RADARTUBAN-Go Tjong Ping bersama sejumlah pengurus-peniliknya dan umat, kemarin (11/) siang mendatangi Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio Tuban.
Agendanya, meminta penjelasan kepada karyawan pengelola kelenteng terkait persiapan Peringatan Ulang Tahun Yang Mulia Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1865 pada 17-18 Juli mendatang.
Pertemuan ketua umum kelenteng terpilih hasil musyawarah umat, Minggu (8/6), dan pengikutnya dengan karyawan pengelola tersebut diwarnai ketegangan dan adu argumentasi.
Salah satunya, terkait permintaan Tjong Ping agar pengelola tidak membatasi tamu yang menginap.
Dia menyebut kelenteng dengan luas area 10 ribu meter persegi itu cukup menampung 5.000 tamu yang menginap.
‘’Saya telah mengelola kelenteng selama 30 tahun. Saya siap mendatangkan terop,’’ tegas mantan anggota DPRD Provinsi Jatim itu sambil menunjukkan surat Keputusan Penerima Kuasa TITD Kwan Sing Bio dan Tjong Ling Kiong Tuban.
Surat dimaksud berisi pemberian mandat pengelola kepada sejumlah pihak. Salah satunya kepada Tjong Ping.
Kepada pengelola, pria bernama pribumi Teguh Prabowo Gunawan itu menyesalkan tidak tertampungnya ribuan tamu dari berbagai daerah.
Ratna, karyawan pengelola kelenteng, menyatakan sudah menerima sekitar 1.600 tamu yang mendaftar menginap.
Dia menerangkan, jumlah tersebut disesuaikan dengan kapasitas tempat tidur.
Soejanto alias Djing Hai, karyawan pengelola kelenteng lainnya menambahkan, pembatasan tamu yang menginap agar mereka mendapat pelayanan layak.
‘’Tidak seperti ikan pindang yang dijejer,’’ ujar dia.
Tjong Ping juga meragukan kesiapan kepanitaan ulang tahun.
Itu karena pada rapat pertama hanya dihadiri 6 orang dan rapat kedua 9 orang.
Karena itu, ketua umum kelenteng dua periode itu berencana menggelar rapat panitia di kelenteng pada Sabtu (12/7) pagi.
‘’Tolong pintunya jangan ditutup,’’ tegas dia yang meminta pengelola untuk tidak melarang pengurus-penilik dan umat yang rapat.
Di tengah ketegangan protes Tjong Ping bersama pengikutnya, Ratna meminta Liana, karyawan lain kelenteng untuk membaca keras-keras surat yang dibawa Tjong Ping.
Dengan begitu, semua tahu mandat dan tanggung jawab Tjong Ping.
Dalam materi surat yang dibacakan karyawan tempat ibadah itu, pengelola Surabaya memberikan mandat kepada Soejanto dan Ratna untuk mengoordinir seluruh kegiatan hiburan kolosal.
Tanggung jawab berikutnya, mengelola penerimaan sumbangan perayaan, penjualan pililin, menyusun dan menyediakan konsumsi umat.
Selanjutnya, mengatur sistem keamanan, menjaga kebersihan area kelenteng, dan mengelola tempat tidur umat yang telah mendaftar.
Tugas Gunawan Putra Wirawan, mengoordinir pelaksanaan ritual agama Buddha, Konghucu, dan Tao.
Sedangkan tanggung jawab Tjong Ping, mengoordinir lomba pakaian adat Tionghoa, lomba melukis, dan lomba fotografi.
Juga mengundang pelukis profesional Surabaya, menghadirkan dokter/ahli akupuntur untuk pelayanan gratis, dan menyiapkan 20 petugas penerima tamu yang mengenakan pakaian adat Tionghoa.
Surat bertanggal 11 Juli 2025 itu ditandatangani Soedomo Mergonoto, salah satu pengelola kelenteng. Dua pengelola lain, Paulus Willy Afandy dan Alim Markus.
Sebelum protes, Tjong Ping bersama pengikutnya menggelar sembahyang di atlar. Prosesi ritual tersebut juga diwarnai ketegangan.
Dalam sembahyang yang dipimpin Widyawati alias Tan Hwie Ngo, tokoh umat itu, mereka meminta restu dan perlindungan kepada Kongco Kwan Kong.
Untuk meminimalisasi terjadinya insiden yang tidak diinginkan, puluhan polisi berpakaian dinas berjaga di halaman parkir barat kelenteng.
Diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, Tjong Ping mengatakan, kedatangannya bersama pengurus-penilik dan umat di kelenteng hanya untuk sembahyang setelah kepengurusan terpilih.
Setelah sembahyang, dia mengajak karyawan pengelola untuk berunding terkait kesiapan ulang tahun. Termasuk keluhan tamu dari berbagai daerah yang ditolak menginap.
‘’Ini bikin malu kita. Orang Tuban siap menampung,’’ tegasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Soejanto enggan mengomentari protes Tjong Ping.
‘’Tanyakan ke Pak Domo (Soedomo) dan Wei Fan (Paulus Willy Afandy,’’ ujarnya.
Sementara itu, Soedomo Mergonoto dan Wei Fan sampai berita ini diturunkan pukul 17.00 belum mengomentari pertanyaan tertulis yang dikirim media ini.(*)
Editor : Dwi Setiyawan