Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Harga Plastik Meroket, Pelaku Usaha di Daerah Kian Terjepit: Imbas Konflik Timur Tengah dan Kelangkaan Nafta

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Kamis, 9 April 2026 | 13:28 WIB
Dampak konflik global mulai terasa di pasar lokal, pelaku UMKM terhimpit biaya produksi yang terus meningkat. (Freepik.com)
Dampak konflik global mulai terasa di pasar lokal, pelaku UMKM terhimpit biaya produksi yang terus meningkat. (Freepik.com)

RADARTUBAN - Para pelaku UMKM dan pedagang pasar tradisional kini mulai dihantui keresahan akibat lonjakan harga plastik kemasan yang dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah.

Kenaikan harga yang signifikan terlihat dari banderol plastik yang semula Rp 9.000 kini melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp 16.000 per pek sejak minggu kedua Maret 2026.

Efek Domino Konflik Global ke Pasar Lokal

Lonjakan ini merupakan dampak langsung dari kenaikan harga minyak mentah dunia yang melambung dari 67 USD menjadi 80 USD per barel akibat konflik bersenjata di wilayah produsen energi tersebut.

Terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz menyebabkan pasokan nafta sebagai bahan baku utama plastik menjadi sangat terbatas di pasar global.

Baca Juga: LinkUMKM BRI Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas, JJC Rumah Jahit Kembangkan Fesyen Wastra Eksklusif

Keterbatasan distribusi minyak dan nafta inilah yang pada akhirnya mendongkrak biaya produksi industri plastik sehingga menekan para pelaku usaha secara luas.

UMKM Sektor Kuliner Paling Terdampak

Sektor kuliner menjadi pihak yang paling terpukul karena margin keuntungan mereka semakin tergerus oleh pembengkakan biaya kemasan plastik di pasar.

Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga produk jadi di tingkat konsumen jika biaya operasional pedagang terus membubung tinggi.

Mencari Alternatif di Tengah Ketidakpastian

Produsen plastik saat ini mulai menekan volume produksi dan mencari alternatif bahan baku dari luar Timur Tengah guna menjaga efisiensi operasional.

Meskipun wilayah seperti Asia Tengah dan Afrika menjadi opsi, kendala waktu pengiriman yang mencapai 50 hari dan tingginya biaya logistik tetap menjadi tantangan besar.

Pemerintah dan pemangku kebijakan diharapkan segera menurunkan pajak plastik serta memberikan stimulus kredit berbunga rendah guna membantu daya tahan UMKM di tengah tekanan biaya produksi ini.

Para pelaku usaha di daerah kini sangat berharap stabilitas harga energi global segera pulih agar beban ekonomi masyarakat tidak semakin mencekik.  (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#minyak #UMKM #plastik #tuba