RADARTUBAN – Satu pekan Operasi Zebra Semeru 2025 berjalan, dan hasilnya langsung menohok: tingkat kepatuhan pengendara di Tuban masih jauh dari harapan.
Di jalanan yang setiap hari ramai dilintasi warga Kota Legen, ribuan pelanggar harus berhadapan dengan petugas—sebuah gambaran gamblang bahwa kesadaran berlalu-lintas masih rapuh.
Data Satlantas Polres Tuban mencatat, hingga Senin (24/11), 4.674 pengendara tercatat melakukan pelanggaran.
Dari total itu, 4.031 pelanggar hanya diberi teguran tegas. Sementara 643 pengendara lainnya langsung terkena tilang setelah terjaring penindakan ETLE mobile.
Kaur Binops (KBO) Satlantas Polres Tuban, Ipda Agus Eka, menyebut mayoritas pelanggaran menunjukkan pola yang sama dari tahun ke tahun.
“Masih banyak yang menyepelekan keselamatan berkendara. Mayoritas jenis pelanggar yang kami tindak yakni kategori pengendara di bawah umur dan pengendara yang tidak memakai helm,” ungkapnya.
Di lapangan, petugas juga menemukan berbagai pelanggaran lain yang tak kalah fatal.
Di antaranya, pengemudi memacu motor melebihi batas kecepatan, melawan arus, hingga boncengan lebih dari satu orang. Semua itu disimpulkan sebagai bentuk kelalaian yang membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain.
Misi Berat: Menekan Angka Kecelakaan
Ipda Agus menegaskan bahwa Operasi Zebra bukan sekadar razia musiman.
Pihaknya ingin membangun budaya tertib berlalu-lintas yang tidak tergantung pada kehadiran petugas.
“Harapannya tertib berkendara tidak hanya ketika ada petugas saja, tapi mulai dibiasakan setiap saat,” ujarnya.
Namun pekerjaan rumah petugas di Tuban masih panjang. Rendahnya kesadaran berkendara itu sejalan dengan tingginya angka kecelakaan yang terus menanjak.
Sepanjang Januari–Oktober 2025, tercatat 906 kasus kecelakaan terjadi di Tuban. Angka itu bukan sekadar statistik: 144 di antaranya meninggal dunia, sementara 1.201 orang terluka.
“Jika bisa tertib berkendara tentunya juga akan bisa menekan terjadinya kecelakaan lalu-lintas,” jelas perwira berpangkat balok satu emas itu.
Operasi Zebra Semeru 2025 menjadi pengingat keras bahwa keselamatan di jalan bukan hanya urusan polisi, melainkan tanggung jawab setiap pengendara.
Polisi berjanji terus menekan angka kecelakaan. Tapi tanpa kesadaran masyarakat, pekerjaan itu tak akan pernah selesai. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni