Finlandia disebut menjadi salah satu negara dengan pendidikan terbaik di dunia. Pendidikan yang fokus pada pembelajaran menyenangkan dan fleksibel itu diadopsi di lingkungan belajar SMPN 3 Montong.
BUTUH waktu perjalanan sekitar 45 menit dari Tuban menuju SMPN 3 Montong. Berjarak 30 kilometer ke arah barat kota Tuban, sekolah yang lokasinya bersebelahan dengan api abadi di Desa Maindu ini memiliki cara unik dalam kegiatan belajar mengajar. Salah satu yang paling terlihat, guru dilarang memberi pekerjaan rumah (PR) kepada peserta didik. Mirip seperti pendidikan di Finlandia.
Kepala SMPN 3 Montong, Subekti Wahono, M.Pd mengatakan, meniadakan PR bagi siswa memiliki tujuan agar siswa memiliki lebih banyak waktu bersosialisasi dan mengembangkan minat serta bakat di luar jam pelajaran.
‘’Kebijakan ini untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan memberdayakan siswa secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi akademik,’’ tutur dia.
Baca Juga: Tiga Hal yang Bikin Warga Finlandia Paling Bahagia di Dunia
Ditiadakan tugas rumah itu, kata Kak Bex sapaan akrabnya, diimbangi dengan pembelajaran optimal sewaktu di sekolah.
Siswa diajarkan untuk dekat dengan pembelajaran teknologi. Tidak hanya melalui laboratorium komputer sekolah, pemanfaatan gawai siswa di sekolah dimaksimalkan untuk belajar di setiap sudut sekolah.
‘’Internet di sekolah kami maksimalkan kecepatannya agar siswa betah untuk belajar dan mencari informasi di sekolah,’’ ungkapnya.
Setiap siswa diajak untuk aktif mencari informasi, berdiskusi, serta menyelesaikan tugas-tugas berbasis literasi secara kolaboratif melalui platform digital.
‘’Dengan pembelajaran daring yang fleksibel dan berbasis teknologi, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis dan mandiri,” kata lulusan pascasarjana Universitas Gresik itu.
Pendidik yang juga Ketua Brigade Penolong 13.23 Kwarcab Tuban ini menegaskan, dengan pembelajaran optimal di sekolah, maka siswa tidak perlu mengerjakan tugas atau PR waktu di rumah.
Sehingga, waktu pulang sekolah bisa dimaksimalkan untuk sosialisasi dan menjalin silaturahmi dengan sesama.
‘’Siswa harus belajar dengan perasaan senang, jangan sampai ada rasa terpaksa dalam menuntut ilmu,’’ tegas dia.
Respons siswa terhadap sistem baru ini pun sangat positif. Banyak di antara mereka yang kini lebih aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, mengikuti lomba-lomba, hingga mengembangkan proyek-proyek pembelajaran yang sesuai dengan minat mereka.
‘’Pembelajaran ini dibersamai dengan pendidikan agama yang baik, sehingga siswa berwawasan global dan memiliki kearifan lokal,’’ ungkap pendidik asal Desa Cangkring, Kecamatan Plumpang.
Tak hanya itu, materi yang diajarkan adalah hasil kesepakatan antara guru dan siswa di awal tahun pelajaran. Selanjutnya, dilakukan mapping atau pemetaan untuk masing-masing mata pelajaran.
‘’Pembelajaran menggunakan sistem moving class agar siswa mendapatkan materi belajar sesuai dengan minat dan bakatnya,’’ tutur Kak Bex.
Langkah progresif SMPN 3 Montong ini dinilai sebagai salah satu contoh transformasi pendidikan yang adaptif dan berpihak pada perkembangan holistik peserta didik.
Serta sejalan dengan semangat Merdeka Belajar yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (yud)
Editor : Yudha Satria Aditama