RADARTUBAN – Di balik semangat ukhuwah yang mengalir dalam Silaturahim Kebangsaan dan Doa Bersama 1.000 Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Gedung Graha Dwija PGRI, Sabtu (9/8), terselip suara harapan yang belum sepenuhnya terjawab.
Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (DPD AGPAII) Kabupaten Tuban, Karmuji, menyampaikan kegelisahan para guru PAI yang hingga kini masih menghadapi kesenjangan kesejahteraan dibanding guru mata pelajaran lain.
“Selama ini, guru PAI memiliki peran sentral di lembaga pendidikan. Mereka mengabdi tidak hanya mengajar, tapi juga membentuk karakter siswa. Sayangnya, peran besar ini belum diimbangi kesejahteraan yang setara,” ujar Karmuji, yang disambut anggukan ratusan peserta.
Menurutnya, AGPAII telah berupaya maksimal memperjuangkan nasib para guru agama.
Mulai dari hearing dengan DPRD Tuban terkait pemberangkatan Pendidikan Profesi Guru (PPG), hingga melayangkan surat resmi kepada Dinas Pendidikan dan Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky agar mengalokasikan anggaran dari APBD untuk 452 guru PAI yang belum mendapatkan kesempatan PPG. Namun, hingga kini, realisasi yang diharapkan belum kunjung datang.
“Kami mengetuk pintu langit lewat doa, dan mengetuk hati para pejabat agar nasib guru PAI mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah hingga pusat,” tegasnya.
Bagi Karmuji, perjuangan ini bukan sekadar tuntutan finansial, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi guru agama, yang pada akhirnya akan berdampak langsung pada mutu pendidikan karakter di sekolah.
“Jika guru PAI terfasilitasi dengan baik, generasi muda akan tumbuh dengan pondasi moral yang kokoh,” kata pendidik di SDN Kebonsari 2 Tuban itu.
Suara dari AGPAII ini menjadi catatan penting di tengah gempuran isu pendidikan dan tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia di era digital. Harapan mereka kini tertuju pada komitmen pemerintah untuk tidak menutup mata terhadap kontribusi besar guru agama di Bumi Wali. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni