RADARTUBAN - Di tangan para petani tempo dulu, caluk biasanya digunakan untuk memotong bambu dan membelah kayu.
Namun di masa revolusi kemerdekaan, senjata tradisional itu berubah menjadi simbol perlawanan rakyat Tuban terhadap penjajahan Belanda dalam peristiwa Agresi Militer II 1949.
Sebelum menjadi senjata perang pengusir Belanda di Tuban, caluk lebih dahulu menjadi sahabat para petani dan pencari kayu. Alat berciri bilah panjang dan kapak di bagian tengah itu zaman dulu biasa dipakai untuk membelah bambu hingga membersihkan kebun.
Situasi berubah ketika perang mempertahankan tanah air berkecamuk di Bumi Ronggolawe. Masyarakat yang tidak memiliki persenjataan modern terpaksa mengandalkan alat kerja sehari-hari, caluk pun menjelma menjadi senjata perang.
Dikutip dari catatan sejarah yang diketik dan disajikan Serma Moestadjap, pimpinan pertempuran Kepet, pada 20 Desember 1948, pasukan Belanda telah menduduki wilayah Kota Tuban. Usai menguasai pusat pemerintahan, pasukan Belanda membuat pos pengamanan di setiap kecamatan.
Sementara itu, Serma Moestadjap selaku anggota staf 1 Gedelegeerde Komando Distrik Militer Tuban melakukan tugas intelejen sekaligus melakukan perlawanan kecil di wilayah pendudukan Belanda di Tuban.
Berbagai upaya dilancarkan Serma Moestadjap bersama pasukannya untuk membekukan para penjajah.
Puncaknya pada 20 April 1949 pagi, pasukan yang dipimpin Serma Moestadjap dibantu masyarakat sekitar berhasil menyerang pasukan Belanda di pos penjagaan Kaliklero, Dusun Kepet, Desa Tunah, Kecamatan Semanding.
Dalam penyerangan itu, lima tentara Belanda dan seorang pembantu wanita tewas.
Para pejuang Tuban yang berhasil melumpuhkan keenam pasukan Belanda kala itu menggunakan senjata caluk dan sabit. Mereka sebelumnya menyamar sebagai kuli bangunan di pos penjagaan.
Aksi heroik itu sampai saat ini masih dikenang sebagian besar masyarakat Bumi Wali, bahkan sisa perjuangannya masih dapat disaksikan melalui Tugu Monumen Kepet di Desa Tunah, Kecamatan Semanding. Begitu juga Tugu Caluk di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban.
Kendati kental dengan perjuangan di masa lampau dan melekat dengan masyarakat Tuban tempo dulu, sayangnya literatur secara akurat sejarah munculnya caluk di Tuban sangatlah minim. Bahkan senjata tradisional tersebut saat ini mulai sulit dijumpai.
Pemerhati Sejarah dan Budaya Tuban Teguh Fatchur Rozi menuturkan, sampai saat ini belum ada rujukan literatur secara lengkap yang membahas mengenai awal mula caluk menjadi senjata tradisional di Tuban.
Baca Juga: Gencatan Senjata Berakhir Rabu, Iran Tetapkan Syarat Keras Lanjutkan Negosiasi dengan AS
‘’Setahu saya belum ada penelitian yang membahas secara lengkap mengenai asal-usul caluk,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Tuban, (5/6).
Namun berdasarkan cerita tutur dari berbagai sumber yang diperolehnya, senjata tersebut sudah ada sejak masa penjajahan kolonial belanda. Bahkan masyarakat Tuban juga meyakini bahwa caluk merupakan senjata tradisional asal Tuban.
‘’Infonya saat ini senjata tradisional itu sedang didaftarkan oleh Pemerintah Kabupaten Tuban sebagai warisan budaya tak benda asli daerah, semoga saja bisa segera dipatenkan,’’ harapnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama