RADARTUBAN – Tribun Stadion Madya Atletik Sena, Deli Serdang, Selasa sore (18/11), mendadak berubah seperti kotak gema raksasa.
Sorak, teriakan, dan tepuk tangan saling bertabrakan begitu nama Dwiki Firmansyah disebut sebagai salah satu kandidat kuat peraih medali nomor lompat tinggi SEA U-18 & U-20 Athletics Championships 2025.
Bagi remaja asal Desa Sumurgung Kecamatan Tuban tersebut, inilah panggung terbesar yang pernah ia pijak.
Panggung yang membuat napas kian pendek, tapi ambisinya justru memanjang.
Berhadapan dengan atlet-atlet terbaik Asia Tenggara, Dwiki tidak sekadar hadir sebagai pelengkap daftar peserta.
Ia melonjak tinggi—secara harfiah—mencatat lompatan 200 sentimeter, angka psikologis yang menjadi batas antara “bagus” dan “luar biasa” di kelompok usia ini.
Catatan itu membuatnya bersaing ketat dengan M. Nawawi dari Malaysia, yang juga melompat setinggi 200 cm.
Hanya saja, Nawawi sedikit lebih bersih dalam jumlah percobaan. Selisih tipis itu memaksa Dwiki mengalah untuk posisi pertama.
Podium kedua menjadi miliknya, sementara podium ketiga dihuni Adi Cahyo—rekannya sesama Indonesia—yang mencatatkan lompatan 195 cm.
Bangga Bisa Wakili Indonesia
Saat dihubungi Jawa Pos Radar Tuban Rabu (19/11), suara Dwiki masih terdengar bergetar oleh adrenalin yang belum hilang.
“Bangga tentunya bisa mewakili Indonesia di kompetisi internasional,” ujarnya.
Kalimat pendek itu terdengar sederhana, namun di baliknya ada bertahun-tahun latihan, pengorbanan, dan mimpi yang diam-diam ia pelihara sejak kecil.
Emosinya meletup ketika menyadari bahwa ia pulang tidak dengan tangan kosong.
“Mohon maaf belum bisa mempersembahkan medali emas. Hasil ini tentu akan menjadi motivasi bagi saya untuk terus meningkatkan prestasi yang telah saya dapatkan,” bebernya—sebuah penanda bahwa kegigihan anak kelahiran 2007 itu belum berhenti di sini.
Tuban Tak Pernah Kekurangan Atlet Berbakat
Kebanggaan serupa datang dari Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Tuban.
Kabid Kepemudaan dan Olahraga, Arman Mitra, menegaskan bahwa prestasi ini bukan sekadar raihan pribadi, tapi juga cermin bahwa Tuban tidak pernah kekurangan bakat.
“Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa Kabupaten Tuban tidak pernah kehabisan atlet-atlet berbakat, semoga prestasi yang telah diraih bisa dikembangkan atau bahkan ditingkatkan menuju level yang lebih tinggi,” ujarnya.
Perak di Deli Serdang bukan tujuan akhir. Bagi Dwiki, perak ini adalah pintu. Pintu menuju lompatan berikutnya—yang mungkin saja lebih tinggi, lebih sulit, dan lebih mengejutkan.
Namun satu hal jelas: Tuban punya lompatan masa depan. Atlet muda yang sudah berani menguji gravitasi… dan mengalahkannya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni