Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Damkar Tuban Ungkap Tak Lagi Terpusat di Kawasan Rawan, Ini Penyebabnya

Andreyan (An) • Sabtu, 11 Juli 2026 | 15:07 WIB
Damkar Tuban mencatat pola kebakaran lahan berubah pada musim kemarau. Warga diminta mewaspadai seluruh wilayah karena mayoritas dipicu kelalaian manusia. (DAMKAR TUBAN UNTUK RADAR TUBAN)
Damkar Tuban mencatat pola kebakaran lahan berubah pada musim kemarau. Warga diminta mewaspadai seluruh wilayah karena mayoritas dipicu kelalaian manusia. (DAMKAR TUBAN UNTUK RADAR TUBAN)

RADARTUBAN- Ancaman kebakaran lahan di Kabupaten Tuban mulai meningkat seiring masuknya musim kemarau. Namun, pola kemunculan titik api tahun ini menunjukkan perubahan. Sebulan terakhir, kebakaran justru terjadi di sejumlah wilayah yang selama ini tidak masuk dalam peta kawasan rawan.

Perubahan tersebut menjadi sinyal bahwa pemetaan daerah rawan kebakaran perlu dievaluasi. Sebulan terakhir, petugas Pemadam Kebakaran Tuban telah menangani sedikitnya lima kejadian kebakaran lahan di sejumlah wilayah Bumi Ronggolawe.

Kasus terbaru terjadi pada Rabu (8/7) sekitar pukul 14.30 di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding. Dua unit mobil pemadam kebakaran diterjunkan untuk menjinakkan api yang membakar lahan seluas lebih dari satu hektare.

Api tidak sampai merembet ke permukiman warga. Namun, kobaran api menghanguskan deretan pepohonan dan rumpun bambu di lokasi kejadian. Berdasarkan hasil penyelidikan petugas, kebakaran dipicu pembakaran sampah yang ditinggalkan pemiliknya hingga api merembet ke lahan kering.

Baca Juga: Dua Bulan Menanti Tanpa Kepastian, Korban Kebakaran Pasar Baru Tuban Tagih Janji Tenda Darurat 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Tuban Sutaji mengatakan, pola kebakaran lahan yang cenderung acak pada musim kemarau tahun ini menjadi perhatian jajarannya. Kondisi tersebut mendorong dilakukan evaluasi terhadap pemetaan kerawanan sekaligus upaya pencegahan agar penyebab kebakaran dapat ditekan.

"Dari analisis kami, wilayah rawan yang tanah dan pepohonanya kering tak dapat dijadikan patokan menjadi penyebab awal kebakaran, sebab awal terjadinya kebakaran mayoritas disebabkan faktor kelalaian manusia," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, kemarin (9/7).

Menurut mantan Camat Bancar itu, sebagian besar kebakaran lahan tahun ini dipicu aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan yang kemudian merembet ke vegetasi kering. "Faktor utama pemicunya biasanya dari pembukaan lahan baru maupun pembakaran sampah," jelasnya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, terdapat sedikitnya tiga kawasan yang kerap menjadi titik rawan kebakaran lahan, yakni hutan jati di wilayah Pakah, Kecamatan Parengan, dan Kecamatan Jenu. Namun, kondisi tahun ini menunjukkan kebakaran tidak lagi terkonsentrasi di kawasan tersebut.

"Kalau kasus kebakaran hutan masih nihil, untuk saat ini masi didominasi kebakaran lahan. Jangan mengacu data, seluruh wilayah harus diwaspadai," ujar Sutaji.

Karena itu, dia mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas pembakaran di sekitar lahan maupun kawasan hutan selama musim kemarau. Embusan angin yang kencang membuat api lebih mudah membesar dan sulit dikendalikan.

"Angin kencang di musim kemarau membuat potensi kebakaran semakin tinggi, masyarakat harus waspada," tandasnya.(an/ds)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Kebakaran Lahan #pemadam kebakaran #pembakaran sampah #Damkar Tuban