RADARTUBAN - Kata siapa gen Z tidak mengenal radio.
Irma Fitriah Qurotul Aini adalah salah satu generasi yang lahir sebelum 2012 yang sangat menyukai radio.
Bagi cewek asal Desa Menyunyur, Kecamatan Grabagan Tuban tersebut, radio bukan sekadar media yang menghadirkan suara, tapi menyimpan makna dari yang disampaikan penyiar.
‘’Dari situlah, saya mengatakan bahwa radio itu menarik,’’ ujarnya.
Alumnus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tuban itu mengaku aktif menjadi broadcaster atau penyiar radio sejak tahun lalu.
‘’Awalnya saya ragu ketika ditunjuk menjadi broadcaster di radio kampus, tetapi saya memberanikan diri. Ternyata ada kesan tersendiri yang saya dapat sebagai seorang penyiar ataupun broadcaster,’’ katanya.
Menurut mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar itu, radio memang tidak menampilkan estetika gambar, dan satu-satunya yang diandalkan adalah suara.
Namun, terang dia, radio bisa didengarkan kapan saja dan di mana saja. Apalagi, di handphone juga banyak frekuensi radio yang bisa dipilih.
Irma mengaku bersyukur karena bisa membawa pengaruh melalui radio. Di antara yang sering dibahas, yakni seputar kehidupan gen Z dan isu-isu viral.
Menurutnya, hal yang paling berkesan menjadi seorang broadcaster atau penyiar radio adalah ketika pendengar notice keberadaannya melalui direct message (DM) Instagram.
‘’Rasanya seneng banget, karena di-notice pendengar. Mereka ada yang curhat melalui DM dan memberikan respon terkait siaran sebelumnya,” katanya.
Karena baru memulai tahun lalu menjadi seorang penyiar radio, Irma mengaku terkadang kehabisan ide untuk topik pembahasan dengan narasumber.
‘’Yang paling bikin sedih adalah ketika narasumber tiba-tiba membatalkan, jadi kita harus siap-siap plan B,’’ tandasnya. (gik/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama