RADARTUBAN - Hidayatul Ummah memiliki rencana hidup menjadi seorang juru bahasa isyarat (JBI).
Namun, siapa sangka, berawal dari sekadar interaksi dengan peserta didik tuli, dia justru menemukan dunia baru yang berbeda.
Aya sapaan karibnya mengaku, ketertarikannya mulai muncul saat mengamati betapa kompleksnya tata cara dan etika bahasa isyarat.
Selain itu, dia juga merasa penasaran mengenai keterbatasan aksesibilitas bahasa isyarat pada masyarakat.
Hampir tujuh tahun dara asal Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang itu mulai menekuni dunia bahasa isyarat. Lebih tepatnya, saat dia mulai duduk di bangku perkuliahan.
Bahasa isyarat mulai memikat hatinya saat melihat penampilan kakak tingkat di kampus.
‘’Mulai semester tiga, aku ambil peminatan kelas anak tuna rungu (ATR). Dari sana mulai belajar dasar keilmuan, lalu setelah lulus langsung terjun ke komunitas untuk praktik, pengamatan, dan belajar mandiri," kenang lulusan S1 Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Surabaya itu.
Meski sudah berkecimpung selama hampir tujuh tahun di dunia pendidikan luar biasa, Aya terus mengasah kemampuannya.
Dia menguasai dua jenis bahasa isyarat, yakni SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) yang sudah dia tekuni secara intensif.
Bagi perempuan 24 tahun ini, menjadi JBI bukan sekadar profesi yang sejalan dengan latar belakang pendidikannya. Ini adalah misi kemanusiaan.
Di era modern ini, dia percaya bahwa mendapatkan informasi adalah hak setiap warga negara tanpa terkecuali.
"JBI itu jembatan. Kehadirannya memberikan akses di berbagai sektor, mulai dari pendidikan hingga layanan publik. Ada rasa nyaman saat aku bisa membantu mereka merasa dihargai, mengurangi ketimpangan serta memberikan kesetaraan dalam menyerap informasi," ungkap Aya.
Menurutnya, di era masifnya informasi pada berbagai platform, generasi muda perlu setidaknya memelajari dasar-dasar bahasa isyarat.
Dari hal kecil tersebut, bisa menjadi langkah besar untuk menciptakan ruang komunikasi yang lebih luas dan ramah bagi penyandang disabilitas.
‘’Setidaknya dengan memelajari bahasa isyarat dasar, mampu menjadi bekal generasi muda untuk lebih inklusif, ramah disabilitas, dan menciptakan ruang komunikasi yang lebih luas lagi. Karena dengan memelajari dasar, untuk pengembangan ke depannya pasti akan bisa lebih mudah,” pungkas perempuan Taurus ini. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama