paket A, B, C di Indonesia).
  5. Kurangnya fasilitas seperti di sekolah – Seperti laboratorium, perpustakaan, atau kegiatan ekstrakurikuler terorganisir.
Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #waktu #fleksibel #minus #Plus #kurikulum #belajar #anak #homeschooling