RADARTUBAN – Redaksi Radar Tuban kembali turun langsung ke sekolah untuk menularkan praktik jurnalisme modern kepada pelajar.
Kali ini, giliran siswa SMAN 2 Tuban yang tergabung dalam ekstrakurikuler Prospek Jurnalistik mendapat pembekalan melalui pelatihan bertajuk Behind the News: Speak the Truths Journalism for the Young Generation, Sabtu (18/4/2026).
Bertempat di ruang multimedia sekolah, kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala SMAN 2 Tuban, Samsuri, M.Pd. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi langkah Radar Tuban yang dinilai mampu mengenalkan dunia pers secara nyata kepada siswa.
“Kami ingin siswa SMADA memiliki daya kritis yang tajam. Bukan sekadar mengikuti berita viral, tetapi mampu memilah dan menganalisis kebenaran sebelum menyebarkannya,” ujarnya.
Baca Juga: Sinergi Radar Tuban x Ilkompedia: Mengupas Tuntas Wajah Pers di Era Digital
Eksperimen AI: Cepat Boleh, Akurat Wajib
Memasuki sesi inti, Manager Digital Radar Tuban, Yudha Satria Aditama, mengajak peserta memahami pondasi kuat kepenulisan berita digital sekaligus melakukan simulasi penggunaan kecerdasan buatan dalam proses produksi konten.
Dalam sesi bertajuk “Eksperimen ChatGPT: Akurasi di Atas Kecepatan”, siswa diperkenalkan pada teknik prompt engineering, yakni cara memberikan instruksi yang tepat agar AI mampu menghasilkan draf berita sesuai standar penulisan Jawa Pos Group.
Tak sekadar praktik, peserta juga diajak menguji kemampuan AI dalam merangkum data mentah hingga menyusun transkrip wawancara menjadi poin-poin penting.
Namun, Yudha menegaskan, kecepatan teknologi tidak boleh mengalahkan akurasi.
“ChatGPT memang membantu mempercepat produksi teks. Tapi ingat, AI tidak turun ke lapangan. Tugas jurnalis adalah memastikan setiap informasi tetap berbasis fakta, bukan sekadar rangkaian kata yang terdengar meyakinkan,” tegasnya.
Jurnalis Harus Lebih Tajam dari Tren
Selain membahas pemanfaatan AI, pelatihan juga menyoroti pentingnya social media monitoring. Peserta diajak memahami cara membaca tren digital sekaligus mengolahnya menjadi bahan berita yang bernilai.
Menurut Yudha, jurnalis tidak cukup hanya mengikuti arus informasi yang sedang viral. Lebih dari itu, mereka harus mampu menggali sisi lain yang belum terlihat publik.
“Jangan hanya jadi pengikut tren. Kalian harus bisa melihat apa yang tidak terlihat. Setiap isu viral perlu diuji, ditelusuri, dan disajikan secara berimbang,” imbuhnya.
Baca Juga: Kuliah Tamu Unirow Bersama Radar Tuban, Bahas Strategi Menang Kompetisi
Cetak Jurnalis Muda Berintegritas
Melalui pelatihan ini, Radar Tuban berharap lahir generasi jurnalis muda yang tidak hanya terampil memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga tetap memegang teguh prinsip dasar jurnalistik: akurat, berimbang, dan berpihak pada fakta. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama