RADARTUBAN - Serangan hama tikus memicu petani di Desa Gaji dan Wolutengah, Kecamatan Kerek kelabakan. Ratusan hektare tanaman jagung dan padi dilaporkan rusak akibat serangan hewan pengerat tersebut.
Tanaman jagung yang semestinya menjadi sumber pendapatan petani justru banyak yang gagal dipanen.
Sejumlah petani bahkan terpaksa menjual tanaman jagung yang masih muda untuk menekan kerugian.
Sukardi, petani Desa Wolutengah, salah satunya. Tanaman jagungnya yang telah berusia sekitar dua bulan di hampir separuh rusak. Tikus memakan habis jagung yang masih muda hingga tongkolnya dan menyisakan janggel.
Baca Juga: Massa Lempar Tikus ke Gerbang Kejagung, Desak Penuntasan Kasus Dugaan TPPU Febrie Adriansyah
Sebagian tongkol bahkan tinggal separuh. ‘’Kalau sudah seperti ini ya sudah tidak mungkin dipanen,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Menurut Sukardi, serangan tikus terjadi hampir di seluruh lahan pertanian di Desa Wolutengah, terutama kawasan sisi barat desa yang berdekatan dengan gunung.
Petani, kata dia, kesulitan mengendalikan serangan tersebut.
Tikus datang hampir setiap malam dan menyerang tanaman jagung sejak usia dini.
‘’Jagung diserang tikus sejak masih hitungan hari. Saat tanamannya belum berbuah, pohonnya seperti ditebangi sehingga roboh. Saat sudah besar dan berbuah giliran buahnya yang diserang," bebernya.
Serangan serupa juga terjadi di Desa Trantang dan Desa Gaji. Tidak hanya jagung, tanaman padi juga menjadi sasaran. ‘’Kalau ditotal ya sudah ratusan hektare yang diserang,’’ ungkapnya.
Samiun, petani Desa Gaji, mengaku mengalami kerugian akibat serangan tersebut. Jagung yang ditanam pada tiga petak lahan dengan 13 kilogram bibit tidak dapat dipanen.
Ludes dimakan tikus dan hanya menyisakan janggel. ‘’Kalau panen itu seharusnya bisa mendapatkan Rp 30 jutaan,’’ bebernya.
Samiun masih beruntung karena tanaman jagung yang belum dipanen atau tebon masih bisa dijual. Seluruh tanaman jagung muda di lahannya laku hampir Rp 4 juta.
‘’Paling tidak, uang bibit masih kembali, walau itu belum cukup untuk biaya tenaga, pupuk, dan pengairan selama masa tanam,’’ imbuhnya.
Karsu, petani lainnya di Desa Gaji, juga merasakan dampak serangan tikus. Menurut dia, hama tersebut tidak hanya menyerang jagung, tetapi juga tanaman padi.
Baca Juga: Petani Eropa Tanam Bunga di Sawah, Cara Alami Mengusir Hama Tanpa Pestisida
Tanaman padi yang masih kecil bahkan dicabut dan dimakan tikus. Salah satu lahan di sisi timur Desa Gaji mengalami kerusakan cukup parah. Dalam satu petak, tanaman padi dibabat hingga habis.
‘’Tapi anehnya, ada rumput segar dan besar-besar itu tidak dimakan. Malah memilih padi,’’ ujarnya.
Berbagai cara dilakukan petani untuk mengurangi serangan tikus. Salah satunya memasang pagar berupa plastik biru tebal mengelilingi lahan.
Upaya tersebut dilakukan karena tikus biasanya mulai keluar pada sore hari sekitar pukul 18.00 dan beraktivitas hingga menjelang subuh.
Camat Kerek Nanang Wahyudi mengaku belum menerima laporan mengenai serangan hama tikus tersebut, termasuk luas lahan yang terdampak dan penanganannya.
‘’Sampai saat ini saya belum mendapatkan laporan dari Desa Gaji dan Wolutengah, maupun dari dinas pertanian lewat PPL (penyuluh pertanian lapangan),’’ ujarnya.
Meski demikian, setelah mendapat informasi mengenai serangan tikus yang dinilai cukup parah, Nanang menyatakan akan segera melaporkannya kepada Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Tuban untuk ditindaklanjuti. (fud/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban