RADARTUBAN – Meski musim kemarau telah berlangsung, curah hujan dengan intensitas tinggi selama sepekan terakhir masih mengguyur wilayah Tuban dan sekitarnya.
Tingginya curah hujan tersebut menyebabkan tinggi muka air (TMA) Sungai Bengawan Solo meluap dalam, dua hari terakhir ini.
Luapan bah sungai terpanjang di Pulau Jawa itu mulai menggenangi sejumlah desa di sepanjang bantaran sungai.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Tuban, hingga kemarin (18/5) sudah ada sejumlah desa di 4 kecamatan terdampak banjir, yakni Kecamatan Rengel sebanyak lima desa, meliputi Desa Karangtinoto, Kanorejo, Tambakrejo, Ngadirejo, dan Sawahan.
Selanjutnya, Kecamatan Soko menggenangi tujuh desa, yakni Desa Kenongosari, Sandingrowo, Glagahsari, Pandanwangi, Kendangrejo, Simo, dan Menilo.
Lalu, Kecamatan Widang menerjang tiga desa, yakni Desa Simorejo, Patihan dan Ngadirejo.
Sementara Kecamatan Plumpang tiga desa, yakni Desa Kebomlati, Kedungsoko, dan Klotok.
Meski luapan air tak sebesar bencana banjir yang datang pada Maret lalu.
Namun, sejumlah warga mengeluhkan datangnya banjir pada musim kemarau ini.
Sujarwo, warga Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel yang temui wartawan ini menuturkan, akibat banjir ini dirinya terpaksa memanen padi di persawahannya lebih awal.
‘’Seharusnya masa panennya dua pekan lagi, tapi karena banjir terpaksa harus dipanen sekarang,’’ ujar dia.
Lebih lanjut, pria paro baya itu mengatakan, sejak Sabtu malam (17/5) aliran banjir mulai menggenangi wilayah persawahan di desanya dan jalan poros desa.
‘’Ketinggian air di jalan penghubung desa mulai dari 5 centimeter (cm) hingga 15 cm,’’ terang dia.
Senada yang dikatakan oleh Rianto, warga Desa Kanorejo, Kecamatan Rengel yang mengaku turut dirugikan dengan datangnya bencana banjir.
Tanaman cabai berusia 1,5 bulan yang ditanam di lahan seluas 2,5 hektare itu tak luput dari genangan luapan Bengawan Solo. ‘’Dua kali tanam cabai, dua kali pula terendam banjir,’’ ungkapnya.
Terpisah, Totok Mujianto perangkat Desa Kanorejo, Kecamatan Rengel mengatakan, kurang lebih sekitar 217 hektare sawah di desa setempat yang tergenang banjir.
‘’Empat ruas jalan poros desa juga terendam, kurang lebih total sepanjang 600 meter,’’ bebernya.
Disampaikan Totok, ada dua rumah warga di desa setempat yang juga terendam. Sedangkan fasilitas umum yang terendam hanya satu lembaga pendidikan, yakni SDN Kanorejo 2.
‘’Semoga segera surut dan curah hujan bisa bersahabat agar aktivitas warga bisa normal kembali,’’ harap dia.
Sementara itu, berdasarkan pantauan laporan pengamatan Bengawan Solo wilayah hilir per 18 Mei pukul 16.00.
Pada titik pos pantau wilayah Bojonegoro masih dalam tren siaga merah, yakni berada di angka 14.04 m.
Sedangkan wilayah pos pantau titik Babat masih berada tiga strip menuju siaga kuning, yakni di angka 8.39 m.
Kepala Pelaksana Badan Penanggunlangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Sudarmaji menyampaikan, saat ini pihaknya masih melakukan asesmen pada lokasi yang terdampak banjir.
‘’Asesmen dan pemantauan terus dilakukan, kami menghimbau kepada masyarakat yang tinggal di bantaran sungai agar tetap selalu waspada,’’ tandasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama