Pohon Tua Jadi Tumbal Revitalisasi Drainase, Tuban Kehilangan Fungsi Resapan

Ahmad Atho’illah • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 15:38 WIB
Revitalisasi drainase Jalan Diponegoro Tuban berdampak pada penebangan puluhan pohon tua yang memiliki fungsi ekologis dan resapan air. (Ahmad Atho
Revitalisasi drainase Jalan Diponegoro Tuban berdampak pada penebangan puluhan pohon tua yang memiliki fungsi ekologis dan resapan air. (Ahmad Atho'illah/Radar Tuban)

RADARTUBAN - Di Indonesia, pohon belum dipandang sebagai aset. Sebaliknya, keberadaannya sering kali dianggap menjadi penghambat proyek pemerintah.

Hampir di semua daerah, termasuk di Tuban, ketika ada proyek pelebaran jalan atau revitalisasi drainase, pohon-pohon penghijauan di badan jalan langsung ditebang.

Lain Indonesia, lain di Jepang. Di negara yang pernah menjajah Indonesia ini, pohon dianggap sebagai aset yang harus dilindungi. Termasuk pohon-pohon penghijauan di setiap sisi jalan.

Ketika ada proyek pelebaran jalan atau revitalisasi trotoar, keberadaan pohon yang dianggap sebagai penghalang tidak langsung ditebang. Jika posisinya tidak bisa dihindari, maka solusinya dipindah hidup-hidup bersama akarnya, lalu ditanam ulang di tempat lain yang dianggap lebih aman. 

Baca Juga: Pohon Sono Ditebang, Warga Jalan Diponegoro: Parkir Lebih Leluasa, tapi Ada yang Hilang

Bagi pemerintah Jepang, pohon adalah aset. Apalagi pohon penghijauan. Keberadaannya dihitung sebagai bagian dari kota itu sendiri. Bukan penghalang proyek. Ribet, mahal, dan membutuhkan waktu lebih lama.

Sudah pasti. Namun, itulah prinsip. Kecepatan proyek bukan solusi satu-satunya pembangunan. Lebih penting dari itu semua adalah dampak jangka panjang: hidup layak dan nyaman untuk anak-cucu di masa mendatang.

Di Tuban, baru-baru ini, puluhan pohon penghijauan di sepanjang Jalan Diponegoro kembali menjadi “tumbal” proyek revitalisasi drainase.

Karena posisinya dianggap mengganggu dan menghalangi proyek, pohon-pohon angsana berusia puluhan tahun itu langsung ditebang. Dijugil menggunakan alat berat hingga ke akar-akarnya. Dipotong-potong, lalu dikandangkan.

Jauh sebelum proyek senilai Rp 5,6 miliar itu menyasar drainase di Jalan Diponegoro di sisi barat. Di titik yang sama, tahun lalu, proyek drainase di sisi timur, juga menyebabkan puluhan pohon penghijauan di tebang.

Di titik lain, pohon-pohon besar di beberapa titik drainase yang direvitalisasi, juga bernasib sama: ditebang—dibersihkan hingga ke akar-akarnya.

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (PUPRPRKP) Tuban Aizah Tis Inawati mengamini bahwa penebangan pohon penghijauan di sepanjang sisi jalan trotoar memang dilematis.

Namun, hal itu terpaksa dilakukan karena tidak memungkinkan untuk dihindari. ‘’Kalau tidak ditebang, u-ditch-nya (cetakan beton gorong-gorong) tidak bisa dipasang,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Disampaikan Aiz—sapaan akrabnya, pohon yang ditebang rata-rata karena akarnya sudah—menutupi saluran, sehingga terpaksa harus ditebang dan dicabut hingga ke akar-akarnya.

Kenapa bukan salurannya yang dibelokan? ‘’Lokasi sudah mepet, sehingga tidak memungkinkan, atau pas di titik u-ditch,’’ jawabnya.

Baca Juga: Dorong Ekonomi Kerakyatan, Kredit UMKM BRI Tembus Rp 1.235 Triliun

Lebih lanjut, Aiz menyadari bahwa penebangan pohon penghijauan yang telah berusia puluhan tahun itu sangat disayangkan.

Namun, sekalipun disayangkan, keputusan itu tidak bisa dihindari. Apalagi, tegas dia, kondisi akarnya juga merusak saluran.

‘’Juga mengganggu dinding rumah warga. Info yang saya terima dari lapangan, warga sekitar pohon besar yang ditebang juga banyak yang seneng,’’ katanya.

Praktis, jika solusi pohon yang dianggap mengganggu proyek revitalisasi drainase adalah ditebang, maka cepat atau lambat, satu persatu pohon penghijauan berusia tua di sepanjang badan jalan protokol Tuban akan tinggal kenangan.

Jika tahun ini menyasar pohon-pohon tua di sepanjang Jalan Diponegoro, tahun depan sangat mungkin menyasar titik-titik yang lain. (tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
proyek jepang Indonesia pohon