Kekeringan Parah Terjang Tuban: 13 Desa di 7 Kecamatan Masuk Kategori Kering Kritis

Andreyan (An) • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:25 WIB
Kekeringan ekstrem melanda belasan desa di Tuban, termasuk Penambangan Semanding dan Ngandong Grabagan. BPBD prioritaskan bantuan air bersih. (Andreyan/Radar Tuban)
Kekeringan ekstrem melanda belasan desa di Tuban, termasuk Penambangan Semanding dan Ngandong Grabagan. BPBD prioritaskan bantuan air bersih. (Andreyan/Radar Tuban)

RADARTUBAN – Kemarau panjang mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Tuban. Kekeringan meluas dan membuat warga di sejumlah desa mulai mengandalkan bantuan distribusi air bersih dari pemerintah.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, per Jumat (28/8), sebanyak 13 desa yang tersebar pada tujuh kecamatan masuk kategori K3 atau kering kritis.

Dalam pemetaan BPBD, wilayah yang masuk kategori tersebut ditandai dengan warna merah.

Baca Juga: Musim Penghujan di Tuban Mundur, Kekeringan Diprediksi Semakin Parah

Kategori K3 menunjukkan ketersediaan air bersih sudah sangat tidak mencukupi kebutuhan dasar masyarakat sehari-hari. Karena itu, wilayah tersebut menjadi prioritas utama dalam penyaluran bantuan air bersih.

Sebanyak 13 desa yang masuk kategori kering kritis tersebut, antara lain, di Desa Ngandong (434 KK) dan Desa Grabagan (78 KK) Kecamatan Grabagan.

Berikutnya Desa Sugihwaras (91 KK), Kecamatan Parengan; Desa Sendang (719 KK) dan Desa Sidoharjo (masih dihitung), Kecamatan Senori; Desa Latsari (345 KK) Kecamatan Bancar; Desa Penambangan (525 KK) Kecamatan Semanding; Desa Sumurgung (462 KK) Kecamatan Montong; serta empat desa lain di Kecamatan Jatirogo.

Meliputi Desa Sadang (882 warga), Desa Bader (288 warga), Desa Wotsotgo (282 warga, dan Desa Jombok (231 warga).

Kepala Pelaksana BPBD Tuban Sudarmaji mengatakan, kondisi kekeringan di wilayah Tuban terus dipantau untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat segera terpenuhi.

Meski BPBD telah memetakan wilayah terdampak, kata Sudarmaji, status K3 tidak berarti seluruh warga di 13 desa tersebut mengalami krisis air bersih.

“Masih ada di sejumlah desa yang sumurnya masih keluar sumber air, warga mengandalkan sumber air tersebut,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Menurut Sudarmaji, BPBD Tuban setiap hari mengerahkan tiga armada truk tangki untuk mendistribusikan air bersih ke sejumlah desa terdampak.

“Penyaluran air bersih mengacu pada data warga yang terdampak, kalau di rata-rata per desa menerima distribusi 2 rit,” beber dia.

Sudarmaji mengatakan, Kabupaten Tuban saat ini telah memasuki puncak musim kemarau. Namun, masuknya periode puncak kemarau tidak berarti musim hujan akan segera tiba.

Berdasarkan informasi iklim dasarian dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, curah hujan pada dasarian II Agustus 2026 di Jawa Timur secara umum diprediksi berada pada kriteria rendah dengan peluang probabilistik lebih dari 90 persen.

Baca Juga: Meski Masih Kategori Normal, BMKG Ungkap Wilayah Tuban Paling Rawan Kekeringan

Sementara itu, berdasarkan peta monitoring hari tanpa hujan (HTH), mayoritas wilayah kecamatan di Kabupaten Tuban berada dalam kategori “Sangat Panjang (31-60 hari)” hingga “Kekeringan Ekstrem (>60 hari)”.

Mantan kepala Dinas PRKP Tuban itu mengatakan, musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Nino.

“Kemarau belum berakhir, masyarakat diimbau hemat dalam menggunakan air di tengah pasokannya yang mulai menipis,” tandasnya. (an/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban kekeringan air bersih jatirogo Grabagan