RADARTUBAN – Teka-teki kursi pelatih Persatu Tuban akhirnya terjawab. Sehari setelah keputusan kontroversial melepas Khoirul Anam—pelatih yang justru sukses membawa Laskar Ronggolawe menembus babak 32 besar—manajemen resmi menunjuk Slamet Sampurno sebagai nakhoda anyar tim kebanggaan Bumi Ronggolawe.
Pengumuman tersebut disampaikan manajemen Persatu Tuban pada Kamis (18/12).
Slamet Sampurno dipercaya memimpin tim berlogo Jaran Jingkrak menghadapi tantangan yang jauh lebih berat di babak 32 besar Liga 4 Kapal Api Piala Gubernur Jawa Timur 2025/2026.
Nama Slamet Sampurno bukan sosok asing bagi publik sepak bola Jawa Timur, khususnya generasi awal 2000-an.
Saat masih aktif sebagai pemain, ia pernah mengenakan kostum sejumlah klub bersejarah seperti Persiba Balikpapan, Persibo Bojonegoro, hingga PSIM Yogyakarta.
Puncak kariernya tercatat saat memperkuat Persik Kediri pada periode 2010–2017, sebelum akhirnya gantung sepatu pada 2018.
Selepas pensiun, Slamet memilih jalur kepelatihan. PSIL Lumajang menjadi klub pertama yang ditangani pada 2019.
Jejaknya sebagai juru racik tim terbilang menjanjikan. Terakhir, Slamet sukses mengantarkan Mitra Surabaya melaju hingga babak 8 besar Liga 4 musim 2024/2025—sebuah catatan yang menjadi salah satu pertimbangan utama manajemen Persatu.
Persatu Butuh Sentuhan Taktik Segar
Manajer Persatu Tuban, M. Abdul Rohman, menaruh harapan besar pada kehadiran Slamet Sampurno.
Menurutnya, Persatu membutuhkan energi baru dan sentuhan taktik yang segar untuk bersaing di level yang semakin kompetitif.
“Semoga bisa membawa energi baru sekaligus melakukan pembenahan internal agar performa para pemain semakin meningkat di babak 32 nanti,” ujar Rohman kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Waktu persiapan yang mepet menjadi tantangan tersendiri bagi pelatih anyar. Babak 32 besar dijadwalkan mulai bergulir pada 5 Januari mendatang. Artinya, Slamet dituntut bergerak cepat, merapikan organisasi tim, sekaligus mengangkat kembali mental bertanding para pemain.
“Setelah ini pelatih akan langsung memimpin persiapan. Harapannya, spirit pemain meningkat dan prestasi Persatu bisa terdongkrak,” lanjut Rohman.
Evaluasi Menyeluruh Komposisi Tim
Tak hanya soal strategi di lapangan, manajemen juga tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap komposisi tim.
Persaingan di babak 32 besar dipastikan lebih keras, menuntut Persatu tampil jauh lebih solid dibanding fase penyisihan grup.
“Level lawan ke depan semakin berat. Kalau tidak berbenah, kita bisa tertinggal. Kami mohon doa dan dukungan masyarakat Tuban agar Persatu bisa terus melangkah,” pungkasnya.
Kini, harapan Laskar Ronggolawe bertumpu pada tangan Slamet Sampurno.
Di tengah sorotan publik dan ekspektasi tinggi, babak 32 besar akan menjadi ujian sesungguhnya: apakah pergantian pelatih ini menjadi langkah tepat—atau justru perjudian berisiko tinggi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni