RADARTUBAN – Upaya evakuasi kapal tanker MT Abigail W yang kandas di bibir Pantai Panduri, Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu belum berhasil hingga Kamis malam (23/1).
Kapal tersebut terdampar akibat cuaca ekstrem yang melanda perairan Tuban pada Rabu (21/1) sore.
Kapal tanker berbendera Indonesia itu tengah berlayar dari Pelabuhan Merak, Banten, menuju Terminal Khusus (Tersus) Pertamina Patra Niaga Tuban. Namun, cuaca buruk menyebabkan kapal terseret hingga terdampar di pesisir.
MT Abigail W merupakan kapal tangki minyak berbahan baja dengan tonase 1.738. Kapal yang dinakhodai Muhammad Harun Sinaga itu merupakan milik PT Pertamina Trans Kontinental dan membawa 15 awak kapal. Saat kejadian, kapal berlayar tanpa muatan.
Kepala Seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tanjung Pakis, C. Metropolitan Jaya mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi lintas sektor setelah menerima laporan kejadian tersebut.
"Kita sudah melakukan mitigasi terkait insiden kapal kandas tersebut, dengan beberapa pihak sejak kemarin (Kamis, Red) namun hingga saat ini belum membuahkan hasil,’’ ujar Metropolitan Jaya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban.
Sejumlah pihak dilibatkan dalam proses evakuasi. Antara lain, PT Pertamina Patra Niaga, PT Trans Pasific Petro Chemical Indotama, keagenan kapal PT Pertamina Trans Kontinental, Satpolairud Polres Tuban, serta kru Kapal MT Abigail W.
Percobaan evakuasi pertama dilakukan pada Kamis (22/1) mulai pukul 17.00 dengan metode penarikan menggunakan dua kapal tunda, yakni TB Ratu Harbour dan TB Maiden Power.
"Proses evakuasi coba kami lakukan sampai pukul 23.00, namun tidak berhasil karena cuaca buruk dan ombak besar dengan ketinggian 2–3 meter serta kecepatan angin hingga 31 knot,’’ jelasnya.
Upaya evakuasi dilanjutkan pada Jumat (23/1) siang dengan metode yang sama. Namun, hasilnya kembali belum berhasil karena kondisi cuaca di perairan Tuban masih kurang bersahabat.
"Rencana kami akan menambah satu perahu untuk membantu menghubungkan pengambilan tali tros kapal untuk kami towing dengan menggunakan dua tug boats di atas,’’ tambah Metropolitan Jaya.
Hingga kini, KSOP masih melakukan pemantauan anomali cuaca berdasarkan informasi dari BMKG.
Selain itu, data pasang surut perairan juga terus diperbarui untuk menentukan waktu aman evakuasi.
"Update mengenau pasang surut per harinya juga kami lakukan karena waktu yang aman untuk melakukan evakuasi kapal yakni daat pasang tertinggi,’’ pungkasnya.(an/ds)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni