RADARTUBAN - Kalau kamu menyusuri lorong sejarah Tuban, ada satu nama pabrik gula yang nggak boleh dilewatkan: Waringin Agoong.
Berdiri sejak 1840, pabrik ini jadi saksi bisu lahirnya industri tebu massal di Kabupaten Tuban, sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak—tinggal cerita manis yang masih terus dipertukarkan.
Pada era 1840-an, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda getol melakukan uji coba budidaya tebu untuk memasok gula ke pasar Eropa.
Dari sekian banyak lahan percobaan, wilayah Waringin Agoong terpilih karena tanahnya relatif subur dan dekat jalur transportasi.
Seiring berdirinya pabrik, jumlah penduduk di sekitar kawasan ini pun perlahan meningkat, walau pertumbuhannya tidak instan—lebih cocok disebut ‘ngendhok’ daripada ‘meledak’.
Pabrik Gula Waringin Agoong sendiri didirikan oleh perusahaan Belanda bernama Dudman & Co.
Mereka memilih sebidang lahan seluas 52,29 hektare di sekitar Merik, yang kemudian dipakai untuk menanam tebu dan mendirikan fasilitas pengolahan.
Nama “Waringin Agoong” diambil dari deretan pohon waringin besar yang tumbuh tidak jauh dari bangunan pabrik, seakan memberi naungan dan semangat bagi para pekerja di bawahnya.
Di Karesidenan Rembang pada pertengahan abad ke-19, Pabrik Waringin Agoong hanya satu dari dua pabrik gula yang beroperasi—satunya lagi Pabrik Gula Toelis di kota Rembang. Pada masanya, gula adalah komoditas dagang mahal.
Tahun 1896, pabrik ini bahkan sempat dijual terbuka ke publik seharga 14.000 gulden.
Transaksi ini jadi salah satu momen penting dalam sejarah ekonomi lokal, karena menggambarkan pergeseran kepemilikan dan strategi kolonial dalam mengelola industri gula.
Karena perintah pemerintah kolonial, para petani di Tuban diarahkan menanam tebu sebagai sumber bahan baku.
Perlahan tapi pasti, budidaya tebu menunjukkan hasil positif: lahan tadinya ditanami palawija dialihkan ke tebu, dan produksi gula meningkat.
Sekali lagi, Waringin Agoong jadi pusat industri dan laboratorium lapangan bagi kebijakan ekonomi kolonial.
Jejak tertua tentang keberadaan pabrik ini ditemukan di surat kabar Java-Bode edisi 10 Agustus 1853—dipublikasi di Batavia (sekarang Jakarta).
Di sana tertulis perjalanan dinas Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang diundang untuk peresmian pabrik di Djojogan, Kecamatan Singgahan.
Liputan resmi itu menguatkan bahwa pada 1853, pabrik ini sudah beroperasi dan menjadi destinasi penting dalam jaringan transportasi Bojonegoro–Tuban–Jatirogo–Sale–Pamotan–Lasem–Rembang.
Sayangnya, seiring waktu dan berbagai dinamika politik serta teknologi, bangunan fisik Pabrik Gula Waringin Agoong lenyap tanpa bekas.
Tak ada gubuk tua yang tersisa, tak ada tungku pembakaran yang bisa kita saksikan—hanya dokumen, foto hitam putih, dan cerita lisan dari generasi ke generasi.
Meski bangunannya hilang, warisan sejarah Waringin Agoong tetap relevan.
Kisah ini mengajarkan kita tentang bagaimana sebuah komunitas bisa berkembang ketika ada industri, tentang hubungan petani dan pabrik, serta bagaimana kebijakan kolonial membentuk peta ekonomi lokal.
Kini, tugas kita adalah merawat ingatan kolektif ini—agar meski pabriknya tak lagi ada, nilai-nilai perjuangan dan adaptasi masyarakat Tuban tetap terjaga.
Jadi, saat jalan-jalan di Tuban dan mendengar nama Waringin Agoong, ingatlah: di balik kata “gula”, ada kisah panjang tentang tanah, pohon tebu, kapal uap, dan pabrik yang pernah menandai era keemasan industri gula di Jawa.
Meskipun bangunannya kini hilang, jejaknya terus berpijar dalam lembar-lembar sejarah. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama