Menelusuri Jejak Gay Tuban: Lebih Senyap, Gerakannya Semakin Tak Terbaca

Yudha Satria Aditama • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 13:33 WIB
Simak rekam jejak grup gay Tuban yang semakin tersembunyi, penindakan siber polda, hingga temuan fakta penderita HIV/AIDS.
Simak rekam jejak grup gay Tuban yang semakin tersembunyi, penindakan siber polda, hingga temuan fakta penderita HIV/AIDS.

RADARTUBAN – Kemunculan gerakan anti LGBT di media sosial beberapa hari terakhir kembali membuka diskusi lama mengenai keberadaan para pemilik disorientasi seksual, termasuk di Kabupaten Tuban. 

Fenomena itu mengingatkan publik bahwa aktivitas kelompok penyuka sesama jenis bukanlah isu baru.

Meski tidak selalu terlihat di ruang publik, jejaknya beberapa kali muncul ke permukaan melalui media sosial hingga berujung pada pengungkapan aparat kepolisian.

Kasus paling menyita perhatian terjadi pada pertengahan 2025. Saat itu, publik di Tuban dan kota tetangga dihebohkan dengan kemunculan grup Facebook Gay Tuban Lamongan Bojonegoro yang beranggotakan lebih dari 10 ribu akun.

Baca Juga: Yusril Bantah Perpres 111 Tahun 2025 Atur LGBTQ, Sebut Fokusnya Kebijakan Pertahanan Negara

Tak lama kemudian, warganet juga menemukan grup lain dengan nama serupa yang memiliki sekitar 5 ribu anggota. Kedua grup tersebut diduga menjadi wadah komunikasi sekaligus tempat mencari pasangan sesama jenis.

Ramainya dua grup tersebut memicu perhatian aparat penegak hukum. Polres Lamongan dan Polres Tuban melakukan penyelidikan, sementara Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur langsung menonaktifkan grup yang menjadi perbincangan luas di media sosial.

Pengusutan kemudian berlanjut. Pada 13 Juni 2025, Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Timur menangkap empat orang yang diduga terlibat dalam pengelolaan grup tersebut.

Seorang di antaranya berperan sebagai admin, sementara tiga lainnya merupakan anggota aktif yang diduga menyebarkan konten pornografi dan mencari pasangan melalui grup.

Polisi mengungkap grup Facebook itu memiliki sekitar 11.400 anggota dan menjadi pintu masuk menuju grup WhatsApp lain yang digunakan komunitas tersebut.

Beberapa hari kemudian, pengembangan kasus berlanjut. Polres Tuban kembali menangkap dua pengguna aktif grup Facebook tersebut yang diduga kerap mengunggah ajakan melakukan hubungan sesama jenis. Penangkapan itu menjadi bagian dari pengembangan penyelidikan terhadap aktivitas grup di media sosial.

Bukannya kapok dan lenyap. Pergerakan gay itu justru semakin senyap. Grup FB baru beridentitas Gay Tuban kini muncul kembali.

Baru dibentuk beberapa bulan, anggota grup medsos yang hingga kemarin (26/7) masih aktif, sudah ribuan orang. Tapi grupnya lebih sepi. Diduga mereka bertransaksi lebih tertutup dari sebelumnya.

Namun, keberadaan komunitas penyuka sesama jenis di Tuban sebenarnya telah terendus jauh sebelum kasus grup Facebook mencuat. Pada 2021, Radar Tuban pernah mewawancarai seorang pria berinisial DR yang mengaku mulai merasakan ketertarikan terhadap sesama jenis sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Dia mengaku telah berulang kali berusaha menghilangkan perasaan tersebut, tetapi menurut pengakuannya, dorongan penyimpangan itu justru semakin kuat seiring bertambahnya usia.

Baca Juga: Tuduh Sebarkan Propaganda LGBT, Pemerintah Rusia Resmi Blokir Roblox

Dia bahkan membocorkan sejumlah aplikasi khusus kencan para gay, termasuk di Tuban. Perannya top (berperan pria), bot/boti (berperan wanita), atau verse (bisa keduanya). Bahkan, kata dia saat itu, sebagian gay itu sudah memiliki istri sah hingga memiliki anak.

Di tahun berikutnya, kasus lain yang pernah diungkap Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Tuban dr. A. Syaifuddin Zuhri lebih mengejutkan. Sebagian besar penyintas HIV AIDS adalah laki-laki pecinta sesama jenis.

Tak semua penyimpangan seksual pada gay terjadi karena faktor internal. Justru, banyak kasus terjadi karena faktor eksternal. Dimulai dari menjadi korban sodomi saat kecil, hingga menjadi pelaku saat dewasa.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa aktivitas komunitas penyuka sesama jenis tidak selalu tampak di ruang publik. Sebagian berinteraksi melalui media sosial, grup tertutup, maupun aplikasi percakapan.

Karena itu, kemunculan gerakan Anti Boti Tuban dinilai menjadi respons dari sebagian masyarakat yang menganggap fenomena tersebut semakin berani muncul ke ruang digital.

Kini, isu tersebut kembali menjadi perhatian publik. Di satu sisi muncul kelompok masyarakat yang menyuarakan penolakan terhadap LGBT melalui media sosial. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban hiv media sosial Gay