RADARTUBAN- Hampir seluruh proyek strategis Pemkab Tuban tahun ini telah memasuki tahap penetapan pemenang lelang. Namun, di balik rampungnya proses tersebut, porsi pekerjaan yang diperoleh kontraktor lokal masih relatif kecil.
Dari total nilai proyek sekitar Rp 114,9 miliar, hanya sekitar Rp 17 miliar yang dikerjakan perusahaan lokal asal Tuban.
Hingga akhir proses lelang, hanya tersisa satu paket yang belum memperoleh pemenang. Yakni, pembangunan check dam Desa Rengel, Kecamatan Rengel yang harus menjalani lelang ulang. Sementara itu, sembilan paket lainnya telah selesai dilelang. Dari keseluruhan proyek tersebut, hanya tiga yang dimenangkan kontraktor lokal.
Ketiga proyek itu meliputi pembangunan Puskesmas Widang senilai Rp 4,2 miliar yang dikerjakan CV Jaya Ningrat Abadi, peningkatan saluran drainase dan trotoar Jalan Diponegoro Lanjutan 2025 dengan nilai Rp 5,8 miliar yang dimenangkan CV Chandra Karya Pratama, serta rekonstruksi Jalan Kepet–Semanding senilai Rp 6,7 miliar yang dikerjakan CV Sinar Kencana.
Baca Juga: Lelang Proyek RTH Palang Rp 24,9 Miliar Tanpa Perlawanan, PT Defani Keluar Jadi Pemenang Tunggal
Dengan demikian, nilai proyek yang dinikmati kontraktor lokal hanya sekitar 14,8 persen dari total anggaran proyek strategis. Sisanya, sekitar Rp 92,2 miliar, dikerjakan perusahaan dari luar daerah, seperti Surabaya, Malang, dan Sidoarjo.
Kini perhatian tertuju pada proses lelang ulang pembangunan check dam Rengel. Paket tersebut akan menentukan apakah keterlibatan kontraktor lokal bertambah atau justru kembali didominasi perusahaan dari luar Tuban.
Anggota DPRD Tuban Siswanto menilai mekanisme pengadaan secara elektronik memang memiliki aturan yang harus dipatuhi. Namun, menurut dia, pemerintah daerah tetap perlu menunjukkan keberpihakan kepada pelaku usaha lokal selama memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
"Dengan begitu, perputaran uang dari proyek pemerintah dapat lebih banyak dirasakan masyarakat Tuban," ujarnya.
Politikus PKB itu mengatakan, persoalan kualifikasi memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil tender. Meski demikian, pemerintah daerah tidak seharusnya hanya menunggu kontraktor lokal memenuhi persyaratan secara mandiri.
Menurut dia, diperlukan pembinaan dan pendampingan agar kemampuan serta kualifikasi kontraktor lokal meningkat sehingga mampu bersaing dalam tender proyek pemerintah. "Kalau tidak ada intervensi, akan seperti ini terus, repot juga," imbuhnya.
Siswanto menambahkan, semakin banyak proyek pemerintah yang dikerjakan pelaku usaha lokal, semakin besar pula dampak ekonomi yang kembali ke daerah.
Selain nilai proyek berputar di Tuban, kegiatan pembangunan juga membuka kesempatan kerja bagi tenaga lokal dan menggerakkan usaha-usaha pendukung.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Bagian Unit Pengadaan Barang dan Jasa Setda Tuban, Catur Gunawan Tri Utomo belum memberikan penjelasan mengenai masih minimnya kontraktor lokal yang memenangkan proyek strategis.
Termasuk apakah kondisi tersebut dipengaruhi rendahnya partisipasi kontraktor lokal dalam tender atau faktor lain yang memengaruhi hasil lelang. (fud/ds)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni