RADARTUBAN – Apakah kehadiran Citimall menguntungkan atau justru merugikan Tuban?
Wacana baru inilah yang sekarang mengemuka setelah sebelumnya memperdebatkan perlu-tidaknya berdiri mall di Bumi Ronggolawe yang kondisi sektor industrinya stagnan dan perekonomian yang melambat pada triwulan pertama 2025.
Diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, taipan Pepeng Putra Wirawan mengatakan, kehadiran Citimall bisa menjadikan Kota Tuban lebih maju dan pendapatan asli daerah (PAD) meningkat, seiring banyaknya brand terkenal masuk.
Menurut dia, kondisi tersebut bisa terealisasi dengan catatan bila melibatkan 80 persen sumber daya manusia (SDM) lokal.
‘’Kalau pelibatan SDM lokal sangat minim dan justru didominasi pengusaha dari luar, kehadiran Citimall tidak berarti apa-apa dan justru merugikan Tuban,’’ ujar owner Favehotel dan Kayu Manis Tuban itu.
Pernyataan Pepeng setidaknya mempertanyakan posisi pengusaha lokal di tengah persaingan usaha seiring rencana beroperasinya mall yang dikelola NWP Property itu.
Ya, kehadiran pusat perbelanjaan modern di Jalan HOS Cokroaminoto, Semanding itu tidak hanya memicu perang dagang antar-brand besar, namun juga dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Persaingan paling ketat juga terjadi pada toko-toko yang sudah eksis di Tuban dengan tenant serupa yang hadir di Citimall.
Masuknya brand besar seperti Mr. DIY, KFC, Oh Some, hingga bioskop XXI akan bersaing dengan outlet dan bisnis serupa, sebelum pusat perbelanjaan ini eksis di Bumi Ronggolawe.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kabupaten Tuban Mukaffi Makki menyebut persaingan antara Citimall dan outlet dengan produk serupa atau UMKM lokal tak terelakkan.
‘’Masuknya brand-brand besar yang lebih dulu beroperasi dengan brand serupa di Citimall memang murni pesaingan bisnis dan pastinya tidak bisa dibendung maupun dilarang,” kata dia.
Gus Kaffi mengatakan, masuknya mall modern yang mengusung sejumlah tenant, jelas memicu penurunan penjualan signifikan pada toko-toko.
Menurutnya, hal itu karena masyarakat berpotensi memilih berbelanja di Citimall dengan pengalaman belanja yang belum pernah didapatkan sebelumnya.
‘’Sebagian masyarakat akan memilih pengalaman belanja yang nyaman, luas, adem, dan saat sekali masuk langsung tersedia banyak pilihan, meski harganya cenderung lebih mahal. Itulah yang dimungkinkan menyebabkan penurunan penjualan toko-toko maupun outlet produk serupa yang lebih dulu berdiri di Tuban,” terang pengusaha yang juga ketua MPC Pemuda Pancasila Tuban itu.
Fenomena tersebut, lanjut Gus Kaffi, dipastikan mengurangi volume penjualan, meski harga jual lebih tinggi.
Dengan demikian, toko-toko dituntut untuk segera berbenah dan meningkatkan kualitas pelayanannya agar setidaknya mampu bertahan dan bersaing dengan Citimall.
Selain persaingan sesama outlet produk serupa, lanjut dia, isu yang juga mendesak seiring masuknya pusat perbelanjaan tersebut adalah nasib UMKM lokal.
Gus Kaffi mengakui keberadaan Citimall memang menawarkan potensi besar, mulai kesempatan memperluas jejaring pasar, produk lebih dikenal, dan kesempatan menjaring pembeli yang sama dengan produk ternama.
Hanya saja, potensi tersebut terbentur dengan mahalnya harga sewa stand di pusat perbelanjaan modern.
‘’Saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang UMKM dari warga sekitar. Mereka menyebut jika harga sewanya terlalu tinggi, sehingga tidak ngatasi untuk sewa,” ungkapnya.
Mantan anggota DPRD Tuban itu kemudian mengingatkan bahwa pemerintah daerah memiliki regulasi untuk melindungi UMKM lokal dengan mengamanatkan alokasi sebesar 30 persen bagi mall atau toko modern untuk lapangan usaha UMKM lokal.
‘’Meski managemen memberikan ruang seluas-luasnya bagi UMKM, tapi harga sewa yang mencekik ini menjadi titik lemah. Di sinilah peran pemkab sangat dibutuhkan,” tegas pria 54 tahun itu.
Menurut Gus Kaffi, solusi yang bisa ditempuh adalah memberikan semacam subsidi untuk UMKM atau berkoordinasi langsung dengan managemen Citimall terkait skema khusus yang terjangkau bagi UMKM.
‘’Sekarang tergantung pemerintah, bagaimana menyiasati supaya UMKM tidak tertinggal dengan masuknya Citimall dan brand-brand ternama yang akan hadir,” tandasnya.
Sementara itu, statistisi ahli muda Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban Triana Pujilestari mengatakan, kehadiran Citimall dapat memberikan nilai tambah pada sektor perdagangan, sekaligus memberikan multiplier effect pada sektor-sektor usaha lain di Tuban.
Apakah kondisi perekonomian Tuban yang melambat dan kondisi tenaga kerja sektor industri padat modal kian menurun berdampak pada eksistensi pusat perbelanjaan itu?
Triana belum bisa memastikan hal itu.
"Kalau secara statistik, kami belum memiliki data analisis seperti itu. Kami harus melakukan analisis secara mendalam untuk bisa memastikan apakah kondisi perekonomian di Tuban berdampak pada eksistensi Citimall," katanya. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama