RADARTUBAN – Obesitas ternyata tidak hanya dialami remaja dan orang dewasa, tapi juga bayi.
Di Tuban, dari Januari hingga Juli lalu, tercatat sebanyak 910 bayi bawah lima tahun (balita) mengalami kelebihan berat bandan dari ukuran normal.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban Roikan menyebut, fenomena obesitas pada balita terjadi karena indeks makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Terutama maraknya jajanan kekinian yang cenderung tinggi kalori, lemak, dan gula, tapi rendah nutrisi.
‘’Terkadang, orang tua terlalu sayang pada anaknya, sehingga membiasakan dan memberikan makanan seperti itu. Padahal, hal ini dapat berdampak buruk pada kesehatan anak di kemudian hari,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Dia juga menyebut, selain karena faktor makanan, kurangnya aktivitas fisik juga menjadi penyebab balita mengalami obesitas.
Menurutnya, era yang serba digital membuat banyak balita lebih sering bermain gawai dibandingkan bermain secara langsung dengan teman-temannya.
Akibatnya, kalori yang masuk tidak diimbangi dengan pembakaran energi yang cukup, sehingga memicu penumpukkan lemak.
Sementara itu, kurva berat badan ideal yang di rancang oleh Kementerian Kesehatan, anak berusia 1-5 tahun setidaknya memiliki rentang berat badan 7-24 kilogram (kg).
Sehingga, jika melebihi rentang tersebut maka menandakan balita mengalami obesitas.
‘’Pandangan tidak mempermasalahkan kegemukan pada anak harus diluruskan. Kalau anak sejak kecil sudah terbiasa mengonsumsi makanan yang tidak sehat dan mengalami obesitas, maka saat dewasa akan berisiko terkena diabetes, hipertensi, hingga masalah kesehatan lainnya,” jelasnya.
Meski fenomena obesitas pada balita di Tuban relatif rendah, karena hanya 1,5 persen dari total 62.558 balita di Kota Legen, namun masalah ini tidak boleh diabaikan.
‘’Orang tua harus lebih memperhatikan indeks makanan yang mengandung nutrisi seimbang untuk anak, bukan sekadar enak dan praktis saja. Jangan membiasakan anak untuk mengonsumsi makanan tinggi gula,” tandasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama