Jeritan Orang Tua Penerima MBG Tuban: Menu Tak Layak Balita Hingga Makanan Berakhir Jadi Pakan Ternak

Ahmad Atho'illah • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 17:13 WIB
Menu MBG untuk balita yang hanya berupa nasi, tahu goreng, kubis, potongan mentimun, dan lauk yang dimbel-mbel tepung. (Ahmad Atho
Menu MBG untuk balita yang hanya berupa nasi, tahu goreng, kubis, potongan mentimun, dan lauk yang dimbel-mbel tepung. (Ahmad Atho'illah/Radar Tuban)

RADARTUBAN - Sudah hampir setahun ini Amizza menahan rasa geramnya terhadap program makan bergizi gratis (MBG).

Pasalnya, selama menerima jatah MBG untuk balitanya, menu yang disajikan hampir tidak pernah sesuai dengan kebutuhan gizi bayi bawah lima tahun.

Namun, selama itu pula dia memilih untuk diam. Sebab, menerima maupun menolak tetap dijatah. ‘’Kadang malas juga untuk mengambil, tapi sungkan (tidak enak) dengan ibu-ibu yang ditugasi untuk membagikan (mengkoordinir ibu-ibu yang memiliki balita, red). Kalau tidak diambil malah menyusahkan ibu-ibu,’’ katanya.

Baca Juga: Mitra MBG Ancam Mogok Massal, BGN Diberi Tenggat Pembenahan Tata Kelola Dapur MBG Hingga 17 Agustus 

Amizza meyakini, jika semua berani jujur dan transparan, menu yang disajikan hampir tidak pernah sesuai standar. Dia mencontohkan menu yang diterima beberapa hari lalu. Selain hampir dapat dipastikan tidak sesuai anggaran yang ditetapkan pemerintah: Rp 8.000-10.000 per porsi untuk balita dan anak PAUD/TK.

Menu yang disajikan juga terkesan asal: seporsi nasi, tahu, lalapan kubis, potongan mentimun, dan lauk sepotong daging ayam kecil yang ditepung kering. Dan menu serupa seperti itu tidak hanya sekali-dua kali, tapi cukup sering.

‘’Bayangkan, masa anak dua tahun disuruh mamah (ngunyah) kubis. Ini menu untuk balita apa orang tua, gak masuk akal,’’ katanya dengan nada geram.

Setelah cukup lama menahan diri untuk tidak protes, unek-unek yang sudah lama dipendam akhirnya diluapkan. Terlebih setelah mendengar ucapan Presiden Prabowo yang semakin tidak karuan dan anti kritik.

‘’Siapa sih yang tidak mendukung program makan bergizi untuk anak-anak kurang mampu, untuk lansia, untuk ibu hamil. Semua setuju. Tapi gak kuwi masalahe. Masalahe, program iki awur-awuran, gebyah uyah, makane dikorupsi. Iku masalahe, uduk menehi mangane (bukan program ngasih makannya, red),’’ katanya dengan nada antara emosi, prihatin, gemes, dan perasaan-perasaan lain yang sulit diterangkan.

Dan karena sudah tidak menerima saran dan kritik dari rakyat—yang merasakan dan mengetahui kondisi riil di lapangan, ibu dua anak ini berharap supaya presiden turun sendiri ke lapangan—lihat langsung di dapur SPPG—berapa banyak nasi dan lauk yang tidak dimakan oleh anak-anak, yang akhirnya dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk pakan ternak.

‘’Tapi kalau turun ke lapangannya menghadiri kegiatan peresmian dapur SPPG atau melihat anak-anak makan menu MBG, ya sudah pasti yang terlihat yang baik-baiknya. Tapi kalau turun ke lapangannya nyamar entah jadi apa, ya lain cerita,’’ usulnya karena sudah lelah melihat respon pemerintah yang menganggap kritik sebagai serangan.

Meski hampir dapat dipastikan bahwa program MBG akan tetap dilanjutkan, Amizza masih berharap kepada pemerintah untuk memperbaiki program ini. (tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban paud Mbg