Parkir Kebonsari Mati Suri: Becak Keluhkan Shuttle Liar, Pengemudi Mengaku Sama-Sama Sepi

M. Mahfudz Muntaha • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 14:28 WIB
Tukang becak yang mangkal di area Parkir Wisata Kebonsari Tuban yang sepi peziarah Makam Sunan Bonang karena tak banyak bus yang masuk. (Radar Tuban)
Tukang becak yang mangkal di area Parkir Wisata Kebonsari Tuban yang sepi peziarah Makam Sunan Bonang karena tak banyak bus yang masuk. (Radar Tuban)

RADARTUBAN - Aktivitas di Parkir Wisata Kebonsari Tuban belum menunjukkan tanda-tanda bergeliat. Bus-bus peziarah Makam Sunan Bonang masih jarang memanfaatkan kawasan parkir tersebut.

Akibatnya, para tukang becak dan pedagang yang menggantungkan penghasilan dari arus peziarah kembali mengeluhkan sepinya aktivitas ekonomi.

Kondisi itu dinilai belum berubah meski para tukang becak dan pedagang beberapa kali menggelar aksi menuntut penertiban angkutan shuttle atau angkutan penghubung. Mereka berharap pemerintah daerah dapat menghadirkan solusi agar terminal wisata tersebut kembali menjadi pusat parkir bus peziarah.

Ketua Paguyuban Becak Kiswanto menilai masih beroperasinya kendaraan shuttle menjadi salah satu penyebab bus peziarah tidak masuk ke Parkir Wisata Kebonsari. Menurut dia, pengawasan dari instansi terkait memang dilakukan, namun belum mampu menghentikan praktik angkutan yang dinilai melanggar aturan.

Baca Juga: Enam Bulan Di-PHP soal Shuttle, Paguyuban Becak-PKL Parkir Wisata Kebonsari Geruduk DPRD Tuban

"Kami amati itu sering terjadi, itu bisa dilihat dengan melihat saat parkiran sepi, tapi di makam Sunan Bonang ada peziarah," ujarnya.

Dia mengatakan, pengemudi shuttle kerap menghindari petugas dengan menghentikan operasi sementara ketika ada pengawasan, lalu kembali beroperasi setelah petugas meninggalkan lokasi.

Selain shuttle, Kiswanto juga menyoroti keberadaan becak motor (bentor) yang disebut ikut mengangkut peziarah. Menurut dia, selain tidak semestinya melayani angkutan wisata, cara berkendara bentor juga dinilai membahayakan pengguna jalan lain. "Dan itu sangat membahayakan," imbuhnya.

Paguyuban becak berharap pemerintah bersikap lebih tegas dalam menata angkutan wisata di kawasan Makam Sunan Bonang.

Mereka bahkan mendorong adanya peraturan daerah yang secara khusus mengatur operasional angkutan wisata agar tidak lagi menimbulkan persoalan di lapangan. "Kalau kami lapor terus juga capek, makanya kami berharap setelah ini ada perda yang mengatur khusus tentang angkutan wisata Sunan Bonang," kata Kiswanto.

Meski belum berencana melakukan aksi dalam waktu dekat, paguyuban becak menyatakan akan terus memantau perkembangan. Menurut Kiswanto, jumlah peziarah memang masih relatif sedikit selama bulan Safar.

Namun, apabila kondisi tidak berubah ketika kunjungan mulai meningkat, mereka tidak menutup kemungkinan kembali menggelar aksi. "Tentu kami tidak mau berdiam diri, kami tetap berencana aksi lagi nantinya," tegasnya.

Di sisi lain, Ketua Paguyuban Shuttle Agus Muji Harsono membantah bahwa keberadaan shuttle menjadi penyebab utama sepinya Parkir Wisata Kebonsari.

Menurut dia, jumlah peziarah memang sedang menurun dan kondisi tersebut lazim terjadi hingga sekitar Agustus.

Dia mengaku para pengemudi shuttle juga merasakan dampak penurunan jumlah peziarah. Bahkan, dalam dua hari terakhir, satu kendaraan terkadang hanya memperoleh satu kali perjalanan. "Karena memang sepi, jadi tidak bisa kami disebut yang menyebabkan masalah," ujarnya.

Baca Juga: Ditolak Tukang Becak Sunan Bonang, Sopir Shuttle: Kami Juga Mencari Makan

Agus menambahkan, para pengemudi shuttle juga bergantung pada sektor wisata religi sebagai sumber penghasilan. "Kami juga itu mencari makan," pungkasnya.

Dia menjelaskan, sebagian besar shuttle mulai beroperasi pada sore hingga malam hari. Sementara pada pagi hari kendaraan umumnya tidak beroperasi.

"Kalau pagi biasanya saya gunakan untuk istirahat, dan sore baru berkegiatan lagi," katanya. (fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
wisata Tuban becak kebonsari