RADARTUBAN- Revitalisasi trotoar seakan menjadi proyek wajib tahunan. Hampir setiap tahun selalu ada yang dibongkar dan diperbaiki. Selain merombak total jalur pedestrian, juga menata ulang saluran. Yang semula ditembok menggunakan bata, kini dilapisi menggunakan beton cetakan. Namun, selama itu pula problem genangan saban musim penghujan tak pernah terselesaikan dengan baik. Lantas, apa yang salah dan kurang?
Pagi itu, tepat saat berhenti di traffic light depan Mapolresta Tuban, pandangan Wafa tertuju pada sejumlah grill drainase atau penutup lubang saluran di bahu jalan. Selain bentuknya tidak presisi dan sejajar dengan aspal, yang juga menjadi perhatiannya, adalah kondisi lubang yang dipenuhi sisa endapan lumpur dan sampah daun.
Setelah menunggu sekitar dua menit dan lampu hijau menyala, dia melanjutkan perjalanan sambil membatin, ‘’pantas saja, saat hujan lebat turun, drainase di sejumlah titik jalan protokol seakan tidak berfungsi normal. Air hujan yang semestinya masuk ke gorong-gorong malah menggenangi jalan,’’ katanya dalam hati.
Baca Juga: Lagi, Proyek Drainase Jalan Diponegoro Dikeluhkan: Dulu Makan Korban, Kini Muncul Bau Menyengat
Belum sempat berhenti membatin soal kondisi saluran yang dipenuhi dedaunan, dalam kurun setengah menit perjalanan, dia malah menemukan kondisi saluran tanpa grill atau penutup lubang. Kesimpulan suuzonnya pun langsung terlintas. Grill yang terbuat dari besi tebal itu pasti dicuri orang. Dan sialnya, oleh pemerintah daerah dibiarkan begitu saja, sehingga lubang saluran tampak menganga.
Kepada wartawan koran ini dia bercerita, bahwa kondisi saluran drainase tanpa penutup sangat membahayakan pengguna jalan.
‘’Sudah dipenuhi sisa endapan lumpur dan sampah, kondisi lubang saluran drainase yang dibiarkan menganga bisa menjadi pemicu kecelakaan. Apalagi malam hari, khususnya kendaraan roda dua. Ketika tidak hafal dengan kondisi jalan dan terlalu menepi, lubang sedalam kurang lebih 35 centimeter itu bisa memakan korban,’’ ujarnya.
Dari pengamatannya tersebut, dia mengatakan bahwa yang patut di- highlight adalah kondisi saluran yang tidak terawat: dipenuhi endapan sisa lumpur, sampah, hingga penutup lubang saluran yang hilang entah ke mana.
‘’Bagi saya, percuma setiap tahun membongkar trotoar dan memperbaiki saluran, tapi setelah itu tidak dirawat secara rutin,’’ katanya.
Setelah melihat sejumlah titik saluran drainase yang dipenuhi sampah dan dedaunan tersebut, Wafa menduga, kondisi di dalam drainase juga tidak normal: banyak sampah dan sisa endapan lumpur. Apalagi, terang dia, setelah direvitalisasi dan ditumpuk menggunakan u-ditch, kini kondisi gorong-gorong semakin menyempit.
‘’Semestinya, kalau tujuannya normalisasi saluran, maka tidak perlu ditumpuk u-ditch, tapi cukup dikeruk. Kalaupun ada yang ambrol, ya cukup diperbaiki gitu saja. Tapi kalau dibongkar semua, lalu ditumpuk menggunakan u-ditch, ya otomatis tambah sempit. Menurut saya, ini kan aneh,’’ ungkapnya.
Pada persoalan genangan saban musim penghujan, lanjut Wafa, semestinya bisa diatasi dengan melakukan perawatan dan pembersihan saluran secara rutin.
‘’Minimal dicek setiap seminggu sekali. Titik-titik yang dipenuhi sampah harus segera dibersihkan,’’ katanya.
Wafa menambahkan, ketika hal sederhana yang dianggap sepele itu bisa dilakukan secara rutin, dia meyakini, problem genenangan saban hujan lebat akan terselesaikan. Tapi sebaliknya, ketika kerja-kerja sederhana ini disepelekan, maka selama itu pula persoalan genangan bakal selalu ada setiap musim penghujan tiba.
‘’Setidaknya, ketika saluran rutin dibersihkan, maka fungsi drainase untuk mengalirkan air bisa berfungsi normal,’’ ujarnya. Karena itu, tegas Wafa, penting bagi pemerintah daerah untuk memperhatikan hal-hal sederhana tersebut.
‘’Tapi tidak kalah penting juga adalah kepedulian masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan,’’ tandasnya.(tok)
Tiga Personel Atasi Puluhan Kilometer Drainase
Membersihkan drainase secara rutin saban minggu sekali adalah pekerjaan yang sederhana dan ringan (baca: tidak butuh proses berpikir yang berat). Namun, bagi Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRPRKP) Tuban, membersihkan drainase secara rutin membutuhkan tenaga ekstra. Salah satu alasannya, adalah minimnya personel.
Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPRPRKP Tuban Aizah Tis Inawati mengaku hanya memiliki tiga personel yang ditugaskan untuk melakukan pembersihan saluran secara rutin. Sementara panjang drainase di Kabupaten Tuban mencapai puluhan kilo meter.
Meski demikian, dia menegaskan bahwa pembersihan saluran sudah rutin dilakukan, bahkan setiap hari. ‘’Untuk pembersihan sampah di saluran rutin tiap hari dari Senin sampai Sabtu,’’ katanya.
Hanya saja terang dia, karena personel yang dimiliki terbatas, sehingga proses pembersihan dilakukan secara bertahap dan pindah-pindah. Artinya, tidak setiap hari di lokasi yang sama.
‘’Harapan kami, untuk tenaga kebersihan penyapu jalan bisa bersinergi untuk membantu (membersihkan saluran juga, red), mengingat personil kami hanya tiga orang,’’ ujarnya.
Lebih lanjut, Aiz mengatakan, untuk mengoptimalkan tugas pembersihan saluran tersebut, pihaknya sudah berupaya mengusulkan tambahan personel. Namun, sampai saat ini belum di-ACC.
‘’Dulu kita punya tujuh personel, karena diambil empat, dipindah ke Satpol PP sehingga tinggal tiga,’’ ungkapnya. (tok)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Radar Tuban