RADARTUBAN – Baru dua pekan rekayasa lalu lintas diterapkan di jalan lingkar selatan (JLS) Tuban, rasa aman yang diharapkan justru belum sepenuhnya hadir.
Sebaliknya, kecemasan mengemuka di kalangan pengguna jalan yang melintas di jalur yang dikenal sebagai ring road tersebut.
Rekayasa itu sejatinya diberlakukan untuk mensterilkan satu lajur di sisi selatan yang tengah memasuki masa pemeliharaan.
Baca Juga: Belum Sebulan, Rekayasa Lalu Lintas JLS Tuban Picu Kekhawatiran
Arus kendaraan dari arah Surabaya dialihkan ke lajur kanan atau sisi utara, sementara kendaraan dari arah Semarang diarahkan menuju jalur pantura.
Namun, penerapan yang baru berjalan 14 hari itu belum berjalan mulus.
Sejumlah persoalan muncul di lapangan, mulai dari penumpukan kendaraan pada satu lajur, insiden kecelakaan, hingga pelanggaran oleh pengendara yang tetap menerobos jalur steril.
Kondisi ini membuat pengguna jalan dan warga sekitar harus beradaptasi dengan situasi lalu lintas yang belum sepenuhnya aman.
“Arus lalu lintasnya sekarang semakin semrawut, setiap mau lewat jadi was-was,” ujar Putra, pengguna jalan asal Desa Penambangan, Kecamatan Semanding.
Keluhan juga datang dari warga yang tinggal di sekitar jalur ring road.
Di Desa Kowang, Kecamatan Semanding, warga bahkan mengambil langkah dengan memblokade salah satu lajur menggunakan plang bambu untuk mencegah kendaraan melintas di jalur yang seharusnya steril.
“Banyak kendaraan yang menerobos lajur selatan yang semestinya steril dari kendaraan, apalagi kalau malam hari kendaraan besar kadang juga melintas dengan kecepatan tinggi,” kata Suwarno, warga setempat, Selasa (1/4).
Menurut dia, pemasangan plang bambu itu merupakan bentuk kekhawatiran warga terhadap potensi kecelakaan. “Khawatir terjadi kecelakaan, sekarang sudah dipasangi plang bambu,” ujarnya.
Kepala Desa Kowang Edi Purnomo membenarkan langkah warganya tersebut. Dia menilai pelanggaran masih kerap terjadi dan berisiko tinggi terhadap keselamatan.
Baca Juga: Tabrak Truk Parkir Liar di JLS Tuban, Pemotor Tewas di Tempat
“Selama ini masih banyak kendaraan yang melintas, sangat berisiko menyebabkan kecelakaan,” ujarnya.
Sejumlah warga menilai rekayasa lalu lintas yang diterapkan belum efektif.
Minimnya papan peringatan dan pengawasan dari petugas disebut menjadi faktor yang membuat pengendara belum sepenuhnya patuh. Warga berharap keluhan tersebut segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait.(an/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama