Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Nekara Jadi Warisan Tertua Tuban yang Mendahului Kalpataru Lebih dari 1.000 Tahun

Shafa Dina Hayuning Mentari • Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:34 WIB
Pengunjung Museum Kambang Putih 	Tuban memperhatikan Nekara sebagai koleksi tertua di museum tersebut. (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/RADAR TUBAN)
Pengunjung Museum Kambang Putih Tuban memperhatikan Nekara sebagai koleksi tertua di museum tersebut. (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN-Selama ini, perhatian masyarakat Tuban lebih banyak tertuju pada Kalpataru sebagai koleksi ikonik Museum Kambang Putih Tuban.

Padahal, museum tersebut menyimpan artefak yang usianya jauh lebih tua, yakni Nekara, peninggalan kebudayaan Dongson dari zaman perunggu yang diperkirakan telah ada sekitar 500 tahun sebelum Masehi.

Keberadaan Nekara menjadi bukti bahwa kawasan Tuban telah dihuni manusia sejak lebih dari dua milenium lalu. Artefak tersebut ditemukan di Desa Guwoterus, Kecamatan Montong.

Kini, benda bersejarah tersebut menjadi salah satu koleksi tertua yang dimiliki museum Jalan KH Mustain tersebut. 

Baca Juga: Kalpataru 'Pohon Kehidupan' yang Pernah Jadi Tempat Pemujaan di Tuban

Deni Anto, staf Museum Kambang Putih Tuban  menjelaskan, usia Nekara terpaut lebih dari seribu tahun dibandingkan Kalpataru yang berasal dari masa perkembangan Islam di Tuban.

“Kalpataru ada di sekitar tahun 1400 pertengahan hingga 1500-an saat masa Sunan Bonang. Sedangkan Nekara ini sudah ada di masa sebelum Masehi,” ujar Deni menjawab pertanyaan Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (17/6).

Menurut dia, Nekara merupakan representasi kebudayaan Dongson yang berkembang luas di Asia Tenggara. Jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara.

Dalam kehidupan masyarakat pada masa itu, benda tersebut memiliki kedudukan penting, tidak hanya sebagai simbol status sosial, namun juga berkaitan dengan fungsi ritual dan keagamaan.

Dia menjelaskan, Nekara memiliki tempat yang sakral dalam tatanan sosial dan religius masyarakat Tuban dahulu. Fungsinya beragam, mulai dari alat ritual pemanggilan arwah nenek moyang, upacara pemanggilan hujan, menjadi mas kawin dalam pernikahan, hingga sebagai bekal kubur dalam upacara kematian.

‘’Jika dihitung sampai tahun ini, usianya sudah 2.500 tahun,” kata Deni.

Selain bernilai spiritual, kepemilikan Nekara juga menunjukkan kedudukan sosial pemiliknya. Pada sejumlah komunitas kuno, benda tersebut bahkan dianggap memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Deni menjelaskan, terdapat perbedaan fungsi antara Nekara berukuran kecil dan besar. Nekara kecil lazim digunakan sebagai maskawin. Sedangkan Nekara berukuran besar berfungsi sebagai genderang upacara dan perang. Bunyi tabuhannya dipercaya memiliki kekuatan magis yang mampu memberikan keselamatan dan keberanian bagi para prajurit.

Secara fisik, Nekara terdiri atas empat bagian utama, yakni bidang pukul di bagian atas yang dihiasi berbagai motif, bahu yang cembung dengan sepasang pegangan di sisi kanan dan kiri, bagian pinggang yang mengecil, serta kaki yang melebar sebagai penyangga.

Baca Juga: Museum Kambang Putih Tuban Simpan 5.774 Koleksi, Mayoritas Hibah Warga

Permukaan luarnya semula dipenuhi ragam hias berupa garis lurus dan lengkung, gambar flora, fauna, rumah, hingga aktivitas berburu. Ukiran-ukiran itu merekam kehidupan masyarakat pada masa lampau. Namun, usia yang telah mencapai ribuan tahun serta kondisi tertimbun dalam tanah membuat sebagian besar motif tersebut memudar.

“Sayangnya faktor usia dan kerusakan karena tertimbun lama membuat visualisasi ragam hias pada koleksi Nekara ini memudar dan hanya menyisakan beberapa goresan geometris yang samar,” imbuhnya.

Museum Kambang Putih sebenarnya juga pernah memiliki Nekara berukuran besar yang di dalamnya ditemukan arca gajah dari perunggu. Namun, benda asli tersebut telah dipindahkan ke Museum Mpu Tantular Surabaya sejak 1979. “Yang saat ini berada di Kambang Putih merupakan duplikat dari Nekara itu,” ujar Deni.

Saat ini, Museum Kambang Putih mengoleksi 5.774 benda bersejarah. Namun, hanya sekitar 600 koleksi yang dipamerkan di etalase. Sebagian besar lainnya berupa fragmen atau pecahan artefak yang tidak memungkinkan untuk dipajang.

“Karena banyak dari koleksi kami yang merupakan fragmen atau pecahan saja, sehingga tidak terpajang seperti yang lain,” kata.(saf/ds)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#nekara #warisan tertua #Tuban #Museum Kambang Putih #kalpataru